AKHIR Nopember lalu terbetik berita di suratkabar, warga Banyumas protes ke Pemda atas hancurnya jalan provinsi Bandung – Yogyakarta. Caranya, sejumlah pohon pisang ditanam di sepanjang jalan. Protes model “batang pisang” ini banyak dilakukan di berbagai daerah. Mestinya para pejabat Pemda harus malu dengan komunitas “Nyah Nyoh” dari Sleman, DI Yogyakarta. Para anak muda ini, tanpa menunggu tindakan Dinas Pekerjaan Umum (DPU), seminggu sekali bergotongroyong menambal jalan rusak dengan dana patungan dari kantong masing-masing.
Di Irian Barat atau Papua sekarang, harga bensin sampai Rp 50.000,- seliter dan semen Rp1,5 juta persak, akibat infrastruktur yang belum memadai. Tapi setelah Presiden Jokowi mulai membangun berbagai jalan raya di sana, harga bensin dan semen bisa ditekan. Harga bensin bisa mendekati kota-kota di Jawa, sekitar Rp 7.000,- perliter. Sedangkan semen turun drastis menjadi berkisar antara Rp 80.000,- hingga Rp 65.000,-
Di Pulau Jawa dan Sumatera, yang punya jaringan jalan raya lebih lengkap sejak jaman Belanda, mestinya para pejabat Dinas PU-nya malu, jika menyia-nyiakan prasarana umum yang sudah lama ada tersebut. Namun yang terjadi, justru banyak oknum DPU yang tidak punya malu. Di Tebo (Jambi), Klungkung (Bali), Pesawaran (Lampung), Bitung (Sulut), Barru (Sulsel); sejumlah pejabatnya jadi urusan Kejaksaan gara-gara makan aspal. Ini namanya orang Bina Marga tapi harus dibina mentalnya.
Ada kisah orang buta diajak jalan-jalan Surabaya – Bandung lewat jalan darat. Sepanjang jalan kendaraan sering kena lobang. Tapi ketika mendadak laju mobil tenang dan lancar, dia nyeletuk, “Wah, ini pasti sudah sampai daerah Yogyakarta.” Dua jam kemudian, kembali dia nyeletuk, “Lha kalau ini sudah sampai daerah Purworejo.” Lho, kok tahu? Katanya, “Sepanjang Pulau Jawa, jalan-jalannya terkenal mulus memang hanya DI Yogyakarta.”
Sebagai kota budaya dan pariwisata, DIY memang luar biasa. Dari jalan kelas I (provinsi), kelas II (kota) sampai jalan kelas kambing, semua nampak mulus lengkap dengan marka-marka jalannya yang indah. Bahkan sampai pelosok kampung pun jalan-jalannya sudah beraspal. Tak tahulah, apakah pejabat Dinas PU-nya terlalu jujur ndlujur, atau Gubernur DIY menganggarkan untuk Dinas PU sangat berlebih dalam APBD-nya.
Namun demikian masih juga “kecolongan”, di sana sini ada juga jalan yang bopeng, sehingga turunlah komunitas “Nyah Nyoh”. Dengan anggota atau relawan usia 30-50 tahunan, setiap Rabu malam mereka bergerak menambal jalan-jalan berlobang di Yogyakarta, khususnya daerah Sleman. Mereka pakai dana patungan dari kantong sendiri untuk beli semen, pasir dan koral. Meski tak standar DPU, tapi lumayanlah, bisa menyelamtan nyawa orang dari kecelakaan. Pemprov DIY pun terbantu, sehingga Gubernur Sultan HB X sampai menyumbangkan sebuah mobil bak terbuka untuk komunitas tersebut.
Di kota-kota lain, adakah komunitas seperti di Yogyakarta itu? Sepertinya belum ada, karena sudah menjadi sifat manusia pada umumnya: jarang orang mau nombok, apa lagi jadi anggota Pasukan Berani Tekor. Ketika melihat jalan berlobang pada dibiarkan saja, dengan alasan itu tanggungjawab DPU. Tapi gilaran melihat ada “lobang” berjalan-jalan di tengah malam, pada berebut untuk mencari kehangatan malam.
Paling biadab adalah, ketika ada jalan berlobang di sebuah daerah, sering justru dipelihara dan dimanfaatkan kelompok preman kampung yang benar-benar kampungan. Dengan ember kecil mereka mencegat para pengendara untuk minta sumbangan serela dan seikhlasnya. Tapi sampai berminggu-minggu tak kunjung diperbaiki, karena menunggu “panitia” untung dulu. (Cantrik Metaram).





