PENDAWA MUKSWA

Betara Indra menolak Puntadewa masuk suwargaloka dengan bawa anjing. Tapi apa bisa dititipkan di Ragunan?

“TUH masih ada abu gosok, bawa sekalian sono….!” Kata-kata Werkudara tiba-tiba memecah keheningan, kesannya begitu nyinyir dia.

Yamawidura sangat tersinggung mendengar ucapan Wer­kudara yang terlalu sengkring (menusuk perasaan). Maka barang oleh-oleh dari Puntadewa hendak diturunkan dari bagasi mobilnya. Dengan cepat penguasa baru di Ngas­tina itu mencegahnya, sementara Harjuna juga mengerdipi Werkudara untuk bisa bersikap agak sopan sedikit.

“Omongan Werkudara sebaiknya jangan Paman gubris. Wayang oposisi memang suka begitu, kalau punya modal dan massa, pasti berontak dia…!” kata Puntadewa menghibur Yamawidura.

“Jadi kalian nggak nyesel kan, barang-barang ini saya bawa?” balas Yamawidura.

Puntadewa, Harjuna beserta Nakula dan Sadewa menggeleng. Tinggal Werkudara yang menggerutu berkepanjangan. Saat mobil carteran Yamawidura ini hendak berangkat, tiba-tiba Dewi Kunti ibunya Keluarga Pendawa serta merta menghambur ingin mengikuti jejak Yamawidura. Dia ingin pula menjadi pertapa, persiapan menjelang ajal. Tentu saja baik Yamawidura maupun Keluarga Penda­wa mencegah kehendak Dewi Kunti. Bukan karena rombongan calon pertapa itu sangunya terlalu mepet, tetapi sesungguhnya keberadaan Dewi Kunti di Ngastina masih sangat dibutuhkan. Paling tidak menjadi penasehat Dharma Wanita Cabang Gajahoyalah!

Ternyata Dewi Kunti tetap ngotot, persis Ratna Sarumpaet minta korban tenggelam di Danau Toba diangkat. Terpaksa keluarga Pendawa meluluskan permintaan ibunya. Ini berarti anggaran jadi makin membengkak, sebab Puntadewa iuga harus membekali ibunya ke tempat yang baru. Mau diambil dari pos mana duit itu, urusan raja Ngastinalah itu.’

“Selamat jalan ya Bu, nanti kalau kurang duit, WA saja ke sini,” ujar Puntadewa ketika melepas Dewi Kunti.

Rombongan pertapa kini genaplah tiga wayang. Selain Yamawidura dan Kunti, ada satu lagi wayang Sanjaya dari Kaveling Pagombakan yang juga putra si pincang Yamawidura. Dan Colt kijang kapsul carteran itu pun meluncur ke Saptaharga, tempat tujuan akhir mereka sebagai pertapa.

Setelah melalui jalan yang berliku-liku di tepi hutan dan Kali Sentiong yang bau anyir ditutup jaring, tibalah rombongan Yamawidura ke Candi Saptaharga. Pertapaan peninggalan Bagawan Abiyasa itu mereka bersihkan, dan tinggallah mereka di sana untuk mesu budi (berprihatin). Kenikmatan duniawi benar-benar mereka tinggalkan. Bila sewaktu di Ngastina sering makan hamburger dan sate Gajahmada, kini cukup nasi wuluh  dan sayur asem. Apalagi Senjaya dan Yamawidura yang semula sangat hobi main karaoke dan instagram, kini cukup mendengarkan suara-suara jengkerik di malam buta.  Pendek kata, mungkur saliring kadonyan   (tinggalkan kebutuhan dunia­wi).

Dua tahun kemudian, Prabu Puntadewa beserta keempat adiknya membezuk para pepunden (sesepuh)-nya yang sedang bertapa tersebut. Hati mereka sangat nelangsa melihat keadaan ibu Kunti Cs yang sangat menderita itu. Tubuhnya kurus kering, rambut kusut dan mata seakan tanpa sinar. Benar-benar ngebelangsak ! Contohnya Senjaya ini. Dulu se­waktu di Ngastina, berat badannya 80 kg lebih. Tapi setelah menjadi pertapa, tinggal sekitar 45 kg netto, artinya dalam keadaan tanpa baju tanpa celana dalam begitu.

“Kok tubuhmu kurus kering begini, apa menumu tiap hari cuma belalang dan kroto?” tanya Werkudara bisik-bisik.

