
KEJATUHAN Kabul, ibukota Afghanistan ke tangan kaum fundamentalis Islam Taliban, cepat atau lambat sepeninggal penarikan pasukan Amerika Serikat dan sekutunya secara bertahap sejak Mei dan dijadwalkan berakhir sampai 31 Agustus nanti sudah diprediksi sebelumnya.
Selain berdisiplin rendah, 300.000 personil pasukan pemerintah Afghanistan (Afghanistan National Army – ANA) dinilai lemah semangat tempurnya, apalagi jika bertugas di wilayah-wilayah etnis berbeda yang tidak memiliki ikatan dengan mereka.
Padahal, dari segi pendanaan, tak kurang dari satu triliun dollar AS (sekitar Rp14.000 triliun) dikucurkan oleh AS untuk melengkapi peralatan dan persenjataan mereka, namun kabarnya sebagian dikorup oleh para komandannya.
Di kalangan militer beredar istilah “tentara hantu”, karena personil yang tercatat jauh lebih banyak dari jumlah sebenarnya, sebagian fiktif, hanya ada di daftar demi mendapatkan anggaran, tetapi orangnya tidak ada.
Dari sisi alutsista, ANA juga cukup mumpuni, mengoperasikan ratusan tank-tank tempur utama T-54, T-55 dan T-62, tank ringan BMP-1 dan BMP-2, dan kendaraan lapis baja BTR-60, BTR-70 dan BTR-80 (semua peninggalan Uni Soviet).
AU Afghanistan walau tidak memiliki pesawat tempur canggih, diperkuat dengan lebih 100 unit pesawat-pesawat serang ringan seperti Delfin L-29 (eks-Cekoslowakia), A-29 Super Tucano (eks-Brazil), sejumlah pesawat angkut Antonov-12 serta helikopter serang Mi-35 dan MI-24 (semua eks-Rusia atau Soviet).
Sebaliknya, Taliban diperkirakan beranggotakan 60.000 personil bersenjatakan campuran, sebagian peninggalan Uni Soviet yang mereka rebut dari tangan musuh atau dari pembelian, baik di pasar gelap mau pun resmi, namun jumlahnya bisa berlipat ganda, mengingat jika angin kemenangan berembus, lasykar-lasykar lain bakal ikut bergabung.
Sementara pasukan AS yang pernah mencapai 100.000 personil saat menggusur pemerintah rezim Taliban di Afghanistan pasca peristiwa 11 September 2011, tinggal 2.500 orang saja sejak awal 2021 untuk menjaga bandara Kabul dan pangkalan udara Bagram serta beberapa posisi strategis.
Intelijen AS sendiri memprediksi, Taliban akan mengabil alih Kabul dalam 30 hari mendatang, namun secara tak terduga, mereka melancarkan serangan kilat dalam 10 hari terakhir ini setelah suskes merebut kota Jalalabad di Provinsi Nangarhar.
Jatuhnya Jalalabad, kota utama dekat perbatasan Pakistan, membuat posisi pasukan rezim pemerintah terkunci, hanya bisa bertahan di lima dari 34 provinsi di negara itu, sementara Presiden Ashraf Ghani dilaporkan sudah kabur ke Tajikistan.
Transfer Kekuasan Secara Damai
Jubir Taliban, Zabihullah Mujahid mengemukakan, pasukannya kini sudah bersiaga di pintu-pintu masuk ke Kabul dan menunggu pemindahan kekuasaan dengan pejabat pemerintahan Ghani secara damai.
Bahkan pada hari yang sama, tampak sejumlah petinggi Taliban berbincang-bincang santai di Istana Kepresidenan di Kabul yang sudah ditinggalkan oleh Presiden Ashraf Ghani.
Di langit kota Kabul, helikopter angkut berat AS Chinook CH-47 tampak mundar-mandir mengangkuti staf mereka dan juga staf lokal ke bandara Kabul untuk selanjutnya dievakuasi dengan pesawat angkut raksasa C-17 Globe Master.
Terjadi kepanikan di Bandara Kabul saat ribuan warga nekat berebut menaiki pesawat yang akan membawa mereka keluar dari ibukota Afghanistan tersebut, bahkan sejumlah orang tewas terhempas ke bumi karena nekat berusaha bergelantungan di roda pesawat yang mengangkasa.
AS selain mengirim 3.000 tentara tambahan untuk mengamankan evakuasi para stafnya juga menyiapkan pesawat pembom B-52 Stratfortress dan pesawat meriam (Gunship) AC-130 untuk membantu pasukan pemerintah Afghan menahan gerak laju Taliban.
Namun begitu cepatnya gerak Taliban merangsek ke Kabul, membuat posisi pasukan kawan dan lawan tidak jelas lagi sehingga menyulitkan pesawat-pesawat tersebut memberikan dukungan tembakan atau pengeboman dari udara.
Bagi Indonesia, jatuhnya Kabul pada kelompok Taliban yang pernah berkuasa di Afghanistan dari 1996 sampai 2001, bisa menjadi pembelajaran, tidak bisa menganggap enteng kiprah kelompok-kelompok garis keras yang para pengikutnya memiliki militansi tinggi, siap mati.
Kebangkitan kelompok-kelompok garis keras mengatasnamakan agama semakin mengancam tatanan demokrasi yang akan dibangun Indonesia sampai kepulangan HRS (10 Nov. 2020) yang lalu menjadi anti klimaksnya setelah pemerintah dan TNI mulai bersikap tegas.
Masalahnya, jika dilakukan pembiaran, mayoritas rakyat yang rendah literasinya dengan mudah terprovokasi, dihasut untuk mendukung mereka, dan selanjutnya, jika gelombang massa bisa diciptakan, sulit bagi aparat keamanan mencegahnya.
Jika situasi seperti itu tercipta, teori domino yang berlaku, dimana satu per satu orang atau kelompok yang menghadang akan tumbang, keseimbangan atau ekuilibrium pun akan condong pada mereka.
Sebelum telat, pencerahan dan literacy politik dan pemahaman agama harus terus dibangun, karena hanya dengan itu publik tidak mudah dihasut untuk berpihak pada kelompok tertentu, aksi-aksi yang memecah belah bangsa dan negara atau yang bahkan tanpa disadari merugikan diri sendiri. (AP/AFP/Reuters/ns)



