SEMUANYA memang berawal dari Begawan Druwasa yang tua-tua keladi, makin tua makin menjadi. Bayangkan, usia sudah menjelang 70 tahun tapi orientasinya masih ke soal selangkangan melulu. Melihat Dewi Kunthi putri Prabu Kunthiboja yang cantik nan seksi macam Syahrini, nafsunya langsung mengerucut. Diam-diam dia ke taman keputren negeri Mandura, mengadakan lobi-lobi asmara.
Awalnya sekedar kenalan dan ngobrol-ngobrol, pulangnya memberikan hadiah smartpone, yang menawarkan sejuta kecanggihan. Tak sekedar untuk berkomunikasi, tapi juga bisa bisa melihat aneka isi dunia lewat internet. Dengan alat itu pula Dewi Kunthi bisa memanggil dewa siapa saja dan kapan saja, tak peduli dia sedang RDP (Rapat Dengar Pendapat) dengan DPR. Pokoknya lebih canggih dari videocall.
“Tapi jangan sering-sering dipakai, boros pulsa paketannya ndhuk,” kata Begawan Druwasa.
“Bisa juga lihat situs porno?” potong Dewi Kunthi.
“Husy!”
Sejak itu Dewi Kunthi selalu asyik dengan smartpone-nya. Ketika salah pencet dalam mengoperasikan itu barang, mendadak hadir dewa kahyangan Betara Surya. Kunthi kaget sekali, di kamar keputren kok berduaan dengan lelaki muda nan tampan. Dia sama sekali tidak tahu bahwa yang berada di sampingnya adalah dewa elit yang terkenal mata keranjang.
“Kamu kok punya smartpone, dari mana ndhuk?” Betara Surya bertanya.
“Dari Begawan Druwasa, orangnya sudah tua tapi baik banget dia.”
“Lha dia itu ya ike ini.” Betara Surya buka kartu.
Dewi Kunti semakin terperanjat dan tidak enak. Malam-malam kok ada dewa di kamarnya, memangnya Kunthi cewek apaan? Karenanya Betara Surya dipersilakan pergi. Tapi dewa mata keranjang itu bilang bahwa dewa blusukan ke ngercapada, pulangnya harus entuk-entukan. Pantang hanya tangan hampa. Maka Kunthi pun lalu disergap. Lantaran langsung terkena pada sumbernya, putra Mandura tersebut klepeg-klepeg dan pasrah diperlakukan bak seorang istri.
Sembilan bulan berselang, perut Dewi Kunthi telah menggelembung karena ada unsur janin di dalamnya. Tentu saja Prabu Kunthiboja malu sekali, punya anak perempuan kok meteng nganggur. Lewat WA Kunthi dewa demen blusukan ke kamar perempuan itu dipanggil, diminta tanggungjawab atas kehamilan Kunthi.
“Saya tak mau tahu. Bagaimana caranya Kunthi harus tetap perawan meski sudah melahirkan. Kasihan suaminya kelak.” Ancam Prabu Kunthiboja.
“Itu mah kecil. Ada cara lebih canggih dari operasi Yulius Caesar.” Jawab Betara Surya sangat pede-nya.
Dewi Kunthi berhasil melahirkan lewat jalur telinga, sehingga bayi itu dinamakan Karno. Tapi problem belum juga selesai. Dia tak mau Kunthi yang katanya perawan kok punya anak. Karenanya bayi itu lalu dibuang ke kali Ciliwung. Sempat ada insan pers menciumnya. Tapi wartawannya diancam Prabu Kuntiboja dan diberi amplop tebal. Katanya, jika nekad disiarkan juga, korannya bisa dibreidel dan seluruh wartawan dan pemrednya masuk bui. Di Mandura, UU Pers No. 40 tahun 1999 tidak berlaku.
Bayi Karno yang hanyut dibawa aliran sungai nan hitam dan penuh sampah, ditemukan penjala ikan Ki Adirata yang nyambi profesi tukang sado di Kebayoran Lama. Kebetulan istri di rumah memang gabuk (mandul), sehingga bayi itu dirawat dan diberi nama Radeya. Nyi Adirata senang sekali, bayi itu selalu diberi susu SGM dan tak pernah lepas pakai Pampers, lambang ibu males……
“Aku ada filling, anak kita bakal jadi pejabat penting kelak.” Kata Ki Adirata kepada istrinya.
“Jadi apa saja kita syukuri. Jadi polisi, jadi anggota DPR, yang penting tidak korupsi.”
Ketika sudah remaja Radeya disekolahkan di SMK Panahan milik Pendita Durna di pertapan Sokalima. Meski uang pangkalnya semahal sekolah internasional, tetap ditempuhnya juga karena Ki Adirata ingin anaknya punya masa depan cerah, bukan hanya jadi tukang sado macam dirinya.
Radeya kebetulan di kelas yang sama bersama Pendawa Lima. Kelihatan sekali dia memang sangat berbakat memanah. Baru dengar suaranya saja, dipanah oleh Radeya pasti akan kena. Karena kemahiran dan kecerdasannya, Begawan Durna bermaksud menjadikan putra ki Adirata itu menjadi ketua kelas, membawahi semua murid pendita Durna di kelas yang sama.
Keluarga Pendawa Lima terutama Bratasena, tidak setuju atas penunjukan Radeya. Menurutnya, dari segi bibit bobot dan bebet sama sekali tidak memenuhi kriteria. Masa hanya seorang anak tukang sado menjadi pemimpin kelas mereka? Pendawa sangat merasa terhina. Masa SMK panahan akan menjelma menjadi SMK Badut?
“Jika Radeya dijadikan ketua kelas, saya bersama ke-4 saudaraku akan mundur dari SMK ini.” Ancam Bratasena dan Permadi yang bukan SH dan bukan paranormal.
“Tapi ini jatah dia, Bratasena. Aku jadi tidak enak,” penjelasan Durna tidak sampai selesai. Sebab dia sudah terima dana BOS pula dari Ki Adirata.
Radeya sedih sekali, kedududukannya sebagai calon ketua kelas ada penolakan dari keluarga Pendawa Lima. Makin sedih lagi, penolakan itu hanya karena statusnya yang cuma anak tukang sado, bukan keturunan raja sebagaimana Pendawa Lima. Padahal manusia lahir sebagai anak siapa, semuanya sudah ditakdirkan oleh Hyang Maha Agung, tanpa bisa memilih.
Dalam suasana genting seperti itu, Jaka Pitono yang suka dipanggil Jakapit dari kelas lain itu mendengar kegaduhan tersebut. Dia sangat kasihan pada Radeya, sehingga dia langsung masuk ke kalas Radeya. Kepada Begawan Durna dia menyatakan bahwa saat itu juga Radeya dijadikan sentana dalem kerajaan Ngastina.
“Sekarang Radeya statusnya bukan lagi anak tukang sado, tapi keluarga dekat penguasa Ngastina. Semoga ini tak menghambat pelantikan Radeya.” Kata Jakapit.
“Setuju, saya setuju. Bagaimana Bima, masih belum puas?” Pendita Durna berkata.
Ternyata kali ini Pendawa Lima tidak keberatan. Radeya sangat berterima kasih atas pertolongan Jakapit di waktu yang tepat. Dengan terpilihnya Radeya sebagai ketua kelas, pendadaran atau ujian memanah segera dimulai. Hasilnya Permadi dan Radeya memperoleh ranking tertinggi, sementara keluarga Kurawa banyak yang harus her (mengulang). Maklum setiap pelajaran memanah mereka banyak bolos, meniru DPR Indonesia. (Ki Guna Watoncarita)



