Penyebab Super Kargo Evergreen Kandas

Ilustrasi kapal super kargo Evergreen yang kandas sehingga menghambat alur pelayaran Terusan Suez sejak 23/3 lalu.

KANDASNYA kapal super kargo Evergreen di Terusan Suez (23/3) lalu selain menimbulkan kerugian milyaran dollar AS akibat macetnya alur lintas pelayaran strategis dunia itu, juga menyisakan misteri penyebabnya.

Berdasarkan pengakuan sang kapten kapal, badai pasir dan angin kencang yang bertiup dari Gurun Sinai di Mesir telah menghalangi  penglihatannya sehingga kapal menabrak daratan di sisi kanal.

Namun Kepala Otoritas Terusan Suez Mesir, Osama Rabie mengatakan pada AFP (27/3), angin kencang bukan penyebab utama kapal pengangkut kargo raksasa berukuran panjang 400 meter, lebar 59 meter dan bobot 200 ribu ton itu keluar jalur dan menabrak sisi kanal.

“Semua faktor penyebabnya akan terlihat dalam pemeriksaan,” kata Rabie seraya menambahkan, pemindahan kapal nahas yang membuat  kegiatan pelayaran terhenti diharapkan rampung dua tiga hari ini.

Terusan Suez adalah salah satu jalur laut paling vital di dunia sehingga sampai hari ini kandasnya Evergreen membuat lebih 300 kapal  mengantri di kedua ujung Terusan Suez yang menghubungkan antara Laut Mediterania dan Laut Merah.

Rabie menuturkan, otoritas Mesir sedang berupaya memindahkan kapal dengan mengerahkan kapal tunda dan ekskavator, agar haluan dan baling-baling besar kapal Evergreen bisa bergerak lagi.

Pada pukul 22.30 waktu setempat Jumat lalu (26/3), menurut Rabie, baling-baling kapal sudah bisa berputar walau belum mencapai kecepatan penuh, namun kemudian macet lagi karena perubahan pasang surut air laut.

Tim akhirnya melakukan pengerukan lebih dalam lagi dengan eksavator untuk membebaskan kapal yang kandas tersebut.

Jalur Alternatif

Bagi kegiatan pelayaran, rute alternatif melalui Tanjung Harapan di tanduk Afrika tentu akan menambah waktu pelayaran dan BBM dan ujung-ujungnya total biaya angkut.

Dengan kecepatan 12 knot, diperlukan waktu 41 hari melalui rute Tanjung Harapan dari  Port Said, Mesir ke Amsterdam, padahal jika melalui Trusan Suez bisa ditempuh hanya dalam 13 hari.

Anoop Singh, kepala analisis kapal tanker yang berbasis di Singapura mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa rute pelayaran memutar akan memperpanjang jarak 15.000 mil dan menambah biaya 450.000 dollar AS (Rp 6,4 miliar).

Badan mega tanker Evergreen nyaris menutup lebar Terusan Suez sehingga tidak bisa diliwati ratusan kapal lain terutama yang menggunakannya untuk pengangkutan migas, bahan mentah atau barang-barang industri lainnya.

Dari foto udara tampak haluan Evergreen menabrak sisi timur kanal, sedangkan buritannya tersangkut di sisi barat. Upaya telah dilakukan untuk membersihkan pasir dan lumpur dari sekitar kapal, sementara kapal tunda telah dikerahkan untuk mencoba menggeser posisinya.

Terusan sepanjang 193 Km dan lebar 200 meter yang dibangun atas prakarsa insinyur Perancis Ferdinand Vicomte Lesseps dan  konstruksinya dimulai 25 April 1859, lalu diresmikan pada 1869, melayani 10 persen perdagangan global, menghubungkan Eropa dan Asia.

Rugi ratusan juta dollar

 Menurut taksiran Lloyd’s List, kemacetan di Terusan Suez, membuat dunia rugi 400 juta dollar AS (Rp 5,6 triliun) per jam untuk angkutan barang yang tertunda, padahal, diperlukan berminggu-minggu lagi untuk membuat kanal strategis itu bisa berfungsi lagi.

Lloyd’s List yang merupakan merupakan jurnal berita perkapalan yang berbasis di London, Inggris. Lloyd’s List memperkirakan, nilai barang di dalam kapal kargo yang melewati Terusan Suez rata-rata 9,7 miliar dollar AS (Rp 139 triliun) setiap harinya.

Dari nilai barang tersebut, 5,1 miliar dollar AS (Rp 73 triliun) diangkut oleh kapal-kapal dari timur ke barat, sebaliknya 4,6 miliar dollar AS    (Rp 66 triliun) sisanya oleh kapal-kapal dari barat ke timur. Sampai hari ini saja ratusan kapal terhalang melintasi Terusan Suez.

Musibah kapal Evergreen dikhawatirkan akan mengatrol harga minyak bumi yang rantai pasokannya terutama pada jalur dari Timur Tengah ke Eropa atau Asia utara ke Eropa terganggu. Diperkirakan 1,9 juta barel minyak diangkut melalui Terusan Suez.

Selain rantai pasokan migas dan angkutan kargo terganggu, yang paling terpukul akibat terhentinya kegiatan pelayaran di Terusan Suez yakni Mesir yang mendapatkan sekitar 5,61 milyar dollar AS pada 2020 dari layanan pelayaran.

Terusan Suez terakhir kali ditutup pada 1967 ketika perang pecah antara Mesir dan Israel dan sejak itu sampai 1975 kapal-kapal yang biasa meliwati kanal terpaksan menempuh rute pelayaran memutar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement