PENYAKIT jantung menjadi beban pembiayaan BPJS Kesehatan tertinggi sepanjang Januari hingga Agustus 2025 dengan total Rp 527,1 miliar, disusul penyakit ginjal Rp 460,7 miliar, dan kanker Rp 302,1 miliar.
Pemicunya mulai dari kondisi riwayat hipertensi, diabetes, hingga obesitas yang banyak berkaitan dengan gaya hidup tak sehat, termasuk pola makan tinggi gula, garam, dan lemak, hingga kebiasaan merokok.
Detikhealth (22/1) melaporkan, khusus terkait pola konsumsi tinggi gula, pemerintah mewacanakan penerapan cukai minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) yang sempat diupayakan berlaku 2025, tetapi kembali ditunda hingga akhir 2026.
Merespons itu, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin memperingatkan, perubahan gaya hidup akan jauh lebih efektif sebagai tindakan preventif jika tumbuh dari kesadaran masing-masing individu.
“Kalau saya lebih percaya, untuk mengubah gaya hidup kebiasaan itu nggak bisa dipaksa. Teman-teman juga ngerasa kan, dipaksa shalat, sama ingin shalat sendiri itu beda. Jadi harusnya yang kita dorong adalah masyarakat sadar sendiri untuk menerapkan pola hidup sehat” kata Budi saat ditemui di Kemenkes RI, Kamis (22/10).
Data Kemenkes RI 2025 menunjukkan, prevalensi penyakit jantung di Indonesia tercatat 0,85 persen (sekitar 24,3 juta orang) , yang terbanyak di DI Yogyakarta (1,67 persen), disusul Papua (1,65 persen) dan DKI Jakarta (1,5 persen).
Sekitar separuh prevalensi adalah penyakit jantung koroner yang mulai banyak menyerang kaum muda, akibat perubahan gaya hidup, pola makan yang tidak sehat dan juga kurang olah raga.
Penyakit jantung yang disebut “silent killer” atau pembunuh senyap yang menyebabkan kematian tiba-tiba, menurut WHO, mencabut nyawa sekitar 651. 500 orang di Indonesia tiap tahun.
Hidup tertib, pola makan, tidur dan hindari stress, olahraga teratur dan tidak merokok adalah selain cara terbaik menghindari penyakit jantung yang sangat membebani pembiayaan BPJS Kesehatan (Detikhealth/ns).





