Penebar Cahaya Pelosok Timor Leste

0
1569

 

Meski belum pernah bertemu, ia yakin orang yang dihampirinya
adalah tamu yang akan dijemputnya. Pasalnya, selain kami tak ada lagi warga
yang menunggu di jembatan dekat pintu perbatasan Indonesia-Timor Leste di Mota
‘Ain. Pintu perbatasan itu memang hanya dibuka hingga pukul 17.00 waktu
setempat.
Anwar Da Costa, demikian ia memperkenalkan namanya.
Di wajahnya tergurat keletihan, buliran keringat menetes di tepi pelipisnya.
Maklum, ia baru saja menempuh perjalanan selama tiga jam lebih dari Dili untuk
mencapai perbatasan. Ia mengajak serta rekannya untuk gentian mengemudikan
mobil 4WD itu. Anwar meminta maaf karena ada salah komunikasi. Ia menganggap
kami baru tiba pada hari Ahad (5/10). Jadi, dia baru jalan dari Dili ketika
kami sudah tiba di Atambua yang berjarak 30 menit dari pintu perbatasan.
Kami menduga, Anwar hanyalah pegawai biasa di Yayasan An
Nur, Dili. Yayasan ini menjadi mitra Tebar Hewan Kurba (THK) Dompet Dhuafa
selama lima tahun terakhir dalam menyalurkan hewan kurban di Timor Leste. Kami
baru tahu hari berikutnya kalau ia adalah Ketua Yayasan An Nur, yayasan Islam
terbesar di Timor Leste.
Anwar lahir di Luro, salah satu daerah di Distrik Lautém
(Los Palos) pada 15 Januari 1974. Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di Los
Palos, SMP-SMA di An Nur Dili, dan S1 di Universitas Islam Antar Bangsa
Malaysia (IIUM). “Saya pernah juga kuliah di Universitas Muhammadiyah Jakarta,
tapi hanya satu tahun,” jelasnya.
Saat Timor Timur (nama Timor Leste sebelum merdeka dari
Indonesia) bergejolak di medio 1999, Anwar hanya bisa mengikuti perkembangannya
di media massa di Malaysia. Ia baru kembali ke Dili pada tahun 2003. “Saat itu
sudah merdeka, dan kita harus mulai dari nol,” kenangnya.
Karena selama kuliah ia mempelajari ilmu komunikasi,
khususnya jurnalistik, Anwar berniat jadi wartawan. Tapi, pandangannya berubah
ketika ia mengunjungi almamaternya di Dili sekembalinya dari Malaysia. Setelah
referendum, banyak pengurus yayasan eksodus dari Dili, pulang ke Indonesia. Sementara
warga asli Timor yang menjadi pengurus juga kebanyakan sudah sepuh. Ia tidak
ingin kegiatan yayasan terhenti karena tidak ada pengurus. Menurutnya, sangat
disayangkan jika satu-satunya yayasan Islam di Timor Leste itu tutup. “Ini yang
memotivasi saya. Yayasan ini sudah melalui tiga periode, Portu (gis),
Indonesia, dan Timor Leste,” tukasnya.
Untuk itu ia mengajukan diri untuk terlibat dalam
kepengurusan. Anwar langsung dipercaya sebagai sekretaris umum yayasan. Sembilan
tahun mengabdi, Dewan Pendiri Yayasan An Nur akhirnya memberikan amanah kepada
Anwar sebagai ketua yayasan. Keputusan ini diambil karena ketua yang sebelumnya
mengundurkan diri.
Setelah mendapat kepercayaan, Anwar langsung berbenah. Ia
mengubah manajemen kepemimpinan dan keuangan. Menurutnya, selama ini ada banyak
jalur keluar-masuk keuangan sehingga membuat pengelolaan dana tidak efektif.
“Berdasarkan rapat terkahir, kita buat satu pintu,” ujarnya. Menurutnya, dengan
sistem satu pintu itu akan mempermudah sistem audit dan pelaporan.
