Pager penyebar maut di Lebanon

Teror pager (penyeranta) dan walkie-talkie yang meledak serentak di Lebanon 18 dan 19 Sept. menewaskan 37 orang dan melukai 3.000 orang terutama anggota milisi Hizbullah. Israel diduga dalang di belakangnya.

WARGA Lebanon dihantui ketakutan akibat meledaknya alat penerima pager (penyeranta) dan walki-talkie dua hari berturut-turut (17 dan 18 Sept.) yang menewaskan 37 orang dan melukai 3.000-an korban, khususnya anggota milisi Hizbullah.

Akibat panik, seperti dilaporkan Lina Ismail pada AFP (20/9),  sebagian warga memilih membuang alat pendukung perangkat komunikasi milik mereka yang dikhawatirkan bisa meledak seperti power bank, bahkan ada yang memilih tidur dengan ponsel di ruang terpisah.

Lina sendiri tinggal di Kota Baalbek, bagian timur Lebanon, yang menjadi tempat terjadinya beberapa ledakan pager dan walkie-talkie. “Apa yang terjadi dalam dua hari terakhir ini sangat menakutkan. Sangat menakutkan,” katanya.

Karena takut, Lina menyebut, keluarganya juga telah membongkar inverter, yakni sebuah komponen di dalam sistem panel surya dan mematikan perangkatnya.

Dalam insiden ledakan pager dan walkie-talkie yang terekam kamera, tampak orang-orang terluka dan berlumuran darah. Mereka tergeletak di jalan atau terjerembab ke lantai setelah ledakan di toko-toko.

Para dokter di Lebanon mengatakan kepada AFP tentang cedera mata yang mengerikan dan amputasi jari yang disebabkan oleh ledakan tersebut, sementara Pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah buka suara terkait ledakan pager dan walkie-talkie di Lebanon dalam dua hari terakhir ini.

“Di tengah perang anda menyaksikan jet-jet tempur melancarkan serangan, tetapi tidak ada yang lebih menakutkan bagi seseorang yang diledakkan saat  sedang berjalan atau berada di dalam rumah mereka sendiri, ” ungkap Nasrallah.

Dia mengaku sempat mendengar tiga ledakan di dekat rumahnya, dua ledakan di dalam rumah yang terpisah dan satu ledakan di dalam mobil.

Gelombang ledakan tersebut telah mengguncang saraf warga Lebanon yang telah berjuang untuk mengatasi dampak dari lebih dari 11 bulan baku tembak lintas batas antara Hizbullah dan Israel terkait perang Gaza.

Gugah trauma warga

Sejumlah warga mengatakan kepada AFP, perang telah menggugah kembali trauma konflik masa lalu di mana orang orang panik setelah mendengar dentuman sonik (sonic bomb) pesawat-pesawat Israel atau ledakan keras lainnya yang bahkan tidak terkait perang.

George Bahnam, pemilik toko roti kecil mengatakan, saudara perempuannya berhenti menggunakan iPhone-setelah ada desas-desus, perangkat komunikasi itu termasuk salah satu yang bisa diretas untuk diledakan.

“Kita hidup dalam tekanan yang konstan. Hal sekecil apa pun yang terjadi bisa berdampak negatif pada kami,” katanya, saat mengobrol dengan teman-temannya dan ia mengaku tertekan menyaksikan  anak-anak muda yang terluka dan tergeletak di tanah.

“Kami terguncang oleh tekanan ekonomi… dan hari ini kami tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan,” kata Bahnam, takut perang bakal meluas.

Para pengguna media sosial telah berbagi postingan dengan gambar-gambar perangkat elektronik yang mereka khawatirkan akan meledak jika diretas.

Para pakar keamanan, dan sumber-sumber yang dekat dengan Hizbullah mengatakan, ledakan-ledakan itu agaknya berasal dari bahan peledak yang ditanam dalam perangkat yang dipegang anggota mereka.

Hizbullah sendiri telah menyalahkan Israel atas insiden ledakan pager di Lebanon. Sedangkan Israel belum memberikan komentar.

Pihak berwenang Lebanon melarang penumpang yang melakukan perjalanan dari bandara Beirut untuk membawa perangkat pager atau walkie-talkie ke dalam pesawat.

Ghadir Eid (25) mengatakan, ia sempat berfikir  untuk menyimpan ponselnya, namun lalu berubah pikiran setelah melakukan pencarian di internet.

“Di rumah, kami berhenti menggunakan panel surya karena kami tidak merasa aman dengan baterainya,” kata Eid pada AFP. Di Lebanon, tenaga surya membantu mengatasi pemadaman listrik rutin.

Sejumlah warga, termasuk Eid telah memutuskan untuk menghindari tempat-tempat ramai atau lingkungan di mana Hizbullah berkuasa karena orang-orang jelas tidak tahu “siapa yang bisa meledak”.

Sekolah-sekolah dan universitas di Lebanon sempat ditutup pada Rabu setelah ledakan-ledakan awal, namun dibuka kembali, Kamis, walau orang-orang masih diliputi rasa waswas.

Sebuah ban truk yang meledak menyebabkan kepanikan di jalan karena banyak orang khawatir akan ada lebih banyak bom yang meledak.

“Ledakan-ledakan itu merupakan bagian dari rasa cemas yang  menumpuk dan menciptakan rasa tak aman  terutama karena kita tidak tahu apakah perang akan terjadi,” kata seorang pejalan kaki perempuan kepada AFP.

Penyelidikan awal pihak berwenang Lebanon terhadap perangkat komunikasi yang meledak di Lebanon pekan ini menemukan perangkat telah ditanami bahan peledak sebelumnya. Hal itu diungkap oleh Misi PBB di Lebanon dalam surat yang ditujukan kepada DK PBB.

“Penyelidikan awal menunjukkan perangkat yang disasar  telah dipasangi booby-trapped (perangkap dikombinasikan dengan bahan peledak) secara profesional sebelum tiba di Lebanon,” kata surat yang dibaca oleh AFP.

Konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah hanya menyisakan trauma dan ketakutan di kalangan penduduk negeri-negeri di sana. (AFP/ns)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here