PRANCIS – Prancis mendesak rekan-rekannya di PBB untuk bertindak guna melakukan gencatan senjata kemanusiaan di Ghouta Timur Suriah dimana dalam waktu 48 jam 250 orang telah tewas akibat serangan udara yang tiada henti.
“Serangan sembarangan ini dengan sengaja menargetkan daerah yang dihuni dan infrastruktur sipil, termasuk medis. Ini merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional,” demikian sebuah pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Prancis.
Kementerian menambahkan pemboman tersebut terjadi karena “situasi kemanusiaan sudah kritis di Ghouta Timur. 400.000 warga sipil dikepung oleh tentara Bashar al-Assad, termasuk 750 orang yang menunggu evakuasi medis darurat, yang ditolak.”
“Tindakan ini adalah tanggung jawab rezim Suriah, tapi juga Rusia dan Iran yang merupakan pendukung utamanya dan siapa, berdasarkan kesepakatan Astana, telah menjamin gencatan senjata yang seharusnya berlaku untuk Ghouta.” tambah pernyataan tersebut.
“Prancis meminta semua mitranya di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mengambil tanggung jawab untuk akhirnya mencapai gencatan senjata kemanusiaan,” pungkas pernyataan tersebut.
Sumber dari Pertahanan Sipil, yang juga dikenal sebagai White Helmet, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa selama serangan rezim baru-baru ini terhadap wilayah sipil di Ghouta Timur, 88 orang tewas pada hari Senin dan 79 pada hari Selasa. Korban tewas diperkirakan akan meningkat dengan serangan yang masih berlanjut di beberapa daerah. Ghouta Timur berada dalam jaringan zona de-eskalasi – didukung oleh Turki, Rusia, dan Iran – di mana tindakan agresi dilarang. Namun demikian, rezim Suriah terus menargetkan bagian pemukiman kota tersebut, menewaskan sedikitnya 539 orang – dan melukai lebih dari 2.000 lainnya – sejak 29 Desember tahun lalu.
Sumber dari Pertahanan Sipil, yang juga dikenal sebagai White Helmet, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa selama serangan rezim baru-baru ini terhadap wilayah sipil di Ghouta Timur, 88 orang tewas pada hari Senin dan 79 pada hari Selasa. Korban tewas diperkirakan akan meningkat dengan serangan yang masih berlanjut di beberapa daerah. Ghouta Timur berada dalam jaringan zona de-eskalasi – didukung oleh Turki, Rusia, dan Iran – di mana tindakan agresi dilarang. Namun demikian, rezim Suriah terus menargetkan bagian pemukiman kota tersebut, menewaskan sedikitnya 539 orang – dan melukai lebih dari 2.000 lainnya – sejak 29 Desember tahun lalu.




