JAGAD wayang modern juga tak lepas akan kebutuhan minyak dan gas. Mobil-mobil para wayang bisa jalan harus dengan BBM, dapur-dapur para ibu wayang bisa mengepul juga karena bahan bakar gas. Dengan demikian sebagaimana manusia, para wayang baik yang di ngercapada maupun kahyangan, sama-sama tergantung distribusi dan alokasi minyak bumi dan gas (migas).
Awalnya pengelolaan migas dipegang oleh Betari Durga, eks istri Betara Guru. Tapi karena jim Jaramaya dan Jarameya ikut main di Pasetran Gandamayit, distribusi migas menjadi kacau balau sarat dengan praktek-praktek korupsi. Akhirnya Betara Guru memutuskan, pengelolaan migas diserahkan pada sumber aslinya, penguasa di kahyangan Ekapratala, Resi Bedawanganala.
“Kenapa adi Guru serahkan pengelolaan migas pada Bedawanganala? Tugas dia kan cukup bagian produksi, bukan distribusi.” Ujar Betara Narada mohon penjelasan.
“Dia kan seorang resi, golongan wayang suci, sehingga moralitasnya pasti sangat jaminan mutu,” jawab Betara Guru serius.
“Munthu (ulekan), ngkali…..” Betara Narada menjep (mencibir).
Logikanya memang begitu, seorang resi itu harus resik (bersih). Tapi Betara Guru lupa bahwa belakangan banyak tokoh yang nyolong pethek. Statusnya ustadz dan jadi pemimpin partai agama, eh …..ternyata korupsi daging sapi impor. Bahkan ada, partai yang sesumbar “katakan tidak pada korupsi”, elit politiknya malah paling getol mencuri harta negara. Jadi kesimpulannnya banyak musang yang berbulu ayam. Tampang intelek, kelakuan seperti telek (kotoran ayam).
Betara Narada boleh saja oposisi dan disenting opinion, tapi kekuasaan Betara Guru kan mutlak seperti dewan juri sayembara TTS: tak bisa diganggu gugat. Resi Bedawanganala penguasa lautan Ekapratala kemudian ditunjuk sebagai produsen sekaligus distributor migas segenap dunia wayang. Agar dia bekerja semakin jujur kebal suap, sengaja gajinya dinaikkan menjadi Rp 500 juta sebulan.
“Mengelola migas itu banyak musuhnya dan banyak godaannya. Karenanya kamu harus fokus pada tugas, tak usah ikut-ikutan partai segala, ya.” Nasihat Betara Guru saat melantik Resi Bedawanganala.
“Siap boss!”
Lautan Ekapratala yang menjadi kahyangan Resi Bedawanganala, memang kaya akan sumber minyak bumi dan gas. Dulu saat distribusinya dipegang Betari Durga, gas-gas itu justru dikirim ke negeri Cina. Padahal PLN yang begitu banyak membutuhkan gas untuk menggerakkan generatornya, tak diberi jatah sama sekali. Terpaksa Dirut PLN Sanghyang Iskana Dahlani beli gas dari luar negri yang harganya jauh lebih mahal. Bagi Betari Durga, bodo amat PLN nombok.
Bagaimana sekarang setelah distribusi migas juga ditangani langsung oleh Resi Bedawanganala? Belum diketahui benar perubahannya. Yang jelas harga BBM dan gas untuk rakyat tetap mahal. Ditambah dolar AS semakin menguat hampir menyentuh Rp 13.500,- harga BBM bagi rakyat ngercapada makin tak terjangkau. Tapi Bedawanganala bila ditanya hal ini, jawabnya: kita bayar pengolahan migas kan pakai dolar.
“Kalau begitu Bedawanganala tak ada bedanya dengan Betari Durga, dong?” kecam pers.
“Jangan asal tuduh. Saya kan baru mulai, lihat nanti setelah 100 hari kerja.” Tangkis Resi Bedawanganala.
Yang sangat mencurigakan, sementara harga BBM dan Gas di sejumlah negara perwayangan mahal, tapi di negeri Ngastina sangat murah. Di kahyangan Jonggring Salaka dan lain negara sampai Rp 7.500,- seliter, rakyatnya Prabu Duryudana bisa beli bensin dengan harga Rp 4.000,-. Dan semakin mencurigakan pula, belakangan Pendita Durna yang baru saja dapat bintang Mahaputra Adipradana, rajin datang ke kahyangan Ekapratala ketemu Resi Bedawanganala.
