Parents, Begini Cara Edukasi Anak agar Terhindar dari Pelecehan Seksual

Ilustrasi korban kekerasan seksual. (Foto: Pixabay/Favor)

JAKARTA – Anak-anak rentan menjadi korban pelecehan seksual, meskipun sering kali mereka tidak menyadarinya. Ini dapat berdampak buruk bagi cara berpikir, bertindak, dan perasaan mereka seumur hidup. Oleh karena itu, penting bagi orang tua dan orang-orang terdekat untuk mencegah hal ini dengan memberikan edukasi yang tepat.

Psikolog dari Universitas Gadjah Mada, Novi Poespita Candra, dan psikolog dari Universitas Indonesia, Rahmatika Septina Chairunnisa, memberikan beberapa tips kepada orang tua.

Mereka menekankan bahwa anak-anak belajar dari contoh yang mereka lihat dari orang dewasa, terutama ayah. Oleh karena itu, orang tua perlu memberikan teladan dalam menghormati orang lain dan menjaga tubuh.

“Anak-anak cenderung belajar dari apa yang dilakukan orang dewasa di sekitarnya. Maka, orang tua, terutama ayah, patut memberikan contoh nyata bagaimana menghormati orang lain, baik sesama jenis maupun lawan jenis,” kata Novi, dilansir dari Antara.

Selain memberi contoh, orang tua juga harus berdialog dengan anak agar mereka dapat berpikir kritis dan memahami pentingnya menjaga tubuh. Edukasi tentang literasi dan referensi terkait perlindungan tubuh juga penting untuk menghindarkan anak dari pelecehan.

“Mereka, baik laki-laki juga perempuan, perlu diajarkan mengenali dan menghargai tubuhnya sendiri, apalagi tubuh orang lai. Serta, dikenalkan dampak jangka panjang jika tidak menghargai orang lain,” sambungnya.

Rahmatika menambahkan bahwa hubungan positif antara orang tua dan anak sangat penting. Orang tua harus mendengarkan dan memahami kebutuhan anak, serta memberikan aturan yang jelas. Nilai-nilai keluarga, budaya, dan agama juga harus diajarkan sejak dini.

“Pentingnya penanaman nilai-nilai yang berlaku di keluarga, budaya, dan agama sejak dini pada anak. Orang tua perlu mencontohkan penerapan nilai-nilai tersebut dalam kesehariannya,” ujarnya.

Orang tua, lanjut Rahmatika, perlu mengajarkan anak tentang bagian tubuh mana yang harus dijaga, serta situasi tertentu di mana orang lain boleh menyentuh tubuh mereka, seperti saat pemeriksaan dokter.

“Ajarkan anak mengenai nama dan fungsi dari setiap bagian tubuhnya sehingga mereka dapat memahami kenapa tubuhnya harus dijaga, serta beritahu bagian mana saja yang boleh dan tidak boleh dilihat juga disentuh orang lain,” kata Rahmatika.

Penting juga untuk mengajarkan anak cara menolak atau memberikan izin jika ada yang ingin menyentuh tubuh mereka.

“(Namun), ajarkan anak cara untuk menolak atau memberikan izin ketika ada bagian tubuhnya yang dilihat atau disentuh orang lain,” kata Rahmatika.

Selain itu, orang tua sebaiknya tidak memaksa anak untuk menerima pelukan atau ciuman jika mereka merasa tidak nyaman, bahkan dari anggota keluarga. Membicarakan topik seksualitas seharusnya tidak dianggap tabu. Orang tua harus bisa menjelaskan dengan tenang dan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti.

“Ketika anak mulai penasaran dengan topik seksualitas, orang tua dapat merespons anak dengan tenang. Berikan penjelasan secara bertahap dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh mereka,” ujarnya.

Terakhir, Rahmatika menekankan pentingnya membangun rasa percaya diri pada anak, sehingga mereka tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan yang kurang sehat.

“Yang tidak kalah penting, tekankan pada anak bahwa mereka sangatlah berharga agar mereka dapat menumbuhkan rasa percaya diri, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal kurang sehat dari lingkungan sekitarnya,” pungkasnya.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here