Penyebab Perut Kembung yang Perlu Diwaspadai, Laktosa hingga Kecemasan

Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA, KBKNews.id – Perut kembung adalah kondisi ketika perut terasa penuh, kencang, bahkan tampak membesar. Umumnya, kondisi ini disebabkan oleh penumpukan gas yang berlebihan di dalam saluran pencernaan.

Mengutip Hindustan Times, dr. Rajesh Bathini, seorang ahli gastroenterologi dari Rumah Sakit Manipal, India, menjelaskan bahwa beberapa jenis makanan seperti sayuran tinggi serat dan produk olahan susu dapat memicu perut kembung.

Selain makanan, gangguan kesehatan seperti tukak lambung akibat infeksi Helicobacter pylori, GERD, dan sindrom iritasi usus besar (IBS) juga bisa menjadi penyebab.

Dr. Bathini menambahkan, penyakit lain seperti diabetes yang tidak terkontrol, gangguan tiroid, serta efek samping obat-obatan seperti aspirin atau suplemen zat besi bisa memperparah kondisi.

Bahkan, masalah serius seperti gagal jantung atau serangan jantung terkadang muncul dengan gejala kembung.

Sementara itu, dr. Gyanarajan Rout mengingatkan bahwa jika perut kembung terjadi terus-menerus, bisa jadi itu merupakan tanda dari gangguan yang lebih serius, seperti intoleransi laktosa, IBS, atau SIBO (pertumbuhan bakteri berlebih di usus halus).

Ia juga menyebut bahwa ketidakseimbangan hormon, terutama pada perempuan, bisa menyebabkan kembung, begitu pula dengan stres dan kecemasan yang memengaruhi sistem pencernaan.

Dokter lainnya, dr. Anurag Shetty dari Rumah Sakit KMC, menjelaskan bahwa gas dan perut kembung sering dianggap sebagai masalah yang berkaitan dengan pola makan.

Namun, kondisi ini sebenarnya lebih kompleks. Misalnya, pada orang dengan intoleransi laktosa, makanan yang tidak tercerna dengan baik akan difermentasi di usus, menghasilkan gas berlebih.

Masalah pergerakan usus seperti sembelit kronis juga bisa memicu fermentasi dan kembung. Ia juga menyoroti peran perubahan hormon saat menstruasi atau menopause yang dapat menimbulkan rasa kembung pada perempuan.

Meski perut kembung umumnya tidak berbahaya, namun jika berlangsung lama, sebaiknya tidak diabaikan. Dr. Gyanarajan menyarankan untuk menerapkan gaya hidup sehat dengan memperhatikan pola makan, cukup olahraga, dan mengelola stres.

Jika gejala tetap muncul, penting untuk segera berkonsultasi ke dokter agar bisa diketahui penyebab pastinya dan mendapat penanganan yang sesuai.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here