
DICABUTNYA larangan mengemudi kendaraan bagi kaum perempuan di Arab Saudi sejak 24 Juni lalu dimanfaatkan oleh sebagian kaum hawa remaja di negeri itu untuk menyalurkan hasrat mereka memacu adrenalin dengan ngebut.
Tidak banyak memang, kaum perempuan di negeri serambi Islam itu terutama emak-emak atau yang merasa bukan remaja lagi mengemudikan kendaraan sendiri, karena situasi di jalanan yang cukup “keras” , membuat sebagian mereka memilih menggunakan pengemudi, kerabat pria atau naik taksi.
Selain ketidaktertiban di jalanan diwarnai saling serobot dan adu mulut dengan pengendara lain, polisi lalu-lintas Arab Saudi juga enggan untuk menangani insiden-insiden ringan, kecuali kasus kecelakaan lalu lintas yang menimbulkan korban.
Selain mengemudi di jalanan, obsesi remaja perempuan memacu adrenalin saat ini juga bisa dilakukan dengan ngebut di taman-taman milik pribadi.
Penulis buku Joyriding in Riyadh, Pascal Menoret mengungkapkan obsesi untuk ngebut di kalangan remaja Arab Saudi yang semula merupakan simbul pria sejati sudah sejak lama didambakan oleh kaum remaja di negara itu, termasuk perempuan.
Di Riyadh, sejumlah kalangan remaja perempuan, dari kalangan elite tentunya, mendatangi ruang-ruang pamer kendaraan sport mewah seperti Chevrolet Camaro atau Ford Mustang yang dibandrol diatas Rp1,3 milyar itu.
Sejumlah perempuan Arab Saudi juga terinspirasi oleh Aseel al-Hamad, perempuan pertama di negeri itu sebagai anggota Federasi Motor Nasional Arab Saudi yang mengemudikan kendaraan Formula 1 Perancis Juni lalu, menandai pencabutan larangan mengemudi bagi perempuan Arab, juni lalu.
Lebih dari itu, euforia diawali kebebasan perempuan mengemudi juga tercermin dari sejumlah remaja perempuan mengenakan jins dan T-shirt Harley Davidson mengikuti kursus mengemudikan kendaraan beroda dua di Riyadh, suatu yang tabu dilakukan sebelumnya di negara yang menjunjung nilai-nilai konservatif itu.
Dalam soal izin mengemudi bagi perempuan, memang terjadi perubahan drastis, tetapi tidak di bidang politik, tercermin dari penangkapan 11 aktivitas HAM termasuk delapan perempuan baru-baru ini yang menuai aksi boikot Kanada yang mendukung mereka.
Di suatu negara atau dunia sekali pun tidak ada yang bisa dipastikan, kecuali perubahan itu sendiri, dan jika itu terjadi sulit akan kembali. (AFP/ns)




