Pelaku Mutilasi Khashoggi, Tuai Hasil Perbuatannya

Alm. Jamal Khashoggi, wartawan the Washington Post asal Arab Saudi yang dimutilasi di Gedung Konjen Arab Saudi di Istanbul (2 Okt. 2018), Lima pelakunya dihukum mati, tiga dibui 24 tahun.

ARWAH wartawan “the Washington Post” asal Arab Saudi, Jamal Khashoggi (59) mudah-mudahan sudah beristirahat tenang di sana, sementara para pelaku mutilasi baru menuai buah perbuatan keji mereka.

Dari seluruhnya 11 terdakwa, Pengadilan Arab Saudi, Senin lalu (13/12) memvonis lima pelaku yang terlibat langsung pembunuhan keji itu dengan hukuman mati, tiga hukuman kurungan 24 tahun dan tiga lagi dinyataan bebas.

Dua tokoh yang semula disebut-sebut berkontribusi dalam konspirasi tersebut yakni Wakil Kepala Intelijen Mayor Jenderal Ahmed Asiri dan mantan tangan kanan Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), Saud al-Qahtani dibebaskan karena dinilai tidak cukup bukti, begitu pula dengan Konjen Saudi di Istanbul, Turki, Mohammed al-Otaibi di lokasi mutilasi terhadap Khashoggi.

CIA sebelumnya menyimpulkan, pembunuhan Kashoggi merupakan perintah Putera Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS) yang merasa terusik atas tulisan-tulisan korban yang dianggap menguak aib keluarga kerajaan.

Sidang yang sudah digelar sembilan kali sejak Januari 2019 juga sangat tertutup hingga tidak banyak informasi yang bisa digali, sedang nama-nama para terdakwa dirahasiakan.

Khashoggi raib saat berkunjung ke kantor Konsulat Saudi di Istanbul guna mengurus surat pernikahan pada 2 Okt.2018. Pacarnya, wanita Turki, Hatice Cengiz yang menunggu di luar gedung tidak pernah melihat Khashoggi keluar.

Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap kemudian, Khashoggi dimutilasi dan jasadnya yang belum ditemukan hingga kini diduga dimusnahkan dengan cairan kimia.

Para pejabat Turki meyakini Khashoggi telah dibunuh walau pihak Saudi menyangkalnya, bahkan Presiden AS Donald Trump mengutuk pembunuhan itu walau juga tidak mengenakan sanksi apa-apa pada Saudi yang merupakan negara mitra utamanya.

Terungkap
Aksi mutilasi terhadap Khashoggi diungkapkan pengacara asal Inggeris Helena Kennedy dari cuplikan rekaman video percakapan para pelaku saat menerima jasad korban yang menyebutnya sebagai “hewan kurban”.

“Bagian pinggangnya apa perlu dimasukkan ke kantong?, “ demikan antara lain cuplikan pembicaraan yang terekam.

Kennedy menceritakan, salah satu anggota tim jagal yakni dokter forensik patologis Salah al-Tubaigy sempat mengatakan, ia belum pernah memotong jasad yang baru meninggal. “Tukang jagal sapi saja, akan menggantung lebih dulu hewan yang hendak dipotong,” ujar Tubaigy dalam rekaman itu.

Menurut Kennedy, ia bisa mendengar suara Khashoggi yang awalnya begitu percaya diri, namun kemudian berubah, agaknya karena merasa hidupnya terancam.

Rekaman itu juga mengungkap, Tubaigy mengatakan pengalaman sebelumnya yang hanya berhadapan dengan cadaver, (melakukan otopsi-red) diiringi musik, rokok dan kopi. Saat terekam pertanyaan: “Apa hewan kurban itu sudah tiba?, “ terdengar derai tawa mereka, agaknya saat itu “ritual” mutilasi dimulai.

Rusak Reputasi Saudi
Kasus pembunuhan Khashoggi ikut merusak reputasi Pangeran Mohammed bin Salman yang sebelumnya dikenal sebagai pemimpin reformis dan pembaharu Arab Saudi yang awalnya dipuji-puji Barat sebagai sosok pemimpin reformis dan visioner.

Rekaman video berdurasi 45 menit tersebut diserahkan oleh pemerintah Turki kepada PBB untuk menginvestigasi kasus pembunuhan Khashoggi, sementara Presiden Turki Tayyip Erdogan sebelumnya juga pernah berjanji akan menyelidiki kasus itu sampai tuntas.

Penyelidik Khusus Komisioner PBB Agnes Callamard yang juga mendengar rekaman saat Khashoggi bertanya apakah regu pembunuh bakal memberi suntikan dan dijawab; “Ya,” oleh pelaku.

Hasil investigasi setebal 100 halaman Callamard juga mengungkapkan bukti-bukti kredibel ketersangkutan Pangeran MBS dan sejumlah pejabat dalam kasus tersebut.

”Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, akhirnya tercium juga” ungkap pepatah lama, dan pemerintah Saudi yang awalnya berupaya menutup-nutupi kasus itu, tidak bisa mengelak lagi setelah jejak-jejak digital membuktikannya. (AFP/BBC/Reuters/ns)

Advertisement