ATHENA—Nasib pengungsi wanita di sejumlah kamp di Yunani sangat memprihatinkan. Mereka hidup penuh ketakutan dan ancaman. Dalam laporan yang dirilis Refugee Rights Data Project (RRDP) menyebutkan, mereka kerap menghadapi ancaman pemerkosaan dan menerima tindakan kekerasan lainnya.
Studi yang dipublikasikan pada Selasa (24/1) kemarin ini menemukan, posisi pengungsi wanita sangat rentan karena kerap menerima kekerasan berbasis gender, pelecehan seksual, dan tindakan tidak menyenangkan lainnya dari aparat. Para peneliti dari organisasi yang berbasis di Inggris ini melakukan survey terhadap lebih dari 300 pengungsi dan aktivis yang membantu pengungsi di sembilan kamp akhir tahun lalu.
Dalam temuan mereka, telah terjadi perkosaan, prostitusi, kawin paksa, dan perdagangan. Pengungsi wanita muda adalah kelompok yang paling terdampak. Mirisnya, selain aparat, pelaku tindakan tersebut adalah sesame pengungsi, bahkan relawan yang selama ini membantu dan melayani mereka.
Seorang pekerja LSM yang diwawancarai mengatakan, di satu kamp resmi di Athena, hampir tidak ada langkah-langkah keamanan yang ada untuk melindungi perempuan. Di Yunani, kamp-kamp pengungsi dikelola oleh pemerintah dan LSM. Namun, banyak juga kamp yang tidak resmi yang didirikan oleh pengungsi sendiri.
Lebih lanjut studi tersebut menguraikan, lebih dari 46 persen wanita merasa tidak aman tinggal di kamp-kamp, dan 69 persen mengatakan mereka tinggal di rumah yang juga tidak aman. Banyak yang mengatakan takut pergi ke toilet di malam hari. Pencahayaan yang buruk di kamp-kamp membuat mereka rentan terhadap serangan.



