WASHINGTON – Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mendesak Israel untuk segera menghentikan serangan militer besar-besaran di wilayah pendudukan Tepi Barat setelah 11 warga Palestina tewas dan beberapa lainnya terluka.
Guterres mengecam keras hilangnya nyawa, termasuk anak-anak, dan menyerukan agar operasi tersebut segera dihentikan.
Dia juga menekankan pentingnya akses bagi mereka yang terluka untuk mendapatkan perawatan medis, serta memastikan bahwa pekerja kemanusiaan dapat mencapai semua yang membutuhkan bantuan.
Guterres meminta Israel untuk mematuhi kewajibannya di bawah hukum humaniter internasional dengan melindungi warga sipil dan memastikan keselamatan mereka.
Dia juga mendesak pasukan keamanan untuk menahan diri sebisa mungkin dan hanya menggunakan kekuatan mematikan saat benar-benar diperlukan untuk melindungi nyawa.
Juru bicara Sekjen PBB, Stephane Dujarric, menambahkan bahwa perkembangan yang berbahaya ini memperburuk situasi yang sudah tegang di Tepi Barat dan semakin melemahkan Otoritas Palestina.
“Pada akhirnya, hanya dengan mengakhiri pendudukan dan kembali ke proses politik yang bermakna yang akan mewujudkan solusi dua negara, kekerasan dapat dihentikan. PBB akan terus bekerja sama dengan semua pihak untuk mencapai tujuan ini, guna mengupayakan de-eskalasi situasi saat ini dan mendorong stabilitas di kawasan tersebut,” tuturnya.
Menurut harian Israel, Yedioth Ahronoth, Israel telah mengerahkan dua brigade militer, helikopter, drone, dan buldoser dalam serangan di Tepi Barat.
Serangan militer terbesar Israel di Tepi Barat terjadi pada tahun 2002 selama Intifada Kedua, yang melibatkan penyerbuan di bagian utara wilayah yang diduduki, termasuk di provinsi Nablus, Tulkarem, Jenin, dan Tubas.
Dalam keputusan penting Mahkamah Internasional pada 19 Juli, dinyatakan bahwa pendudukan Israel yang telah berlangsung selama puluhan tahun di tanah Palestina adalah ilegal dan menuntut pengosongan semua pemukiman di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.





