
KEPUTUSAN Organisasi Pengekspor Minyak (OPEC) memangkas produksi minyak mentah guna mengantisipasi anjloknya harga emas hitam itu akibat turunnya permintaan, bakal menambah beban perekonomian global.
Arab Saudi, Rusia dan negara-negara anggota OPEC dan Rusia dalam pertemuan APEC + di Wina, Rabu (5/10) memangkas produksi minyak mereka dua juta barrel per hari atau dua persen dari total produksi 100-juta barrel mulai November tahun ini.
Jumlah pemangkasan produksi itu adalah yang terbesar sejak hal sama yang diberlakukan sejak pandemi Covid-19 2020 lalu.
Saat jumpa pers seusai pertemuan OPEC + (Rusia) tersebut, Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman mengemukakan, kesepakatan menurunkan produksi didasarkan adanya tanda-tanda terjadinya penurunan ekonom global yang akan melemahkan permintaan.
“Dari pada menyesal belakangan, kami memilih upaya pencegahannya, “ tutur Pangeran Abdulaziz.
Sementara Menteri Energi Uni Emirat Arab Suhail Al-Mazroui yang juga hadir dalam pertemuan itu menampik tudingan politisasi oleh OPEC di balik keputusannya menurunkan produksi (maksudnya, berkolusi dengan Rusia-red).
“Keputusan itu berdasarkan kajian teknis. Kami tidak akan menggunakan OPEC sebagai organisasi politik, “ tandasnya.
Keputusan penurunan produksi tersebut dilakukan di tengah penurunan harga minyak dari 120 dollar AS per barel dalam tiga bulan terakhir ini menjadi 90 dollar.
Amerika Serikat dan Uni Eropa yang sedang berencana mematok harga minyak Rusia di bawah harga saat ini sebagai “hukuman” atas invasi negara beruang merah itu terhadap Ukraina, tentu saja gusar atas keputusan OPEC plus Rusia tersebut.
Presiden AS Joe Biden, menurut Penasehat Keamanan Nasional Jake Sullivan, sangat kecewa atas keputusan OPEC tersebut karena penurunan miliaran dollar devisa Rusia yang diharapkan dari kebijakan AS dan UE tidak terwujud.
Saat pemangkasan produksi OPEC diumumkan (5/10), harga minyak Brent yang menjadi patokan utama int’,l naik 1,7 persen, ditutup pada 93,37 dollar AS per barrel, sedangkan sejumlah Indeks Harga Saham Gabungan (ISHG) di bursa AS dan Eropa turun 1,1 persen.
Di tengah bayangan resesi global akibat terganggunya rantai pasok bahan pangan sebagai dampak konflik Rusia dan Ukraina serta terjadinya perubahan musim, pemangkasan produksi minyak oleh OPEC dan Rusia dikhawatirkan memperdalam resesi
(AP/AFP/Reuters/ns).




