
TRAGEDI memalukan dan memilukan kembali menggelayuti persepakbolaan nasional akibat kerusuhan dilakukan massa pendukung kesebelasan Persema, Malang yang menewaskan 130 orang termasuk dua anggota polisi serta korban luka-luka 188 orang.
Para pendukung yang dijuluki tim Singo Edan, merangsek ke lapangan dengan melompat pagar pembatas untuk mengejar para pemain kesayangannya mereka yang sedang menuju ruang ganti, karena tidak terima mereka kalah .
Kalah 2 – 3 dalam laga derbi di kandang sendiri sejak 23 tahun terakhir melawan Perebaya, membuat mereka melampiaskan amarahnya dengan merusak fasilitas pertandingan di Stadion Kanjuruhan, Malang, seperti bangku-bangku, papan reklame dan jaring gawang.
Tak hanya itu, para suporter yang merasa di atas angin, karena jumlah aparat keamanan yang tak sebanding, merusak sejumlah kendaraan polisi, bus dan kendaraan pribadi yang berada di seputar stadion.
Pertandingan yang berlangsung, malam Minggu (1/10) sejak pukul 20.00, menurut panitia, tiket yang dijual 25.000 lembar, walau ternyata jumlah penonton diperkirakan sampai 45.000 orang. Ini yang perlu diusut juga.
Tidak terjadi bentrok antarsupporter, mengingat arekmania pendukung Persebaya memang tidak diiizinkan menyaksikan pertandingan langsung, hanya nobar di tiga titik di Surabaya.
Patah dan Dislokasi Tulang
Korban, yang paling banyak mengalami patah atau dislokasi tulang atau sesak nafas saat berdesak-desakan berupaya ke luar lapangan, menghindari gas air mata.
Sejauh ini masih ada 17 jenasah korban yang belum terindentiikasi, karena mereka tidak membawa KTP atau tanda-tenda pengenal lain.
Sebenarnya satuan polisi menyemprotkan gas air mata ke arah supporter yang merangsek ke lapangan, namun akibat tiupan angin kencang, yang juga terkena adalah penonton di tribun selatan.
Semula, para korban dilarikan ke delapan fasisilitas layanan kesehatan disekitar Malang, namun kemudian, guna memudahkan pengawasan, korban-korban dipusatkan di RSUD Kanjuruhan dan RS Saiful Anwar, Malang.
Pemain Persebaya sendiri, walau sempat tertahan di lapangan, mereka akhirnya bisa keluar dengan kendaraan taktis yang disediakan Polda Jatim menuju tempat aman.
Mengingat larangan dari Federasi Sepakbola Internasional atau FIFA terkait penggunaan gas air mata dan peluru tajam di lingkungan arena pertadingan, kejadian di Stadion Kanjuruhan itu memantik tandatanya.
Presiden Jokowi selain berduka cita terhadap keluarga korban, meminta Kapolri, ketua PSSI mengevaluasi penyelenggaraan dan juga penanganan keamanan pertandingan dan mengusut tuntas agar kejadian ini tak terulang lagi.
Kepada Menkes dan Gubernur Jatim, Jokowi meminta agar para korban mendapat pelayanan sebaik-baiknya, sementara pertandingan Liga Satu PSSI dihentikan sambil menunggu hasil evaluasi.
Rusak Citra PSSI dan Bangsa
Tragedi maut di Stadion Kanjuruhan merusak citra persepakbolaan di Indonesia yang baru bangkit, dengan kemenangan Tim Garuda U-20 melawan Vietnam sehingga lolos langsung kualiikasi Piala Asia U-20, pada 2023 dan naik peringkat FIFA dari 170 menjadi 150) setelah dua kali mengalahkan kesebelasan Curacao pekan lalu.
Jika dibiarkan, ulah para supporter Singo Edan itu menjadi preseden buruk, karena bertolak belakang dengan prinsip fairness yang dijunjung tinggi dalam pertandingan olah raga.
Pengusutan tuntas, mulai dari wasit, pelaksana, pengawas pertandingan, juga tim keamanan sehingga gagal mencegah aksi brutal massa, perlu dilakukan.
Di sisi lain,kerusuhan maut di Stadion Kanjuruhan merupakan sub budaya kekerasan seperti tawuran jalanan, antarkampung, aksi klithi di Yogyakarta dan menang-menangan di ruang publik yang sudah berlangsung sejak lama di negeri ini.
Dalam jangka panjang, budaya anti kekerasan, sosialisasi pasal-pasal hukum terkait pelaku kekerasan, pelajaran prikemanusiaan dan budi pekerti serta wawasan kebangsaan harus ditanamkan sejak dini.




