Penghuni Rusun Rawa Bebek; Semua Mulai dari Nol

foto aditya kbk

JAKARTA, KBK – Di pertengahan bulan September 2016 Susilawati (37) terlihat sibuk keluar masuk kantor urusan adminstrasi di Rumah Susun Rawa Bebek, Jakarta Timur. Sambil menggedong Muhammad Ihsan anaknya yang masih berusia 1 tahun, wajah Susi tampak risau karena belum membuka buku tabungan Bank DKI untuk membayar sewa rusun.

Alasan Susi cukup simpel, ia mau menghuni Rusun Rawa Bebek Blok Merpati lantai 2 karena tidak mendapatkan uang kerohiman ketika rumahnya di Bukit Duri digusur oleh kepentingan Pemprov DKI Jakarta.

“Saya sudah tidak punya rumah lagi, disana tanah saya ada 120 meter persegi. Rusun disini sempit padahal saya tinggal bersama 6 orang anggota keluarga,” kata Susi sambil mendiami anak bungsunya yang kerap menangis karena lamanya proses pengurusan buku tabungan.

Suami Susi, Agung Jayadi (36) yang bekerja sebagai tenaga keamanan di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta Timur juga tak dapat berbuat banyak. Penghasilannya yang pas-pasan membuat dirinya manut oleh aturan pemerintah.

“Barang-barang dirumah saya jualin untuk menutup ongkos urus surat-surat, lagi pula barang-barangnya juga besar, tidak muat masuk ke rusun seperti kasur nomer satu. Justru barang yang sudah lama tidak terpakai yang terpakai disini. Kasur kecil yang sudah lama ada diloteng rumah malah yang terpakai,” kata pria yang mendiami kawasan Bukit Duri sejak tahun 1970 itu.

Ketiga anak Susi yang masih duduk di bangku SMP pun juga harus menempuh hidup baru, mereka harus kembali bersosialisasi dengan teman baru akibat mesti pindah sekolah untuk mempersingkat jarak tempuh.

“Anak pertama saya si Elsa Kuriawati juga lagi saya urus surat kepindahan sekolahnya. Padahala enak disekolah yang lama karena tidak perlu ongkos. Kalau disini meski dekat tapi perlu ongkos,” jelas Susi yang akan memasukan Elsa ke SMPN 284 Jakarta.

Nasib serupa juga menimpa Mujilawati (66) penghuni Blok Merak lantai 1 Rusun Rawa Bebek. Sebagai orang kecil ia merasa pasrah dengan aturan pemerintah. Bersama kerabatnya, Maknung (76) mereka rela antri 3 jam menunggu panggilan guna mendapatkan buku tabungan Bank DKI.

Diusianya yang tak lagi muda, Mujilawati dan Maknung dipaksa oleh keadaan untuk menaki tangga rusun untuk mencapai rumah barunya. Ia pun tidak bisa lagi mengais rejeki dari berjualan gorengan seperti di Bukit Duri.

“Kalau di Bukit Duri saya biasa jualan ketan urap, gorengan dan lontong. Tapi disini tidak bisa karena jauh ke pasar dan modal sudah habis untuk proses pindahan. Ya mau bagaimana lagi, tidak ada pilihan,” ucap ibu 2 anak itu.

Mujilawati masih bersyukur, sebab pihak pengelola rusun memberikan layanan Busway gratis kepada para penghuni. Layanan tersebut sangat menguntungkan Ahmad Fadlilah (68) suami Mujilawati yang menggantungkan pendapatannya dari menarik angkot 06A.

“Meski sekarang saya tinggal lebih jauh dari terminal Kampung Melayu tempat angkot diparkir tapi suami saya masih bisa naik busway gratis kesana,” kata Mujilawati yang mengaku tinggal di Bukit Duri dari tahun 1990.

Kendati demikian Mujilawati masih kebingungan terhadap keponakannya yang bekerja di Pusat Grosis Cililitan karena Busway ke Rusun Rawa Bebek berakhir pada pukul 21.15.

“Ai’ ponakan saya tinggal serumah di rusun, dia keluar dari PGC jam sembilan. Pasti tidak keburu naik busway, ya sekarang lagi diakalin ini mau naik angkutan apa,” terang Mujlawati pasrah.

Lain lagi dengan Sugeng (33) penghuni lantai 2 Blok Merpati Rusun Rawa Bebek, sebagai penjual pulsa elektronik, token listrik dan jam tangan terkadang ia merasa diuntungkan karena sebagian besar penghuni rusun membeli barang dagangannya.

“Tapi sebenarnya sih enakan di Bukit Duri. Ibaratnya ini kan Pasal satu Ayat satu, tidak ada pilihan lain selain harus pindah atau menempati rusun ini,” jelas mantan warga RT 08 RW 10 Bukit Duri, Jakarta Selatan itu.

Siang itu Sugeng terlihat santai menunggu kios pulsanya yang masih mengemper di koridor lantai dasar Blok Merpati. Pembeli tampak silih berganti datang mengunjungi kios Sugeng untuk membeli pulsa dan sekedar menanyakan kabar mengenai kondisi rusun tempat dirinya tinggal.

Menurut Sugeng saat ini dirinya tengah mengurus perizinan sewa kios untuk berjualan namun hingga satu bulan ia belum mendapat jawaban mengenai kapan kios bisa ditempati.

“Dilantai dasar ini kan ada 10 kios untuk penghuni yang mau buka usaha, tapi permintaan yang datang besar katanya mau dibelah jadi 20 kios. Kemarin ada yang bilang sewanya per meternya tujuh ribu rupiah tapi sampai sekarang belum ada kejelasan lagi dari pengelola,” kata yang mulai menempati Rusun Rawa Bebek sejak 21 Agustus 2016 lalu.

Menurut Muhammad (58) ketua RW 12 Bukit Duri, Jakarta Selatanyang ditemui KBK di lantai dasar Blok Merpati Rusun Rawa Bebek terdapat tiga RW yang tergusur. Untuk diwilayah RW 12 menurut Muhammad terdapat 247 bidang tanah dengan 300 kepala keluarga namun hingga akhir September baru sekitar 200 an kepala kelurga yang bersedia relokasi ke rusun Rawa Bebek.

Muhammad berujar kini semua warga Bukit Duri di Rusun Rawa Bebek segalanya kembali dari nol karena harus terbiasa dengan hunian tingkat dari yang tadinya tapak tanah.

“Warga masih harus membiasakan diri karena dirusun. Disini juga RT RW nya belum terbentuk karena masih harus berdiskusi dengan pengelola rusun,” jelas Muhammad.

Advertisement