Hari Keluarga Nasional bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan sebuah ajakan untuk kembali meneguhkan makna keluarga sebagai ruang pertama pembentukan jiwa. Tema “Ayah Hebat, Jiwa Anak Kuat” menyoroti betapa pentingnya kehadiran ayah dalam pengasuhan.
Kehadiran ini tidak cukup hanya fisik, melainkan harus utuh—emosional, psikologis, dan sosial—agar anak tumbuh dengan ketangguhan mental sejak dini.
Sejarah Harganas berakar dari peristiwa 1949, ketika keluarga Indonesia kembali berkumpul setelah masa agresi militer. Dari momen itu, keluarga dipandang sebagai fondasi bangsa.
Kini, makna tersebut semakin relevan karena tantangan kesehatan jiwa anak dan remaja kian nyata. Data menunjukkan sekitar sepertiga remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, sementara fenomena fatherless—minimnya keterlibatan ayah—menjadi salah satu faktor risiko yang memperburuk kondisi tersebut. Anak yang tumbuh tanpa dukungan ayah lebih rentan terhadap perundungan, tawuran, hingga penyalahgunaan narkoba.
Program skrining kesehatan jiwa yang dilakukan Kementerian Kesehatan pada 2025–2026 menemukan hampir 10% anak Indonesia mengalami masalah kesehatan jiwa. Dari sekitar 7 juta anak yang diskrining, 4,4% atau 338 ribu anak menunjukkan gejala kecemasan, sementara 4,8% atau 363 ribu anak mengalami depresi. Lebih mengkhawatirkan lagi, data Global School-Based Student Health Survey mencatat peningkatan signifikan kasus percobaan bunuh diri di kalangan remaja, dari 3,9% pada 2015 menjadi 10,7% pada 2023. Angka ini menegaskan bahwa kesehatan jiwa anak bukan isu kecil, melainkan tantangan besar yang membutuhkan perhatian serius lintas sektor.
Keluarga sejatinya memiliki delapan fungsi yang saling melengkapi. Fungsi keagamaan menanamkan nilai iman dan ketenangan batin, sementara fungsi sosial budaya memperkenalkan norma dan tradisi yang membentuk identitas. Fungsi cinta kasih menghadirkan kehangatan emosional, dan fungsi perlindungan menjadikan rumah sebagai tempat aman bagi anak. Fungsi reproduksi memastikan keberlanjutan generasi dengan perencanaan sehat, sedangkan fungsi sosialisasi dan pendidikan menjadikan keluarga sekolah pertama yang menanamkan nilai kejujuran dan disiplin.
Fungsi ekonomi mengajarkan pengelolaan sumber daya, dan fungsi pembinaan lingkungan menumbuhkan kesadaran menjaga alam. Bila dijalankan konsisten, delapan fungsi ini menjadi benteng utama bagi kesehatan jiwa anak.
Kampanye pengasuhan positif yang digerakkan Kementerian Kesehatan menekankan praktik sederhana namun berdampak besar. Luangkan waktu 15–30 menit tanpa gawai untuk bermain atau mengobrol dengan anak, dengarkan cerita mereka tanpa menghakimi, dan fokuslah pada potensi yang mereka miliki. Ayah diharapkan menjadi teladan penuh kasih, menunjukkan cara mengelola stres dan menerapkan disiplin positif tanpa kekerasan. Kehadiran ayah dan ibu yang seimbang membangun secure attachment—ikatan aman yang membuat anak mampu meregulasi emosi, membentuk resiliensi, dan menumbuhkan rasa percaya diri.
Dimensi kehadiran ayah terlihat dalam teladan, disiplin, dan keterlibatan aktif, sementara ibu menghadirkan kasih sayang konsisten, komunikasi empatik, dan penguatan potensi anak. Ketika keduanya hadir seimbang, anak tumbuh dalam lingkungan yang aman secara emosional, kaya teladan, dan tangguh menghadapi era digital. Sebaliknya, dominasi gawai dan risiko fatherless emosional—ayah hadir fisik tetapi tidak terlibat secara batin—dapat membuat anak kehilangan dukungan utama dan mencari perhatian di luar rumah.
Hari Keluarga mengingatkan kita bahwa kesehatan jiwa anak berawal dari rumah. Kehadiran ayah dan ibu yang utuh, menjalankan fungsi keluarga dengan penuh kasih, adalah warisan terbaik untuk membangun generasi yang kuat, percaya diri, dan siap menghadapi tantangan zaman.





