
INDONESIA secara resmi sudah beranjak dari pandemi Covid-19 ke status endemi pada 21 Juni lalu, namun faktanya kementerian kesehatan telah mengonfirmasi terdeteksinya subvarian Eris EG.5.1.
Jubir Kemenkes Mohammad Syahril (8/8) mengungkapkan, paling tidak sudah ada 12 kasus paparan Eris terkonfirmasi, namun ia minta masyarakat tidak terlalu mencemaskannya karena sejauh ini tidak terjadi lonjakan kasus dan gejalanya tidak berat atau tidak mematikan.
Namun demikian Syahril mengimbau agar masyarakat tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, sementara penggunaan masker tetap disarankan terutama yang sedang sakit, beraktivitas di lingkungan berisiko terjadinya penularan dan lansia.
Vaksinasi juga diharapkan tetap  dilengkapi karena masih efektif untuk melindungi diri dari risiko perburukan akibat terpapar Covid-19   terutama bagi kelompok rentan seperti kaum lansia, orang dengan komorbid, ibu hamil dan anak-anak.
Pencatatan harian paparan Covid-19 terakhir dilakukan BNPB Â pada 29 Juni menyusul peralihan status dari pandemi ke endemi dengan jumlah paparan 6.811.989 kasus, meninggal 161.871 orang dan sembuh 6.641.674 orang.
Subvarian Eris EG5.1 yang masuk kategori varian dalam pemantauan (VUM) oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) antara lain ditemukan di Inggeris  sampai 19 Juli lalu yakni satu dari 10 kasus Covid-19.
Sementara epidemiolog Griffith University, Australia Dicky Budiman menyebutkan, temuan subvarian Eris membuktikan bahwa virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 masih ada dan terus bermutasi , sementara rendahnya tingkat perburukan dan kematian menunjukkan vaksinasi masih efektif.
Tetap lakukan pola hidup bersih dan sehat serta gunakan masker terutama lansia dan bagi mereka yang memiliki penyakit komorbid.




