Penyintas Gempa Maroko Butuh Makanan dan Air

Warga meletakkan selimut saat para penyintas gempa tidur di jalanan Desa Moulay Brahim, Provinsi Al Haouz, Maroko, Sabtu (9/9/2023). (Foto: ANTARA/REUTERS/Nacho Doce)

AL HAOUZ – Para korban yang selamat dari gempa bumi paling mematikan di Maroko dalam lebih dari enam dekade terus berjuang mencari persediaan makanan dan air pada hari Minggu (10/9/2023). Sementara, upaya pencarian korban hilang terus berlangsung di desa-desa yang sulit dijangkau oleh tim penyelamat.

Jumlah korban tewas telah mencapai lebih dari 2.000 orang. Diperkirakan akan terus bertambah. Banyak orang harus menghabiskan malam kedua mereka di luar rumah setelah gempa dengan kekuatan 6,8 Magnitudo mengguncang pada Jumat malam.

Tim penyelamat juga menghadapi kendala mencapai desa-desa yang paling parah terkena dampak di High Atlas, pegunungan curam di mana permukiman seringkali terpencil dan banyak rumah yang rusak.

Di Moulay Brahim, desa dekat pusat gempa sekitar 40 km selatan Marrakesh, penduduk menceritakan bagaimana mereka harus menggali mayat dari reruntuhan dengan tangan kosong.

“Kami kehilangan rumah dan orang-orang kami juga. Kami sudah tidur di luar selama dua hari. Tidak ada makanan, tidak ada air, dan kami juga kehilangan listrik. Kami hanya menerima sedikit bantuan dari pemerintah. Kami hanya berharap pemerintah bisa membantu kami,” ungkap Yassin Noumghar (36), warga Moulay Brahim, seperti diberitakan Reuters.

Meskipun demikian, beberapa upaya bantuan sedang dilakukan di desa tersebut. Warga mengatakan bahwa mereka menerima sumbangan makanan dari teman dan keluarga yang tinggal di tempat lain.

Pada Minggu pagi, mereka membagikan hidangan keju, roti, dan minuman panas di masjid. Selain itu, tenda darurat telah didirikan di lapangan sepak bola.

Warga yang menghabiskan malam di luar dilindungi dengan selimut. Seorang pria yang berusaha menyelamatkan kasur dan pakaian dari rumahnya yang hancur mengungkapkan keyakinannya bahwa beberapa tetangganya masih terperangkap di bawah puing.

Pemerintah telah mengumumkan langkah-langkah darurat untuk mengatasi bencana ini, termasuk peningkatan tim pencarian dan penyelamatan, penyediaan air minum, serta distribusi makanan, tenda, dan selimut.

Spanyol telah menerima permintaan resmi dari Maroko dan akan mengirimkan tim pencarian dan penyelamatan. Prancis juga menyatakan kesiapannya untuk membantu dan menunggu permintaan dari Maroko.

Negara lain yang menawarkan bantuan termasuk Turki, yang sebelumnya pernah mengalami gempa bumi pada Februari dengan korban lebih dari 50.000 orang.

Data terbaru dari Kementerian Dalam Negeri menunjukkan bahwa jumlah korban tewas mencapai 2.012 orang, dengan 2.059 orang lainnya terluka, termasuk 1.404 orang dalam kondisi kritis.

Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan lebih dari 300.000 orang terdampak oleh bencana ini. Caroline Holt, direktur operasi global Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, menyatakan bahwa 24 hingga 48 jam mendatang akan menjadi krusial dalam usaha penyelamatan nyawa.

Jalan yang menghubungkan Marrakesh dan Moulay Brahim sebagian besar terhalang oleh tumpukan batu besar yang roboh akibat gempa.

Pusat gempa terletak sekitar 72 km barat daya Marrakesh, sebuah kota yang terkenal dengan masjid abad pertengahan, istana, dan seminari yang indah dengan ubin mosaik berwarna cerah di tengah gang-gang berwarna merah jambu.

Kawasan tua Marrakesh mengalami kerusakan parah, dan banyak keluarga merasa khawatir rumah mereka tidak lagi aman untuk ditinggali.

Gempa ini merupakan bencana gempa bumi paling mematikan di Maroko sejak tahun 1960, ketika perkiraan menunjukkan lebih dari 12.000 orang tewas, menurut Survei Geologi AS.

Sumber: Antara

Advertisement