PENDAWA GAPLE

Patih Sengkuni membujuk Puntadewa untuk bermain judi pakai gaple.

BERKAT pinjaman Bank Dunia yang berbunga nol persen, keluarga Pendawa berhasil mendirikan negri Ngamarta. Meski gagal memiliki negri Ngastina akibat kecurangan trio Ngastina Destarata –Sengkuni – Duryudana, hal itu tak menjadikan keluarga Pandawa miskin dan layak terima bantuan asing dan Aseng. Dengan kemampuan Puntadewa beserta ke-4 adiknya mereka sukses menjadikan kerajaan baru Ngamarta maju pesat. Mengapa demikian, karena Pendawa Lima bekerja bebas dari semangat korupsi dan motonya: kerja, kerja, kerja!

Menyambut miladnya yang ke-10 negeri itu Pandawa mengundang keluarga Kurawa berikut jajarannnya untuk sekedar kumpul-kumpul mangan enak. Ternyata Prabu Duryudana dan Patih Sengkuni terkagum-kagum melihat kepiawian Pendawa mengelola Negara. Padahal Ngastina yang berdiri sejak Palasara, hasilnya gini-gini aja. Rakyat tetap hidup miskin, meski tiap tahun telah digelontorkan bereneka subsidi, dari BBM sampai beras. Kalau ada yang makmur, itu hanya para pejabatnya, bahkan ada yang kuasai lahan sampai ribuan hektar.

“Bagaimana dimas Puntadewa kok bisa sejahterakaan rakyat dalam waktu cepat?” Prabu Duryudana mencoba konsultasi.

“Kita menolong rakyat dengan iklas, tanpa pertimbangan elektabilitas, apa lagi pengin mbathi. Di sini pejabat nakal langsung kirim ke Nusakambangan,” kata Puntadewa sambil telunjuk tangan kanannya ke arah barat daya. Maksudnya letak Pulo Nusakambangan.

Prabu Duryudana melirik Sengkuni, dan wrangka dalem (patih) Ngastina itu merah padam mukanya. Tapi dengan cepat dia bisa menguasai keadaan. Sengkuni pura-pura tak dengar dan terus menyibukkan diri main WA-nan bersama relasinya.

Sepulang dari studi banding ke Ngamarta, Prabu Duryudana segera menggelar sidang kerajaan terbatas bidang ekonomi, bagaimana caranya mengejar ketinggalan. Selain Patih Sengkuni, hadir pula Pendita Durna dan Kartomarmo. Prabu Baladewa sengaja tak diajak, sebab meski mitra koalisi, dia suka bermain dua kaki. Dan itu telah dicapainya, karena Baladewa juga banyak menikmati fasilitas dari Prabu Duryudana, belum dari kubu Ngamarta.

“Kita juga harus pinjam Bank Dunia kalau begitu.” Saran Durna.

“Prosesnya terlalu lama Wakne Gondel. Mending instan saja, kita rebut negeri baru Indraprastha atau Ngamarta itu. Soal caranya, serahkan sama saya.” Potong Sengkuni paralel dengan karakternya.

Patih Ngastina itu tahu persis bahwa Puntadewa sewaktu muda sangat hobi main gaple. Dia ditantang untuk bermain melawan Ngastina dengan taruhan ringan-ringan sampai yang berat-berat. Klimaksnya negara pun dipertaruhkan, pasti Pendawa bisa ditekuknya dan Ngamarta dikuasawi serta merta. Ternyata semua setuju atas ide gila Sengkuni.

Menyambut HUT Ngastina yang ke 125, Prabu Duryudana mengadakan pesta besar-besaran, dengan mengundang pula Pendawa Lima beserta Drupadi istri Puntadewa. Mereka dijamu makan besar, setelah itu diajak main gaple. Tanpa mengetahui rencana jahat sebenarnya, Puntadewa meladeninya.

“Sekedar iseng saja anak prabu, daripad tidur sore-sore.” Bujuk Sengkuni.

“Sampai pagi juga gua ladeni, siapa takut.” Jawab Puntadewa pongah.

Demikianlah, Pendawa diwakili Puntadewa dan Ngastina yang diwakili Sengkuni keduaanya asyik bermain gaple. Awalnya hanya taruhan Rp 100.000,- sampai Rp 500.000,- Puntadewa menang terus. Lalu dibesarkan lagi menjadi Rp 1 juta hingga Rp 10 juta, masih dimenangkan Puntadewa. Ini memang siasat Sengkuni untuk menjerat lawan. Dia sengaja mengalahkan diri untuk tahap awal. Permainan gaple tahap telah selesai, sebagai selingan para hadirin dihibur dengan pentas Campur Sari oleh penyanyi Dimas Tedjo dengan lagu Mendem Wedokan. Habis itu dilanjutkan music dangdut dengan lagu Bang Toyib.

Permainan gaple tahap II dimulai kembali. Kali ini taruhannya bukan lagi uang tapi negara. Tanpa pikir panjang Puntadewa setuju saja. Sadewa yang terkenal waskita sudah mengingatkan kakaknya, tapi Sengkuni menegur bahwa bukan pemain tidak boleh ikut campur.

“Hei Sedewa, kamu anak kecil belum sunat jangan ikut campur!”

“Apa katamu? Nih rasakan!” kata Sedewa sengit.

Tiba-tiba saja Sadewa lemparkan segelas kopi panas ke muka Sengkuni. Patih Ngastina pun basah kuyup dengan aroma terabika. Prajurit Kurawa hendak bergerak, tapi dicegah oleh Sengkuni. Katanya, biar saja dirinya basah kuyup oleh kopi panas, yang penting Ngastina jaya!

Insiden bisa dihentikan. Permainan gaple diteruskan.  Bila sebelumnya Sengkuni mengalah, kini dia main benar-benar serius, dan Puntadewa pun terdesak dan kalah. Negeri Ngamarta pun sudah jadi milik Kurawa.

“Negeri Ngamarta sudah lepas, apa lagi yang mau kau taruhkan?”

“Paman Sengkuni jangan panik .Ini istriku jadi taruhan!”

Untuk kedua kalinya Pandawa kalah dan Drupadi yang cantik ala Vanessa Angel itu diambil alih oleh Kurawa. Dursosono yang sedari tadi nginceng perempuan itu, serta merta  membetotnya dari Puntadewa. Timbang yang asli Rp 80 juta, mending duplikatnya bisa gratis. Namanya barang taruhan yang sudah jadi milik Kurawa, Dursasono ingin menjajal sekalian, alias memperkosanya. Langsung saja kain penutup tubuh Drupadi ditariknya.  Namun belum sampai telanjang, sepertinya datang kain baru. Begitu terus menerus

Werkudara hendak maju menyelamatkan, tapi dewan juri melarangnya karena itu sebuah pelanggaran serius. Perkosaan memang tidak terjadi, tapi hari itu juga Pendawa sudah menjadi kere, dia harus masuk hutan 13 tahun lamanya. Mana kala muncul, hukuman dilipatgandakan. Ancur-ancuran deh. (Ki Guna Watoncarita)

 

 

 

 

 

Advertisement