JAKARTA – Dokter spesialis anak konsultan endokrinologi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof Aman Bhakti Pulungan menyatakan bahwa kasus diabetes melitus tipe 1 pada anak-anak mengalami peningkatan dalam satu dekade terakhir.
Prevalensinya meningkat hingga sekitar 700 kali. NamunĀ data yang dimiliki oleh Profesor Aman menunjukkan peningkatan sekitar 70 kali selama 10 tahun terakhir.
Penyebab dari meningkatnya kasus diabetes melitus tipe 1 ini diduga disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk patogen seperti virus, kontaminasi zat kimia, dan pengaruh perubahan lingkungan akibat pemanasan global.
“Salah satu patogen yang ditengarai memiliki potensi memicu kasus diabetes pada manusia adalah Enterovirus (Echovirus/EV),” katanya, dilansir dari Antara, Minggu (16/7/2023.
Beberapa jenis virus seperti Enterovirus, yang menyebabkan penyakit tangan, kaki, dan mulut (hand, foot, and mouth disease/HFMD), telah lama dicurigai sebagai pencetus diabetes.
Aman menyebutkan bahwa laporan dari Finlandia, yang memiliki jumlah kasus terbanyak Enterovirus pada anak-anak, memberikan informasi tentang hubungan antara virus dan diabetes melitus.
Selain itu, faktor lain yang dapat mempengaruhi diabetes tipe 1 pada anak-anak usia hingga 24 tahun adalah Endocrine Disruptor Chemical atau bahan kimia pengganggu endokrin. Sistem endokrin bisa terganggu oleh paparan zat kimia, polusi, dan dampak dari pemanasan global.
“Hal ini dapat menyebabkan berbagai gangguan pada tubuh, termasuk peningkatan pubertas dini, peningkatan risiko kanker, dan masalah kesehatan lainnya,” tuturnya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 7 Juli juga mengumumkan bahwa 26 bayi di beberapa negara Eropa terinfeksi Enterovirus, dan delapan di antaranya meninggal dunia akibat kegagalan organ dan sepsis.
Kasus infeksi Enterovirus dilaporkan dari Kroasia, Prancis, Italia, Spanyol, Swedia, dan Inggris, dengan Prancis melaporkan jumlah kematian terbanyak. Kasus Enterovirus-11 juga telah diidentifikasi sejak awal 2022, dengan setidaknya setengah dari 26 kasus dilaporkan sejak akhir musim semi 2023.
Profesor yang menjabat sebagai Project Lead Changing Diabetes in Children (CDiC) Indonesia ini menyoroti pentingnya memerhatikan faktor-faktor ini dalam mengatasi kasus diabetes melitus tipe 1 pada anak-anak.
Beberapa negara di seluruh dunia, termasuk China, kini mulai mengambil langkah-langkah untuk membatasi penggunaan bahan kimia yang memiliki potensi mengganggu kesehatan. China telah menyusun daftar produk berbahan dasar kimia yang tidak boleh digunakan kembali.
“Hal ini sebagai langkah preventif dalam menghadapi dampak buruk kesehatan yang dapat ditimbulkan oleh zat-zat berbahaya tersebut,” katanya.
Penelitian pada hewan di salah satu peternakan buaya di Amerika Serikat juga menunjukkan bukti adanya dampak kontaminasi zat tertentu pada habitat peternakan, yang berdampak pada penurunan reproduksi buaya.
Populasi buaya semakin berkurang karena minimnya jumlah telur yang berhasil menetas. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa penis buaya cenderung menjadi lebih kecil akibat kontaminasi zat kimia.
Aman mendorong otoritas di Indonesia untuk segera menyusun daftar Endocrine Disruptor Chemical dan mempublikasikannya sebagai langkah mencegah dampak buruk pada kesehatan manusia.
Endocrine Disruptor Chemical adalah zat-zat yang dapat mengganggu sistem endokrin dalam tubuh, yang berpotensi menyebabkan gangguan hormon dan masalah kesehatan lainnya.
“Faktor lingkungan seperti perubahan cuaca dan tingkat karbon dioksida (CO2) juga dapat berpengaruh terhadap kesehatan manusia,” ujarnya.
Diabetes tipe 1 disebabkan oleh gangguan endokrin, di mana tubuh tidak dapat memproduksi hormon insulin dengan optimal. Hal ini menyebabkan glukosa dalam darah tidak dapat masuk ke dalam sel tubuh, sehingga tidak dapat diolah menjadi energi atau disimpan oleh tubuh.
Prevalensi diabetes melitus tipe 1 pada anak di Indonesia dilaporkan sekitar 1.249 pasien dalam periode 2017-2019. Namun, jumlah sebenarnya kemungkinan lebih tinggi karena kemungkinan kesalahan diagnosis atau tidak terdiagnosis.
Hal ini menyebabkan meningkatnya jumlah anak dengan diabetes tipe 1 yang mengalami komplikasi serius seperti ketoasidosis diabetikum (DKA).





