BUNG Karno pernah bilang, gantungkan cita-citamu setinggi langit! Lalu apa cita-cita tertinggi dan keren itu? Anak TK pun bisa menjawab:”Jadi presiden!” Maklum, namanya juga anak-anak, mereka tak tahu seperti apa kerja presiden itu. Padahal jadi presiden itu malah “terpenjara” karena semua diatur protokoler termasuk keluarganya. Maka Guntur anak Presiden Sukarno sampai Gibran-Kaesang anak Presiden Jokowi sekarang, tak nyaman malah dengan jabatan ayahnya. Sebab mereka juga terdampak kehilangan kebebasannya, karena ke mana-mana dikuntit pengawal.
Presiden itu hak keuangan atau gajinya kecil lho, kalah dengan Dirut bank. Bila petinggi perbankan itu gajinya di atas Rp 250 juta, Presiden RI Rp 75 juta juga kagak nyampai. Memang semua difasilitasi oleh negara, dari rumah, kendaraan dan kesehatan. Tapi itu Presiden ketika jaman sudah normal, negara sudah punya uang. Bung Karno dulu usai diangkat jadi Presiden RI, pulangnya jalan kaki dari Pejambon (sekarang Gedung Pancasila) sampai Pegangsaan Timur.
Pemuda Sudiro –kemudian jadi Walikota Jakarta– kasihan betul pada presidennya. Maka dia kemudian mendekati sopir opsir Jepang agar menyerahkan mobil itu untuk Bung Karno. Untung saja sang sopir republiken tulen. Tanpa pikir panjang diserahkan kunci kontaknya, dan setelah diberi uang buat ongkos pulang kampong ke Kebumen, kaburlah si sopir dan oleh Sudiro mobil opsir Jepang itu diserahkan pada Bung Karno. “Nih Bung, kendaraan buat Anda. Masak presiden Indonesia kok nggak punya mobil….” Kata Sudiro.
Baru sebulan bangsa Indonesia menghirup udara kemerdekaan, eh ….16 September 1945 Sekutu masuk Jakarta dengan diboncengi Belanda. Mereka ingin kembali merebut Indonesia. Sultan HB IX lalu menyarankan lewat surat kepada Bung Karno, kalau mau Ibukota RI bisa dipindahkan sementara ke Yogyakarta. Benar saja, Bung Karno – Bung Hatta bersama sejumlah menterinya dinihari tanggal 4 Januari 1946 meninggalkan Jakarta menuju Yogyakarta dengan KA yang dimatikan lampunya.
Hingga Desember 1949 ibukota RI berada di Yogyakarta. Setelah penyerahan Kedaulatan 27 Desember 1949, ibukota RI kembali ke Jakarta. Selama 3 tahun di Yogyakarta, APBN RI sebesar 5 juta gulden ditanggung Ngersa Dalem (Sultan HB IX). Ketika Bung Hatta menanyakan anggaran itu untuk diganti, Sultan HB IX hanya bilang, “Nggak usah dipikirin!”
Penyerahan Kedaulatan itu merupakan hasil KMB (Konperensi Meja Bundar) di Den Haag. Rupanya ada pihak yang kecewa, sehingga SM Kartosuwiryo memilih ke hutan mendirikan Darul Islam (DI) dan melawan pemerintahan Presiden Sukarno. Tahun 1962 Kartosuwiryo berhasil dilumpuhkan dan dihukum mati. Presiden Sukarno menangis ketika harus teken surat eksekusi untuk Kartosuwiryo. Soalnya SM Kartosuwiryo itu teman di Surabaya di saat kost di rumah HOS Tjokroaminoto.
Pembrontakan demi pembrontakan terjadi, dan 3 kali Presiden Sukarno mau ditembak mati, tapi Allah SWT masih melindungi-Nya. Sampailah kemudian peristiwa G.30.S/PKI yang disusul lengsernya Presiden Sukarno pada 1966. Ganti pemerintahan Presiden Soeharto, muncul GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan OPM (Organisasi Papua Merdeka) yang ingin memisahkandari RI. Dan di era reformasi berikutnya, Timtim pun lepas di tangan Presiden BJ Habibie, dan mantan Mensristek itu habis dikecam oleh rakyat dan pejabat dan rakyat yang kecewa atas kebijakan melepas Timtim.
Begitulah pait-getirnya orang jadi presiden, tapi kok pada berebut pangin jadi presiden ya? Presiden Sukarno selamat dalam peristiwa penembakan di Makasar, SR Cikini dan salat Idul Adha di halamam Istana. Tapi John Kennedy (AS), Park Chung He (Korsel), Anwar Sadat (Mesir) tewas dimakan peluru lawan politiknya. Bahkan ada juga di Indonesia, presiden masuk penjara, yakni Presiden PKS Lutfi Hasan Ishak.
Memangnya enak jadi Presiden? Apa lagi setelah era reformasi, Presiden SBY dibilang kebo, Presiden Jokowi diledek plonga-plongo, tapi mereka tak bisa memenjarakan penghinanya. Sebab pasal penghinaaan Presiden sudah dicabut MK. Lagi pula masa jabatan presiden dibatasi. Hanya Bung Karno bisa jadi presiden RI seumur hidup, tapi dalam prakteknya, 3 tahun sebelum wafat sudah dilengserkan. Pak Harto bisa 32 tahun lamanya karena pasal 7 UUD 1945 ditafsirkan beda.
Belum lama ini menteri segala urusan Luhut Panjaitan menyindir orang yang ngebet pengin jadi presiden. Katanya, “Kalau buka orang Jawa jangan maksa jadi presiden!” Sedikit kata-kata itu, tapi sengak didengar. Ini kan bikin kecil hati warga negara non Jawa yang pengin tinggal di Istana Negara, padahal UU-nya tak melarangnya. Memang dalam prakteknya, dari Sukarno hingga Jokowi semua orang Jawa. Ada sekali nyelip non Jawa, tapi ibu BJ Habibie kan juga priyayi Yogyakarta.
Maka presiden itu serahkan saja pada ahlinya. Jangan pernah kalah nyagub malah kepengin jadi presiden, mentang-mentang keturunan presiden pertama ingi pula tinggal di Istana Negara. Padahal setelah bener-bener berhasil jadi Presiden RI, hanya Bung Karno dan Gus Dur saja yang mau tinggal di Istana Negara. Maka jika merujuk ke pepatah lama bayang-bayang hendaknya sepanjang badan, yang berhasil jadi presiden komisaris dan presiden partai, itu sudah merupakan anugrah Illahi. (Cantrik Metaram)





