
PRESIDEN China Xi Jinping bertolak ke Rusia, Rabu (5/6) untuk menemui mitranya, Presiden Rusia Vladimir Putin dalam lawatan yang dinilai sebagai upaya merintis kemitraan strategis antarkedua negara.
“PDKT” yang dilakukan Xi tentu sangat bermakna karena dilakukan di tengah perang dagang antara Amerika Serikat dan China dan dari sisi keamanan terjadinya ketegangan antara AS dengan Iran.
China butuh mitra strategis di sektor ekonomi dan perdagangan untuk melawan AS, begitu pula Rusia yang diisolasi oleh Barat akibat aksi sepihak mencaplok wilayah Krimea dari Ukraina pada 2014 memerlukan dukungan mitra dari negara di bagian dunia lainnya.
Penasehat Kebijakan LN Presiden Putin, Yury Ushakov mengemukakan, China dan Rusia memiliki kepercayaan politik timbal balik yang solid dan saling mendukung menghadapi berbagai persoalan menyangkut kepentingan dan keprihatinan utama kedua pihak.
“Kunjungan Xi merupakan peristiwa penting bagi hubungan bilateral kedua negara, “ tutur Ushakov . Xi dan Putin akan menandatangani deklarasi baru tentang kemitraan global dan kerja sama strategis untuk memasuki era baru.
Di bidang militer, hubungan Rusia dan China cukup erat, tercermin a.l. dari keterlibatan 3.000 tentara China dalam latihan gabungan militer yang digelar Rusia dengan mengerahkan 300 ribu pasukannya pada September 2018.
Hubungan Soviet yang kemudian kemudian berganti dengan Rusia yang termasuk 16 negara sempalannya dengan China (RRC) mengalami pasang surut.
Soviet dan RRC, dua negara berpaham komunis terbesar di dunia, mengumumkan penandatanganan kerjasama pertahanan dan sejumlah isu strategis pada 15 Februari 1950. Salah satu poin utama kerjasama adalah kucuran dana bantuan Rusia pada China lebih dari Rp4 triliun.
Imbal baliknya, Soviet meminta RRC memberikan konsensi khusus untuk kembali membangun jaringan rel KA di kawasan Manchuria yang menghubungkan kota Dairen dan Port Arhur di pesisir Selat Bering.
Selebihnya, kesepakatan di antara kedua negara itu adalah penguatan kerja sama pertahanan, guna mengantisipasi agresi Jepang di kemudian hari.
Mulai Memburuk
Hubungan Soviet – RRC mulai memburuk di awal 1950-an, lalu pertentangan antara keduanya semakin tajam pada tahun ’63-an dan memuncak dengan pecahnya perang perbatasan terkait sengketa atas P. Damansky atau Zhenbao dalam bahasa China, pada 1969.
Sebelumnya, pada awal 1960-an, Ketua Mao melontarkan tudingan langsung pada Soviet yang menurut dia “telah lama bersekutu diam-diam dengan AS untuk melawan revolusi rakyat China”.
“Putus kongsi” antara kedua “beruang” mulai terasa di era Perang Dingin sekitar 1956, namun Partai Komunis Tiongkok baru secara terbuka pada akhir dekade ’60-an menyebut Soviet sebagai “revisionist” yang mencla-mencle atau tidak tegas terhadap Barat. Konfrontasi berlanjut hingga akhir dekade 1980-an, ditandai runtuhnya Uni Soviet yang juga berakibat perpecahan gerakan komunis internasional.
Dari sisi ideologi, beberapa filsuf politik seperti seperti Martin Cohen dari Inggeris melihat upaya Maoisme untuk menggabungkan Konfusianisme dan Sosialisme.
Maoisme dianggap sebagai adaptasi Marxisme-Leninisme-Stalinisme yang memiliki hampir semua fitur sama seperti Stalinisme namun berbeda dengan Marxisme-Leninisme di era lebih awal yang menganggap kaum proletar di perkotaan sebagai penggerak revolusi.
Sebaliknya, Mao justru memusatkan perhatian pada kaum buruh-tani di pedesaan sebagai kekuatan revolusioner utama dipimpin oleh kaum proletariat dan pengawalnya, Partai Komunis Tiongkok.
Kini kedua beruang mulai saling merapat lagi, walau terlalu dini untuk memprediksi seberapa jauh dampaknya mampu mengubah peta geopolitik global yang saat in terpolarisasi pada tiga raksasa: AS, Rusia dan China. (Rossiyskaya Gazeta/berbagai sumber/NS)



