Pemulung Nggragas

JPO di Jl. Daan Mogot Cengkareng Jakbar. Sering menjadi langganan pencurian oleh alap-alap besi tua.

APA bedanya plat dan plate? Plat adalah logam tipis yang biasa disebut seng. Sedangkan plate adalah piring. Tapi belakangan, dua kosa kata itu ada “benang merah”-nya. Plat adalah barang berharga di mata kaum pemulung sehingga sering dicuri, sedangkan Plate adalah nama belakang politisi Nasdem yang ditangkap Kejaksaan Agung gara-gara terlibat pencurian uang negara Rp 8 triliun dalam proyek BTS. Ujung-ujungnya, plat dijual duitnya masuk kantong  pemulung nggragas (rakus), sedangkan Johnny G. Plate yang eks Menkominfo itu nantinya bakal masuk penjara.

Selama seminggu ini kalangan alap-alap barang bekas di Jakarta Barat dendam banget pada komoditas nonmigas yang namanya plat besi. Tak peduli barang itu sudah menjadi alas jembatan penyeberangan orang (JPO). Mereka tak peduli akan kesulitan masyarakat untuk melintasi jembatan di atas jalan raya itu. Mereka tak berfikir orang bisa jatuh bila memaksakan diri melewatinya.  Bodo amat dengan kepentingan publik, yang penting dikilokan bisa jadi duwik (uang).

Ini sama persis dengan otak alap-alap barang bekas ketika mencuri patung dada Pak Karbol alias dr. Abdulrachman Saleh di kompleks FKUI Salemba pada Februari 2010. Mereka tak peduli bahwa tokoh tersebut dokter yang pendiri RRI 11 September 1945, yang juga Pahlawan Nasional, petinggi TNI-AU yang gugur 29 Juli 1947 karena pesawatnya jatuh ditembak Belanda di Ngotho selatan Meguwo, Yogyakarta. Bagi para alap-alap barang bekas, patung dada dari perunggu beratnya sekian kilo, dikalikan harga besi tua waktu itu sekian. Akan dapat uang sekian ratus ribu, bisa dibagi rame-rame.

Alap-alap plat besi JPO di Jakarta Barat jalan otaknya juga seperti itu, dia sama-sama dungu sebagaimana Rocky Gerung. Apapun bentuk dan wujudnya, yang penting setelah dicungkit barangnya bisa jadi duit. Maka sejak seminggu lalu,  tepatnya 2 Agustus 2023 pencurian plat besi JPO terjadi berturut-turut. Yang pertama di JPO Jl. Daan Mogot, RW 013 Cengkareng Timur, kemudian disusul JPO Warung Gantung, Semanan, dan juga JPO Jl. Sahabat, Cengkareng. Paling menjengkelkan yang di JPO Daan Mogot itu, kata Ketua RT setempat, sebelumnya sudah 5 kali plat besi jembatan diembat.

Apakah pencuri plat besi itu para pemulung? Bisa jadi, sebab mereka ini paling rajin ngopeni besi bekas yang dianggapnya sudah tidak dipakai. Mereka siap membeli dari warga, tapi jika memungkinkan main ambil saja. Sebab mereka punya “hukum” yang tak pernah diratifikasi masyarakat bahwa: setiap barang yang berada di luar pekarangan adalah haknya pemulung. Bahkan mereka ini ada yang nekad, berada dalam pekarangan rumah pun diambil juga. Benar-benar oknum pemulung yang nggragas (rakus).

Jelas pemilik rumah bisa kesal, manakala barang tersebut masih dibutuhkan. Maka di sejumlah tempat banyak Ketua RT yang terpaksa melakukan “politik identitas” dengan memasang pengumuman di mulut jalan masuk kompleks: pemulung dilarang masuk! Kasihan sebenarnya, orang mengais rejeki kok dihambat. Tapi bagaimana lagi, para pemulung itu suka berbuat nekad. Beberapa tahun lalu gril saluran air depan rumah warga Kapling DKI Cipayung Jaktim banyak yang hilang tengah malam. Sejak itu banyak gril saluran yang dipasangi baut.

Besi-besi bekas ini memang merupakan komoditas nonmigas yang paling menarik bagi para pemulung. Harganya  sekarang ini menurut data di internet, perkilogramnya mencapai Rp 5.000,- Tapi para pemulung sendiri ketika menjual pada pengepul hanya Rp 4.000,- perkilogram. Padahal pengepul menjual ke perusahaan besi tua bisa sampai Rp 10.000,- sekilo. Tak mengherankan bahwa para pengepul yang kelihatannya rungsep di daerah operasionalnya, rumah pribadinya cukup mentereng.

Para pengepul ini punya “anak buah”cukup banyak, yang dari pagi sampai sore sore siap mencari barang bekas ke rumah penduduk. Kadang satu orang bisa masuk jalan lingkungan bisa sampai 2 kali dalam sehari. Penulis hampir setahun lalu pernah “ngeprank” seorang pemulung yang saya kenal akrab dengannya. “Bang, kalau sabar nanti akhir Oktober 2022 ini ada barang bekas cukup bagus. Mau nggak?” tanya penulis. Dia ganti bertanya, apa itu barang bekasnya? Saya jawab, “Bekas gubernur DKI….!” Kontan abang pemulung ngeloyor sambil mendorong gerobaknya, “Ah, Bapak bisa aja!” (Cantrik Metaram)

           

 

 

 

 

Advertisement