JAKARTA – Dompet Dhuafa kembali menggelar Youth For Peace Camp selama 5 (lima) hari berturut-turut, pada 17-21 Januari, di Ruang Bamboo, Green Bamboo Residence Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan.
Dengan mengusung tema “CollaborAction Without Boundaries”, acara ini akhirnya digelar setelah tertunda selama 2 (dua) tahun karena pandemi.
Sama halnya sejak pertama Youth For Peace digelar pada 2013 dan tahun-tahun setelahnya, Youth For Peace Camp mengumpulkan pemuda-pemuda dari berbagai dunia.
Arif Rahmadi Haryono selaku General Manager Aliansi Strategis dan Advokasi Dompet Dhuafa menyebutkan, forum ini digelar oleh Dompet Dhuafa untuk meningkatkan peran pemuda dalam menyebarkan perdamaian dunia melalui program-program proyek sosial yang nantinya akan digelar di lingkungan atau negaranya masing-masing.
“Youth For Peace Camp kembali hadir untuk meningkatkan kesadaran pemuda terhadap pentingnya peran mereka dalam membangun perdamaian dunia. Kami tidak memiliki isu khusus pada forum kali ini. Yang menentukan pembahasan isu adalah masing-masing peserta. Semua isu-isu besar di masing-masing negara para peserta, akan dibahas di forum ini,” papar Arif kepada para peserta, seperti dikutip dari dompetdhuafa.org.
Di hari kedua, Dosen Hubungan Internasional Universitas Indonesia Shofwan Al Banna menjelaskan kepada para peserta bahwa aktivis kemanusiaan juga harus menjadi ilmuwan politik.
Menurutnya, banyak kasus emergensi secara bertahap menciptakan masalah ekonomi dan akan berdampak pada isu kemanusiaan.
Di hari selanjutnya, Dompet Dhuafa juga akan mencoba mengarahkan para peserta untuk membangun proyek-proyek sosial yang akan berdampak besar bagi para penerima manfaat. Di samping itu, proyek tersebut juga akan didesain supaya terus-menerus berkelanjutan.





