LEBARAN tinggal seminggu lagi, harga sembako di Ngastina makin meroket. Di hari biasa daging sapi non skandal “Lahmul Bakorun” hanya seharga Rp 120.000,- selama puasa naik menjadi Rp 130.000,- Dan menjelang Idul Fitri 1438 H ini, harga daging itu sudah bertengger pada angka Rp 150.000,- Prabu Duryudana pusing tujuh keliling. Dia kasihan pada rakyat kecil, daging sapi semakin alot dicokot.
“Harga daging sapi menjelang Lebaran kok meroket, bisa dijelaskan Pak?” tanya wartawan pada Dursasono.
“Kalian ini memang aneh. Harga daging sapi segitu dimasalahkan. Harga daging artis 1 ons Rp 5 juta kalian diam saja.” Jawab Dursasono berkelit.
Siang itu Prabu Duryudana mengadakan sidang selapanan kerajaan, khusus bidang ekonomi. Hadir Adipati Karno yang bertanggungjawab akan kelancaran beras, Dursasono yang ngurusi perdagangan dalam negeri. Tokoh lain bisa disebut: Pendita Durna, Prabu Baladewa dan Resi Bisma. Patih Sengkuni off, karena sedang umrah.
“Saudara lihat internet nggak, beras sulit diperoleh, begitu juga daging sapi. Sebelum malam 1 Syawal 1438 H, harga-harga harus sudah kembali ke posisi normal.” Gedor Prabu Duryudana, sambil menuding-nuding muka Adipati Karno dan Dursasono.
Semua diam dan saling pandang. Mungkin berfikir, bagaimana menjawab secara masuk akal, meski itu alasan yang bersifat abal-abal. Dari semua hadirin, yang tetap acuh hanyalah Baladewa dan Resi Bisma. Mereka sekedar undangan kehormatan, sehingga meski disambi bersibukria main smartphone nge-WA, tak masalah. Lagi pula mana berani Satpam Istana menegur Resi Bisma, nanti dituduh kriminalisasi begawan.
“Kita sudah operasi pasar. Tiba-tiba ada oknum masuk gudang Bulog sambil bawa kartu nama raja Ngastina. Terpaksa minta berapa ton pun kita layani, padahal ternyata hanya mau ditimbun.” Bela Adipati Karno.
“Dasar mental kuli, digertak dengan kartu namaku saja langsung ngeper.” Omel Prabu Duryudana. Mendadak lupa bahwa puasa dilarang marah-marah.
Itu baru urusan perut. Urusan infrastruktur jalan menjelang warga mudik, juga masih amburadul. Kartomarmo selaku Pengawas Pekerjaan Umum pernah menjamin bahwa H-7 jalan tol yang menghubungkan ke Mandaraka, Mandura, Pendawa, Wiratha dan Kumbina, sudah nyambung dan siap dilalui pemudik. Yang bikin Prabu Duryudana tambah curiga, kenapa pembebasan lahan tol selalu berlarut-larut, jangan-jangan banyak pejabat Ngastina yang titip harga.
Sebetulnya, diurus negara atau tidak, urusan mudik akan tetap berlangsung. Karenanya Prabu Duryudana tak mau memikirkan benar soal krisis pangan menjelang Lebaran. Sebab yang paling menjadi beban pikiran, justru Perang Baratayuda yang semakin mendekat, April 2019. Anggaran sih lumayan cukup, tapi SDM-nya yang kurang mendukung. Wayangnya sih keker-keker, tapi giliran disuruh maju perang, pada ngeper dan minta surat izin sakit dari dokter.
“Saya tak mau terlalu fokus ngurus persiapan mudik. Ada yang lebih penting lagi bagaimana kita menghadapi Perang Baratayuda 2 tahun ke depan,” kata Prabu Duryudana.
“SDM kita untuk jadi senapati sangat rendah, sebaiknya UU Perang Baratayuda diperketat dan dipercepat.” Jawab Pendita Durna.
Begitulah menurut pengamatan Prabu Duryudana. Dibuka pendaftaran Calon Senapati jarang yang daftar. Tapi jika ada formasi untuk jadi calon anggota legislatif (DPR), pesertanya berebut. Soalnya jadi wakil rakyat itu enak. Kerjanya bisa disambi ngantuk, gajinya gede dan tak ada resiko kehilangan nyawa. Beda dengan senapati, gaji tak begitu tinggi, nyawa bisa hilang sewaktu-waktu.
Ngastina memang sangat mendambakan hadirnya senopati tanggon (kuat mental) untuk memenangkan Perang Baratayuda. Sosok public darling salah satunya ada pada Bogadenta, adik kandung Duryudana. Sayang sejak peristiwa “Pendawa – Kurawa trajon” 15 tahun lalu, anak muda itu hilang bak ditelan bumi. Pada awal timbangan memang berat keluarga Kurawa. Tetapi begitu Werkudara anjlog masuk ke dalam timbangan, langsung timbangan njomplang dan Bogadenta terlempar entah ke mana.
“Jangan-jangan nyangkut di pohon kelapa.” Kata Prabu Duryudana kala itu.
“Atau malah hanyut kecebur sungai?” jawab Patih Sengkuni juga 15 tahun lalu.
