KABUL (KBK) Pemakaman wartawan mantan wartawan Xinhua, Zabihullah Tamana, 38 tahun, dikenal sebagai “Zabi” berlangsung haru.
Ia dan David Gilkey, fotografer dari National Public Radio berbasis AS di tewas di selatan Provinsi Helmand, Afghanistan terkana serangan Taliban, Ahad (5/6/2016) ketika melaksanakan tugas liputan bepergian bersama konvoi militer Afghanistan.
“Oh, Zabi, Anda telah pergi selamanya dan meninggalkan kami sendirian di sini,” kata seorang pelayat menangis di komplek pemakaman Shuhada-e-Salehen di tepi timur kota Kabul, Selasa sore (7/6/2016).
Jenazah Zabi dishalatkan di sebuah masjid pusat kota di Kabul, ibukota Afghanistan. Setelah itu jenazahnya kembali dibawa ke apartemennya. Ratusan pelayat datang ke upacara pemakaman itu.
“Zabi adalah contoh moral, seorang teman dengan kesopanan, seorang kerabat dengan kejujuran dan ayah yang baik dan satu-satunya pencari nafkah keluarga,” salah satu kerabatnya bergumam.
“Zabi adalah bagian dari kru di Helmand untuk melaporkan kondisi keamanan dan militer, serta HAM kepada dunia,” kata pelayat lain.
Sebagian besar pelayat pada upacara tersebut terlihat sedih karena kehilangan Zabi. Anak tertua Zabi, Mohammad Mustafa terlihat tergar, kuat dan berani menghadapi wartawan dan mengungkapkan perasaannya sebagai wakil keluarga.
“Jumat pagi, ayah saya mencium saya dan berjanji untuk membawakan saya beberapa mainan sepulang dinas,” ungkap Mustafa, yang masih berumur 10 tahun.
Dengan gelar sarjana dari Fakultas Hukum dan Ilmu Politik, Universitas Kabul, Zabi bergabung dengan Xinhua News Agency Biro Kabul pada tahun 2002, pertama sebagai penerjemah dari bahasa Farsi, Pashto dan Inggris, kemudian menjadi wartawan foto 2003-2010.
Setelah meninggalkan Xinhua, pria ambisius tersebut memilih berwiraswasta, selama beberapa tahun, tetapi karena situasi keamanan yang memburuk di negaranya kemudian ia kembali ke media menjadi freelancer sejak tahun 2014.
Zabi adalah ayah dari tiga anak-anak, anak bungsunya masih berumur 3 tahun dan anak sulungnya berusia 10 tahun. Ia adalah tulang punggung keluarga dengan enam anggota, termasuk istri dan ibunya.
“Meskipun kami tidak menyarankan dia untuk pergi liputan ke Helmand, Zabi bersikeras melakukannya Jumat itu. Sebelum pergi, dia mengatakan kepada kami akan menjadi misi liputan itu sebagai yang terakhir untuk Helmand dan dia berniat kembali ke rumah pada hari Selasa,” ungkap kakak ipar Zabi, Mohammad Yusuf kepada Xinhua.
“Sayangnya hari Selasa kembali ke rumah sudah dalam peti mati, yang dimakamkan di sini pada hari yang sama.”
Sambil menyeka air matanya, Yusuf berkata pelan: “Zabi adalah simbol kemanusiaan, moralitas dan ia tidak pernah menciptakan masalah dengan anggota keluarga dan kerabat, dan itulah sebabnya sulit untuk melupakan orang seperti itu.”
Pembunuhan brutal terhadap Zabi dan rekannya telah mendapat kecaman dari dalam dan luar negeri.
Presiden Afghanistan Mohammad Ashraf Ghani telah mengutuk pembunuhan wartawan Afghanistan Zabihullah Tamana dan fotografer Amerika David Gilkey itu.
“Sejarah akan mengingat dua wartawan sebagai pejuang kebebasan informasi dan berekspresi. Dan orang-orang yang melakukan kejahatan keji akan dikenang sebagai kekuatan kebencian,” kata Presiden menyesalkan kejadian itu.
“Dengan tanpa pandang bulu menargetkan wartawan, Taliban menunjukkan kekejaman mereka terhadap warga sipil yang tidak berbahaya. Tamana dan Gilkey, yang berada di garis depan untuk melaporkan tentang kebenaran, dirinya menjadi korban kebrutalan Taliban,” kata Presiden Ghani dalam laporan yang dirilis oleh kantornya .
Sekretaris AS Negeri John Kerry juga mengutuk serangan yang menargetkan jurnalis yang membunuh Zabi dan rekan Amerika-nya di Helmand pada hari Ahad.





