JENEWA – PBB mengecam rencana Israel untuk membangun permukiman Yahudi di kawasan pendudukan Tepi Barat dan hal tersebut dianggap sebagai tindakan sepihak dan menjadi hambatan bagi perdamaian dua negara tersebut.
Stephane Dujarric, juru bicara Sekjen PBB Antonio Guterres, mengatakan tidak ada Rencana B untuk solusi dua-negara.
“Dalam hal ini setiap keputusan sepihak dapat menjadi kendala untuk solusi dua negara dan itu adalah keprihatinan mendalam sekretaris jenderal,”. ungkapnya
“Ada kebutuhan kedua belah pihak untuk terlibat dalam negosiasi serius untuk mencapai tujuan dua negara, Israel dan Palestina, dua negara untuk dua rakyat.” lanjutnya, seperti dilansir BBC, Rabu (25/1/2017).
Diketahui hari Selasa (24/1/2017), Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan Israel akan membangun 2.500 rumah lagi di pemukiman Yahudi untuk menjawab kebutuhan perumahan.
Para pejabat Palestina mengatakan rencana itu merusak harapan perdamaian karena membangun di tanah yang diinginkan Palestina untuk negara mereka di masa depan.
Sekitar 500.000 orang Yahudi tinggal di sekitar 140 pemukiman yang dibangun sejak pendudukan Israel tahun 1967 di Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Pemukiman dianggap ilegal berdasarkan hukum internasional, walaupun Israel menyangkalnya.
Seratus dari rumah baru yang disetujui pembangunannya itu akan dibangun di Beit El, sebuah pemukiman di dekat Ramallah yang kabarnya menerima dana dari yayasan yang dikelola oleh keluarga Jared Kushner, yang merupakan penasihat senior sekaligus menantu Donald Trump.