Untuk melacak keberadaan Bogadenta, Prabu Duryudana pernah menghubungi Komisi Orang Hilang, tapi hasilnya nihil. Ada pabrik gandum PT Bogasari, dikira sang pemilik adalah Bogadenta, ternyata bukan. Tanya kepada Pendita Durna yang konon ahli nujum, jawabnya diplomatis banget: bila sudah waktunya dia akan kembali.
Di mana sebetulnya Bogandenta berada? Sebenarnya dia kini sudah hidup enak di negeri Turilaya. Saat peristiwa trajon 15 tahun silam, dia memang mencelat paling jauh, hingga ke luar negeri. Untungnya dia punya visa unlimited, sehingga tinggal di negeri orang sampai kapanpun takkan ada yang sibuk mencari. “Di negeri Turilaya ini, meski sehari-hari makan urapan kembang turi, harus siap hidup,” begitu prinsip Bogadenta.
Memang betul. Sebagai pekerja ulet, dia tidak pilih-pilih pekerjaan. Agar tak menjadi gelandangan di negeri orang, jadi tukang cuci mobil pun dijalani. Ternyata usahanya membawa berkah, dari cuci mobil itulah dia kenal dengan keluarga raja, dan akhirnya dia diangkat jadi pegawai Istana dan pada puncak kariernya, berkat penampilan yang santun dan tampan, Bogadenta kemudian terpilih menjadi raja.
“Patih Mamangmurka, minggu depan saya mau mudik ke Ngastina, jaga negriku baik-baik. Kalau ada apa-apa bisa konsul sama Tim Sinkronisasi, ya.” Pesan Bogadenta.
“Gajah Murdaningkung dibawa nggak bos?”
“Enggaklah, bikin repot di pabean nanti.” Prabu Bogadenta berasalan.
Gajah Murdaningkung ini merupakan kendaraan pribadi Prabu Bogadenta yang sangat nguripi dan ngrejekeni. Ketika namanya dipinjam buat merk pabrik ban, royalti masuk ke negeri Turilaya selalu mengalir hingga triliunan. Karenanya di negeri Turilaya rakyat tak dikejar-kejar tax amnesty, karena pemasukan dari pabrik ban saja sudah melimpah ruah.
Di samping itu gajah Murdaningkung juga memiliki kesaktian luar biasa. Sepanjang ada kerjasama dengan juragan, dalam perang akan selalu menang. Sebab manakala Bogadenta tewas, hanya dilompati si gajah langsung akan hidup kembali. Begitu pula sebaliknya.
“Selama aku mudik ke Ngastina, kamu jaga diri baik-baik ya. Makan daun tebu jangan sekalian batangnya, nanti kena diabetes melitus.” Prabu Bogadenta mengingatkan.
“Iya bos. Saya cukup minum Akua galonan saja bos.” Jawab Murdaningkung.
Demikianlah, Lebaran H-3 Bogadenta terbang naik Blekok Airlines menuju negeri leluhur yang 15 tahun lalu ditinggalkan tanpa kabar. Mendarat di bandara Palasara Airport dia sudah dikerubuti sopir taksi, termasuk komplotan penipu siap mencelakai para penumpang.
“Bareng mobil saya saja Mas, saya juga ke arah Ngastina kok.” Kata seorang lelaki tak dikenal.
“Alah, kamu mau mencekoki saya pakai jamu bius kan? Sorry ya, aku biasa baca koran kok.” Jawab Bogandenta dan lelaki pembawa tas itu ngeloyor pergi karena malu.
Prabu Bogadenta akhirnya memilih naik taksi online. Di samping lebih murah, juga tarifnya sudah jelas, kemacetan jalan tak menjadi beban penumpang. Maka di sinilah bedanya naik taksi konvensional dan online. Naik taksi online bisa lihat pemandangan, naik taksi biasa sebentar-sebentar lihat argo, duitnya cukup nggak nih.
Bogadenta juga tak bisa membayangkan, seperti apa saudara-saudaranya sekarang. Yang diketahui lewat internet dan medsos, Prabu Duryudana selalu digoyang LSM karena statusnya sebagai raja tak legimitid. Patih Sengkuni juga semakin kaya sehingga mampu bangun Jenar Plaza. Bagaimana dengan ayahnya, Destarata dan ibunya Gendari? Tentu mereka tambah tua dan rajin menghadiri acara Kartu Ngastina Lansia (KNL).
“Syukur adhimas, kamu masih hidup. Saya pikir sudah tewas gabung ikut ISIS di Suriah.” Bisik Prabu Duryudana saat menyambutnya.
“Enggaklah, gini-gini gua masih nasionalis. Tampilan gua gak aneh-aneh kan?”
Memang, setibanya Bogadenta di Istana Gajahoya, bikin Prabu Duryudana dan kerabat terkejut bukan kepalang. Sosok yang selama ini menghilang, tiba-tiba muncul secara mengejutkan. Bogadenta yang bawa tas besar dan koper segera dielu-elukan. Sebab dialah harapan satu-satunya untuk menjadi senopati Baratayuda mendatang. (Ki Guna Watoncarita)



