
TAMPILNYA partai-partai ekstrim kanan berhaluan neofasis yang anti pendatang dalam pemilu legislatif Itali yang digelar di Itali, Minggu (4/3), akan menentukan arah pemerintah negara asal spageti itu.
Meski proses penghitungan suara masih berlangsung, kelompok populis yang diwadahi dalam Partai Gerakan Lima Bintang pimpinan komedian, Beppe Grillo diprediksi akan meraih 32 persen suara, sehingga hanya memerlukan delapan persen lagi untuk menjadi penguasa.
Semula diprediksikan koalisi tengah kanan pimpinan mantan PM Silvio Berlusconi (2008 – 2011) bakal mengumpulkan 35.5 persen suara, namun ia tidak bisa mencalonkan diri lagi untuk menduduki kursi PM karena pernah terjerat kasus manipulasi pajak.
Di pihak lain, raihan suara kelompok tengah-kiri yang dipimpin mantan PM Matteo Renzi (2014- 2016), jauh dari harapan, karena hingga berita ini diturunkan hanya mampu meraup 23 persen suara walau masih tinggi dari yang diproyeksikan, sekitar 19 persen.
Renzi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai orang nomor satu Itali pada 2016 setelah gagal menggelar referendum konstitusi yang penuh kontroversi.
Sejumlah analis memprediksi, koalisi tengah kanan yang dikendalikan Berlusconi di bawah bendera Partai Forza Italia dengan Partai Liga Utara Eurosceptic pimpinan Matteo Salvini yang anti imigran dan Partai Persaudaraan Italia (Fratelli d’Italia) pimpinan Georgia Meloni yang berhaluan neofasis bakal memperoleh kemenangan absolut.
Pemilu legislatif Itali diamati secara sekasama oleh negara-negara anggota Uni Eropa karena mengkhawatirkan terwujudnya skenario “mimpi buruk” yakni bergabungnya kelompok ekstrim kanan dan neofasis.
Menguatnya sentimen antiimigran di kalangan rakyat Itali antara lain akibat memburuknya perekonomian negara itu, sehingga Partai Demokratik yang bersikap lebih moderat dijauhi oleh rakyat.
Perhitungan final, Senin (5/3), kubu koalisi tengah kanan meraih suara terbanyak (37 persen) yakni gabungan antara Forza Italia pimpinan Berlusconi (14 persen), Partai Liga pimpinan Salvini (18 persen) dan Persaudaraan Italia pimpinan Meloni dengan lima persen suara.
Posisi kedua diraih oleh Partai Gerakan Lima Bintang pimpinan Luigi Di Maio (31 persen), sedangkan Partai Demokratik hanya mendudukui posisi ketiga dengan 22 persen suara.
Itali akan menghadapi ketidakpastian politik yang panjang setelah hasil pemilu legislatif Minggu lalu menunjukkan, tak satu partai pun memenangkan suara secara absolut.
Eropa dibayangi paham populis setelah kemenangan Sebastian Kurz dalam pemilu Austria, namun hal itu kemudian terbantahkan dengan kemenangan tokoh-tokoh moderat seperti Emmanuel Macron di Perancis dan Mark Rutte di Belanda.
Semoga paham populis yang bercirikan fanatisme sempit, hanya riak-riak kecil dan hendaknya juga tidak terjadi di Indonesia yang akan menggelar pilkada serentak diikuti 171 daerah Juni nanti.
(AP/Reuters/AFP/NS)