Secara umum, Yayasan An Nur bergerak pada tiga  program utama. Pertama dakwah. Selama ini An
Nur rutin mengirimkan dai-dai ke pelosok desa di berbagai distrik di Timor
Leste. An Nur menggandeng Corps Dai Dompet Dhuafa (Cordofa), Dewan Dakwah
Islamiyah Indonesia (DDII), dan berbagai lembaga dakwah lainnya di Indonesia
untuk mendukung program ini.
Kedua, pendidikan. An Nur memiliki sekolah formal dan
nonformal, mulai dari TK, SD, SMP, dan SMA. Selain di Dili, sekolah-sekolah ini
juga terdapat di Bau Cau. “Ada juga program tahfidz Al Quran 30 juz sejak tahun
ini,  sudah ada murid 13 orang.” Selain
itu, An Nur juga kerap mendatangkan trainer untuk meningkatkan kapasitas guru
dan pemuda Timor Leste.
Selain program pendidikan dan dakwah, An Nur juga memiliki
program sosial yang rutin dijalankan. An Nur memiliki panti asuhan di Dili dan
Bau Cau. Mereka juga kerap mengadakan pengobatan gratis dan sunatan massal pada
waktu-waktu tertentu. Dokter-dokternya pun didatangkan dari Indonesia.
Selain itu, Anwar juga fokus pada pengembangan sumber daya
manusia masyarakat muslim Timor Leste. Menurutnya, pembangunan fisik, baik itu
sarana ibadah maupun pendidikan Islam relatif lebih mudah melakukannya. Untuk
itu, Anwar kerap ke Indonesia mengantarkan putra-putri asli Timor untuk kuliah
di sejumlah universitas Islam di Indonesia seperti UIN Malang, UIN Jakarta,
Universitas Brawijaya, dan Universitas Muhammadiyah Jakarta. Anwar memanfaatkan
relasinya selama kuliah di Indonesia dan Malaysia untuk membantunya mencarikan
beasiswa dari banyak pihak.
Anwar berharap, meski secara kuantitas ummat Islam di Timor
Leste sangat kecil, kualitasnya tak kalah dibanding warga Timor lainnya.
“Kehadiran kita harus diperhitungkan, jangan sampai orang pandang sebelah
mata,” tegasnya.
Kendala utama yang dihadapi ummat Islam Timor Leste adalah
keterbatasan finansial untuk membiayai para dai yang bertugas di berbagai
pelosok desa. Selama ini banyak dai yang tidak fokus mengajar agama karena
masih harus mencari penghidupan. Oleh karenanya Anwar mengharapkan sokongan
dari ummat Islam Indonesia demi tersebarnya Islam di seluruh penjuru Timor
Leste.
Meski demikian, Anwar mengaku bahagia dengan perkembangan
Islam di Timor Leste. Jika dibandingkan pada masa Indonesia dahulu, gerak
dakwah Islam sangat terbatas. Saat itu, ummat Islam selalu dicurigai,
pro-integrasi, dan alat Jakart untuk melakukan Islamisasi. “Setelah merdeka,
kita dilindungi undang-undang. Kita boleh bangun masjid di mana saja asal ada
uang,” katanya. “Negara tak ikut campur.”
Sekedar gambaran, saat ini ummat Islam di Dili berjumlah 6
ribu. Jika ditambah dengan pendatang, jumlahnya mencapai 10 ribu. Jumlah masjid
di Timor Leste baru ada 8; yang tersebar di Los Palos, Bau Cau, dan Viqueque.
Kita doakan, sebagaimana namanya, Anwar, juga Yayasan An
Nur, dapat menghadirkan cahaya-cahaya kedamaian Islam di berbagai penjuru Timor
Leste. Amin.  

*Disclaimer: Tulisan ini juga telah dimuat di Majalah Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa edisi 1435H
Advertisement div class="td-visible-desktop">

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here