Betara Guru telah menerima laporan itu, sehingga sejumlah dewa dikumpulkan di Balai Marcakunda, untuk menggelar sidang terbatas bidang ekonomi. Kemudian diputuskan agar telepon HP Pendita Durna disadap. Tapi ada dewa yang menentang cara-cara itu, karena itu katanya melanggar hak privacy dan azasi.
“Jika mau serius berantas korupsi, harus siap capek. Jangan hanya mengandalkan penyadapan melulu, yang hasilnya juga recehan semua.” Kata dewa gemuk pendek, sepertinya Betara Temboro, tapi kok bukan pakai kethu kadewatan, melainkan peci.
“Penyadapan itu harus produk lembaga hukum, bukan wayang sembarangan,” potong dewa yang lain, yang posturnya juga sama-sama buntek (bulat pendek).
Tapi saran itu tak dipertimbangkan, penyadapan jalan terus. Ternyata benar, banyak dialog mencurigakan antara Durna – Resi Bedawanganala. Karena itu pula, HP penguasa lautan Ekapratala itu disadap sekalian. Hasilnya, weh, weh……tokoh Sokalima yang baru terima tanda bintang jasa itu ternyata maling juga.
“Betara Brama, kamu tangkap segera Pendita Durna – Resi Bedawanganala, saat mereka transaksi.” Perintah Betara Guru.
“Jangan saya Boss. Saya dewa api, ketemu minyak bumi dan gas, bisa terbakar habis.” Kilah Betara Brama mencoba ngeles.
“Kan kamu bisa bawa Yamato?”
Betara Brama tetap menolak, sehingga tugas itu kemudian dilimpahkan kepada Betara Surya saja. Cuma celakanya, penguasa kahyangan yang satu ini sangat rawan percewekan. Soal uang Betara Surya masih bisa dikendalikan, tapi soal perempuan, dia paling mata keranjang. Maunya, semua wayang cantik sekotak hendak digaulinya. Bahkan bidadari Dewi Syahrini saja didekati, dirayu-rayu dengan jaminan bebas dari kasus First Travel.
“Tolong, kali ini kamu prei dulu main cewek. Ini tugas negara yang penuh perjuangan, jangan dikalahkan urusan selangkangan.” Sindir Betara Guru tajam.
“Iya, Boss, iya Boss. Siap….!” jawab Betara Surya malu-malu.
Hari naas itu pun tiba. Pendita Durna yang datang ke kahyangan Ekapratala dengan naik moge, terus diamat-amati Betara Surya. Ternyata moge seharga Rp 450 juta itu memang akan dipersembahkan kepada Resi Bedawanganala. Bersama dengan itu, dalam tas besar diserahkan pula uang dolar AS 900.000. Maka begitu Durna menyerahkan tas tersebut, Betara Surya bergerak.
“Angkat tangan. Atas nama hukum, kalian harus menyerah…..!” gertak Betara Surya dan meringkus Resi Bedawanganala.
“Saya enggak ikut-ikutan lho.”, kata Durna mau berkelit.
Tapi Durna pun segera diikat pakai borgol plastik dan keduanya digelandang ke kahyangan. Dua pendita yang nampaknya alim, ternyata maling kelotokan. Durna yang hidungnya bengkok, otaknya bengkok juga. Begitu pula Bedawanganala yang kepalanya bulus, otaknya penuh akal bulus juga. Kini terkena OTT (Operasi Tangkap Tangan), biar tahu rasa.
“Keterlaluan kamu, sudah bergaji Rp 500 juta masih ijo mata juga lihat suap.” Omel Betara Guru.
“Saya nggak korupsi kok, hanya terima gratifikasi.” Tangkis Bedawanganala.
Gila, seorang Bedawanganala tak bisa membedakan masa korupsi dan gratifikasi. Kini keduanya jadi bandan (tawanan) dikerangkeng di rutan yang baru saja diresmikan. Lagi-lagi gegerlah kahyangan Ekapratolo. Tokoh kharismatik yang selama ini sangat dihormati, ternyata hobi juga menggangsir uang negara. Tapi mau bagaimana lagi? Semua wayang juga doyan duit. Yang tidak doyan uang cuma ayam! (Ki Guna Watoncarita)


