spot_img

Pengertian, Sejarah, dan  Potensi Wakaf Uang di Indonesia

JAKARTA – Wakaf Uang atau disebut juga wakaf tunai (cash waqf/waqf al-nuqud) adalah perbuatan hukum wakaf dengan cara memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian uang untuk dimanfaatkan dalam jangka waktu tertentu (temporer) atau selamanya (perpetual) sesuai dengan kepentingan wakif yang digunakan untuk kepentingan ibadah dan/atau kesejahteraan umat sesuai syariah.

Wakaf uang adalah wakaf dalam bentuk uang tunai yang dilberikan oleh perseorangan, kelompok orang, atau badan hukum yang dikelola secara produktif untuk menghasilkan manfaat bagi kepentingan mauquf alaih.

Wakaf uang merupakan pengembangan wakaf dari semula berupa aset tidak bergerak seperti tanah atau bangunan, menjadi aset bergerak atau tunai seperti uang.

Wakaf uang menjadi terobosan untuk mengurangi ketimpangan sosial untuk mewujudkan pemerataan pembangunan di pelosok Tanah Air. Jika ditelaah, wakaf yang dimaksud dapat berupa wakaf uang untuk investasi maupun wakaf melalui uang yang keduanya dapat mengurangi ketimpangan sosial dan pemerataan pembangunan di Indonesia.

Sejarah Wakaf Uang

Istilah wakaf uang belum ada pada zaman Rasul dan baru dipraktikkan pada awal abad kedua Hijriah. Seorang ulama, Imam Az-Zuhri menyatakan bahwa wakaf dinar dan dirham diperuntukkan bagi pembangunan sarana pendidikan, dakwah dan sosial umat. Praktik wakaf uang mulai dipraktikkan di Turki pada abad ke-15 Hijriah.

Imam Az-Zufar seorang ulama abad ke-8 dari kalangan mazhab Hanafiyyah membolehkan wakaf uang, dengan syarat wakaf uang tersebut harus diinvestasikan secara mudharabah dan keuntungan yang dihasilkan digunakan untuk bantuan sosial. Imam Bukhari dan Ibnu Syihaab Az-Zuhri membolehkan wakaf dinar dan dirham sebagai modal usaha.

Dalam sejarah wakaf di Indonesia, pada awalnya masyarakat lebih mengenal wakaf terhadap benda yang tidak bergerak saja sebagaimana terlihat dalam beberapa literatur dan peraturan formal pertama yang mengatur wakaf yaitu Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik.

Pada abad ke-20, berbagai ide muncul dalam implementasi ekonomi Islam. Istilah-istilah seperti bank syariah, asuransi syariah, pasar modal, institusi zakat, lembaga wakaf, dan lembaga tabungan haji yang berbasis ekonomi Islam mulai dikenal masyarakat. Pada tahap ini, ulama dan praktisi ekonomi Islam mulai menjadikan wakaf uang sebagai salah satu basis pembangunan ekonomi umat.

Wakaf uang mulai difatwakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 11 Mei 2012 dengan beberapa pertimbangan yaitu:

  • Mayoritas pemahaman umat Islam memandang wakaf uang tidak sah. Padahal, benda wakaf mencakup segala benda bergerak, tidak bergerak yang memiliki daya tahan yang tidak hanya sekali pakai.
  • Wakaf uang mempunyai kemaslahatan yang besar dan fleksibilitas tinggi, yang tidak dipunyai oleh benda lain.
  • Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia menetapkan hukum wakaf uang adalah boleh (jawaz).

Wakaf Uang sebagai Investasi

Pemerintah menekankan pentingnya retribusi aset, perluasan akses permodalan, penguatan keterampilan, dan perubahan budaya dalam mengatasi kemiskinan dan kesenjangan sosial. Hal tersebut dapat dioptimalkan oleh wakaf dengan potensi aset 2.000 triliun rupiah per tahun.

Wakaf uang sebagai terobosan percepatan pembangunan sangat dibutuhkan, terutama untuk meningkatkan pembangunan sosial yang luluh lantak akibat bencana di tengah pandemi.

Agar lebih mudah dimengerti, berikut alur investasi wakaf uang. Sebagai wakif yakni pemilik harta benda berupa uang, memercayakan uang kepada nazir untuk dikelola. Istilahnya, nazir merupakan manajer pengelolaan. Nazir bekerja sama dengan lembaga keuangan syariah untuk pengelolaan.

Uang wakaf yang terhimpun akan diinvestasikan ke produk keuangan syariah, seperti deposito mudharabah, musyarakah, atau sukuk, atau Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Dari hasil investasi, 90% akan dimanfaatkan untuk pemberdayaan masyarakat sebagai penerima manfaat (mauquf alaih) dan 10% diberikan kepada nazir sebagai pengelola aset wakaf.

Ingat, hasil investasi dibagikan kepada golongan yang membutuhkan. Tujuan dasar wakaf memang untuk pemerataan dan kemudahan bagi orang yang kurang mampu. Berdasarkan hukum Islam, barang wakaf, baik bergerak maupun tidak bergerak, tidak boleh dijual lagi demi keuntungan wakif.

Potensi Wakaf di Indonesia

Melansir dari Badan Wakaf Indonesia (BWI) dan Sistem Informasi Wakaf (SIWAK) Kementerian Agama, pada Maret 2022, potensi wakaf uang di Indonesia sebesar Rp180 triliun per tahunnya. Namun, pada implementasinya, saat ini baru sekitar Rp. 400 miliar.

Potensi aset yang sedemikian besarnya jika dimanfaatkan melalui wakaf uang dapat memberdayakan masyarakat Indonesia. Hasil investasi dari instrumen keuangan dapat dibagikan untuk UMKM yang terdampak pandemi atau bencana dan program pembangunan sosial yang berdampak pada pemerataan Sustainable Development Goals (SGDs).

Perlu kerja sama antarsesama agar pengembangan wakaf uang atau wakaf produktif dapat bergerak secara optimal. Sehingga, kaum lemah atau dhuafa dapat berdaya dan mandiri secara merata.

Mari saling bantu dan meringankan dengan wakaf. Kontribusi Anda, sekecil apapun, merupakan cahaya bagi mereka yang membutuhkan. Mulai dari Rp10.000, kamu sudah bisa menebar kebaikan wakaf melalui Dompet Dhuafa.

spot_img

Related Articles

spot_img

Latest Articles