BRUSSEL – Kelompok International Crisis Group (ICG) yang bermarkas di Brussels, mendesak agar Bangladesh menghentikan rencana untuk mengembalikan pengungsi Rohingya ke Myanmar.
Dalam sebuah pernyataan berjudul “Bangladesh-Myanmar: Bahaya Pemulangan Paksa Rohingya”, kelompok itu mengkritik kesepakatan antara Myanmar dan Bangladesh untuk repatriasi 15 November atas lebih dari 2.000 pengungsi Rohingya.
“Myanmar dan Bangladesh harus menghentikan rencana tersebut dan malah bekerja untuk menciptakan kondisi yang kondusif untuk pengembalian yang aman dan bermartabat,” kata ICG.
Ia memperingatkan pemulangan paksa membawa risiko serius bagi keamanan dan stabilitas di kedua sisi perbatasan dan akan meningkatkan ketegangan di kamp-kamp serta mengarah ke konfrontasi antara pengungsi dan pasukan keamanan Bangladesh.
“Jika para pengungsi khawatir bahwa mereka akan dipaksa kembali ke Myanmar, mereka mungkin menjadi lebih putus asa untuk meninggalkan kamp-kamp dan mencoba melakukan perjalanan laut berbahaya melintasi Teluk Benggala ke Thailand, Malaysia, Indonesia atau negara lain,” bunyi pernyataan ICG, yang dipantau Anadolu.
“AS, Uni Eropa (UE), Australia, Kanada, dan lainnya juga harus menekan Bangladesh dan Myanmar untuk menghentikan pengembalian dan sebaliknya bekerja untuk menciptakan kondisi yang kondusif untuk repatriasi sukarela; partisipasi negara-negara tersebut pada KTT ASEAN 11-15 November di Singapura adalah kesempatan untuk melakukannya, “katanya.