“Maunya sih beras Cianjur, tapi harga beras di perwayangan juga naik melulu, kok Dik. Maklum Bulog tak operasi pasar di sini…!” jawab Senjaya lesu.

Puas menyalami Kunti dan Sen­jaya, Keluarga Pendawa kemudian mencari pamannya Ya­mawidura yang bertapa secara terpisah. Untuk kedua kalinya Puntadewa beserta adik-adiknya meneteskan air mata, sewaktu melihat mantan hakim agung di Ngastina itu. Di bawah pohon duwet (jamblang) dia bertapa dengan selalu kepanasan dan kehujanan. Tokoh yang dulu vonisnya selalu bikin ngeper bupati dan politisi korup itu, kini diam tanpa daya. Tubuhnya kurus kering seperti pengidap narkotika.

Puntadewa mencoba membangunkan pamannya itu, tapi tak gerak juga. Yakin bahwa Yamawidura sudah meninggal, Keluarga Pendawa sambil mrebes mili (nangis kecil) menyiapkan perapian untuk membakar jenazah sesepuhnya tersebut. Maunya sih hendak dibawa ke Krematorium Cilincing, tapi sayang Puntadewa bawa sangu pas-pasan!

“Hai, entar dulu dong. Jangan main bakar aja luh. Itu pamanmu bukannya mati, tapi cuma terlalu khusyuk bersemedi. Biarkan saja, nanti 9 Agustus pasti bangun…!” kata suara dari langit tiba-tiba. Dewa barangkali.

“Memangnya sedang cari wangsit  Cawapres dia?” tanya Werkudara sinis.

Dengan wajah tersipu-sipu karena malu, Keluarga Penda­wa kemudian meletakkan tubuh Yamawidura ke tempat semula. Dan mereka kembali ke Ngastina.

Sepeninggal Keluarga Pendawa, Yamawidura dan rombongannya bermaksud sesuci (mandi) di tepian Kali Gangga. Ini satu-satunya kali yang masih bersih di perwayangan, belum tercemar limbah pabrik dan menjadi bahan baku air minum PDAM Ngastina. Saat mereka mandi bersama di Kali Gangga, tiba-tiba hutan yang mengepung kali itu terbakar. Bodohnya wayang-wayang tua ini, melihat api bukannya terus ngerendem di kali, tapi mencoba lari menuju ke pertapaan. Keruan saja Kunti dan Yamawidura tewas terpanggang.  Senjaya yang mencoba menyelamatkan para sesepuhnya, tak bisa berbuat banyak.

  “Ngumpet aja deh, nanti dikira gue yang jadi otak Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) ini…” pikir Senjaya setelah api padam.

Keluarga Pendawa ketika menerima kabar bahwa Dewi Kunti  bersama Yamawidura Cs telah tewas terbakar, cuma bisa meratapi dari tempat jauh. Seusai salat gaib, keluarga Pendawa bertekad ingin mengundurkan diri dari kepemerintahan dan bisnis saham. Mereka ingin mengikuti jejak para leluhurnya, bertapa.

Maka sesuai dengan wangsit dewa di Kahyangan, Prabu Puntadewa mengundurkan diri sebagai raja. Demi kelancaran suksesi kepemimpinan di Ngastina kemudian ditunjuklah Parikesit, sebagai colon tunggal. Karena anak Abimanyu -Utari itu masih ijo dan baru duduk di kelas VI SD, pemimpin baru di Ngastina ini benar-benar dikarbit, bagaimana  bisa menjadi raja yang bijaksana dalam waktu singkat. Setelah jumenengan (pelantikan) raja baru, barulah Puntadewa bersama keempat adiknya meninggalkan negeri yang telah diperjuangkan selama ini, untuk masuk hutan, bertapa!

“Hai Parikesit, hati-hatilah kau memerintah. Sebagai saja yang terlalu muda, pembantu-pembantumu bisa saja memperalat kau. Maka waspadalah, nanti jangan main tanda tangan saja, meskipun komisi proyek itu cukup gede..,!” pesan Harjuna yang sekaligus sebagai kakeknya, sebelum berangkat.

“Tenang saja Eyang, di Ngastina kan nggak ada KPK, karenanya dijamin tak ada OTT…” jawab Parikesit. Pokoknya siaplah!

