
PERJUANGAN bangsa Palestina bakal mengalami masa-masa sulit setelah Uni Emirat Arab (UEA) meresmikan normalisasi hubungannya dengan Israel, karena dicemaskan kesepakatan itu bakal diikuti negara-negara Arab lainnya.
Di kalangan negara-negara Arab sendiri yang semula berada dalam satu front menghadapi musuh bersama mereka, Israel, kesepakatan itu juga membuat posisi mereka terbelah.
Sebagai kompensasi kesepakatan yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump di Washington DC (13/8), Israel menghentikan langkah untuk mendeklarasikan kedaulatannya atas tanah Palestina di Tepi Barat yang didudukinya.
Pengamat Palestina Universitas Indonesia Yon Machmudi menilai, posisi Palestina makin terjepit akibat normalisasi hubungan antara UEA dan Israel, sebab negara-negara Arab lain berpotensi mengikutinya.
“Jika hubungan UEA dan Israel semakin mesra, boleh jadi isu Palestina-Israel dianggap sebagai urusan internal masing-masing,” kata Yon seraya menambahkan, hal itu tercermin dari lemahnya respons negara-negara Arab terhadap rencana Israel menganeksasi Tepi Barat.
Bahrain dan Oman menyambut baik normalisasi hubungan UEA-Israel, sedangkan Mesir sudah meneken kesepakatan damai di Camp David, AS, 1979 dengan kompensasi pengembalian wilayah Sinai dan Jordania  pada 1994 dengan pengembalian wilayah Araba pasca perang 1967.
Namun otoritas Palestina resmi mengecam keputusan UEA berdamai dengan Israel walau salah sat pasalnya memuat keputusan Israel untuk menangguhkan rencana aneksasi wilayah Palestina di Tepi Barat yang didudukinya.
Pihak Palestina menganggap langkah UEA telah menghancurkan inisiatif perdamaian Arab, resolusi KTT Arab dan Islam serta legitimasi int’l serta bentuk agresi terhadap rakyat dan pengabaian hak-hak Palestina, terutama terhadap Yerusalem dan kemerdekaannya.
Palestina juga menuntut UEA untuk segera menarik diri dari kesepakatan tercela tersebut karena dalih untuk mencegah aneksasi Tepi Barat digunakan hanya sebagai kedok.
Hubungan UEA dan Israel
Di pihak lain, UAE dan Israel  secara diam-diam agar tidak melukai rakyat Palestina dan kubu negara-negara arab yang pendukungnya, sebenarnya sudah menjalin hubungan rahasia sejak tahun 2000-an.
UEA, salah satu negara petro dolar, dalam dalam Visi Ekonomi Abu Dhabi 2030 berupaya mengurangi ketergantungannya pada migas dengan membangun ekonomi berbasis teknologi dan pasar uang sehingga agaknya perlu menggaet Israel sebagai mitranya.
Sebaliknya selain kalkulasi ekonomi, Israel yang memiliki banyak musuh, kesepakatan ini tentunya sebagai capaian diplomasi yang signifikan dan diharapkan diikuti negara-negara Arab lainnya.
PM Israel Benyamin Netanyahu menyampaikan terima kasih pada negara-negara Arab seperti Mesir, Oman dan Bahrain yang mendukung kesepakatan itu, juga mitra utamanya, AS.
Dubes UEA untuk AS, Youssef Al Otaiba menilai, kesepakatan itu merupakan “kemenangan” diplomasi di wilayah Teluk, sedangkan menurut Putra Mahkota Abu Dhabi, Pangeran Moh. bin Zayed, hal itu  telah menghentikan rencana Israel mencaplok wilayah Palestina.
Sedangkan Mendagri UEA Anwar Gargash menilai,  kesepakatan negaranya dengan Israel ikut meredakan “bom waktu” rencana aneksasi Israel di Tepi Barat yang mengancam solusi dua negara atas konflik Israel-Palestina.
Presiden Mesir Abdel Fattah El Sisi, sekutu dekat rezim UAE yang berkoalisi dalam konflik di Yaman, memuji kesepakatan UAE dan Israel sebagai upaya untuk mewujudkan kemakmuran dan stabilitas kawasan.
Sebaliknya, Turki mengecam kesepakatan antara UEA dan Israel dan menganggapnya sebagai penghianatan atas perjuangan rakyat Palestina dan menilai, UEA tidak berwenang melakukan negosiasi dengan Israel tanpa persetujuan rakyat dan otoritas Palestina.
Hal senada disampaikan oleh pemerintah Iran yang menyebutkan, kesepakatan itu mengusik keamanan dan perdamaian di kawasan itu dan menilai, UAE telah ‘berbalik badan’ dari garis perjuangan bersama Palestina.
Realisasi normalisasi hubungan UEA – Israel ditandai penerbangan perdana maskapai penerbangan Israel El Al nomor penerbangan LY971 dari Tel Aviv ke Abu Dhabi, Senin (31/8) dan untuk pertama kalinya melintasi koridor udara Arab Saudi, salah satu negara kubu pendukung Palestina.
Di hari-hari ke depannya, rakyat Palestina agaknya akan memapak jalan yang makin terjal memperjuangkan nasibnya. (AP/AFP/Reuters/ns)