Karena tekad mereka memang untuk hidup prihatin dan mungkur kadonyan, meskipun bis Mayasari dan busway banyak yang lewat, Keluarga Pendawa memilih jalan kaki saja. Dan entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja ada asu njilma (anjing jinak) mengikuti gerak langkah mereka. Berulang kali Werkudara mengusirnya, tapi si Mopi masih terus membuntuti.

Rute perjalanan Tim Safari Pendawa itu mula-mula ke utara, sesampainya di Kali Gangga kemudian membelok ke timur lewat Plumpang dan tibalah di Purwasagara. Dari sini belok lagi ke selatan melintasi Kelapagading dan tiba Daksinasagara. Dan saat perjalanan mereka menyusuri jalan Perintis Kemerdekaan, tiba-tiba disetop Sanghyang Agni yang mengenakan seragam polisi. Puntadewa beserta adik-adiknya jadi ciut nyalinya, mengingat kepergian mereka tanpa membawa surat jalan.

“Anda belum tahu ya, kalau malam-malam lewat sini nggak boleh bawa senjata tajam? Karenanya, panah sarutama ini terpaksa saya sita…!” sergah Batara Agni.

Harjuna yang tak mengetahui ketentuan itu, terpaksa mengalah. Senjata andalannya, panah Gandiwa diserahkan saja daripada nanti kena sidang tilang. Yang paling menyakitkan panenggak Pendawa, senjata yang tiap malam Jumat Kliwon dikutugi (dibakarkan kemenyan), oleh Betara Agni enak saja dibuang ke Kali Sunter, gusrak!

Keluarga Pendawa berjalan terus, sehingga lama-lama tiba di Gunung Himawan sekitar pukul 05.00. Saat perjalanan tim safari itu memasuki wilayah Walukarnawa (lautan pasir), tiba-tiba Sadewa terperosok ke dalam pasir dan meninggal.

“Biarin aja, itulah hukuman orang yang selalu merasa paling pintar, mentang-mentang lulusan universitas di Amerika,” kata Puntadewa.

Tak lama kemudian, Nakula juga terperosok dan koit. Betapapun Werkudara gusar, Puntadewa tenang-tenang saja karena itu dianggap sebagai hukuman Nakula yang merasa paling ganteng di dunia. Begitu pula saat Harjuna teler di timbunan pasir, mantan raja Ngastina itu menanggapinya sebagai hukuman karena Harjuna merasa paling sakti di dunia dan kawin melulu! Dan kini, Werkudara yang tadi panik atas kematian adik-adiknya, ikut-ikutan pula ngegelo dalam pasir dijemput maut.

“Makanya, kamu sewaktu di dunia jangan suka makan micin, bicara kasar dan sok politik. Inilah hukumannya…!” pinta Puntadewa.

Melihat keempat adiknya telah tewas, Puntadewa ingin pula mati bersama. Tapi bagaimana caranya? Bunuh diri pun di perwayangan juga dilarang keras. Maka setelah melihat ke empat adiknya itu mukswa (mati bersama raganya). Puntadewa melanjutkan perjalanannya dengan ditemani si Mopi yang belum keurus penengnya.

“Mohon pengertian ya Pi, prihatin dulu. Sebentar lagi Idul Kurban tiba, tulang kambing dan sapi pafing klutuk (banyak sekali)…” sesal Puntadewa.

Matahari sudah sepenggalah ketika perjalanan Puntade­wa bertemu Batara Endra dari Kahyangan. Dengan penuh takzim dia minta agar diperbolehkan mati dan masuk Swargaloka bersama anjingnya.

“Wah ndak bisa. Di samping najis, dikuatirkan dewa-dewa di Kahyangan bisa ketularan rabies…” jawab Batara Endra piiBti.

“Kalau begitu, mendingan saya tak masuk Swargaloka saja. Mau dititipkan di Ragunan, jangan-jangan bayar.” kata Puntadewa sangat menyesal.

Mendengar kata-kata Puntadewa yang penuh rasa kesetia-kawanan itu, tiba-tiba si Mopi berubah wujud menjadi Sanghyang Batara Darma. Mantan anjing aspal itu mengacungkun jempol karena Puntadewa telah lulus dari segala ujian.

“Karena itu, cuma kamulah yang diperbolehkan masuk swargaloka dengan badan wadag (tubuh kasar). Mari-mari masuk, tapi copot sendal ya…!” sambut Batara Darma dan Indra ramah. (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement