Perancis Didesak Tekan Sekutu Minimalkan Bahaya Bagi Warga Sipil Yaman

Ilustrasi Serangan di Pasar di Yaman/ AFP
PERANCIS – Pemerintah Perancis telah didesak untuk menekan sekutu-sekutunya, termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), untuk meminimalkan kerugian bagi warga sipil di kota pelabuhan Hudaydah, Yaman.

Seruan itu dibuat oleh sekitar 16 LSM pada malam konferensi kemanusiaan di Yaman yang diselenggarakan di ibukota Perancis, Paris.

Dalam sebuah surat terbuka kepada Presiden Perancis Emmanuel Macron, dilansir Press TV, Rabu (27/6/2018), LSM-LSM menyatakan keprihatinan tentang konferensi itu ketika diketuai bersama oleh Arab Saudi, yang mengambil bagian dalam serangan besar-besaran terhadap Hudaydah.

Mereka juga mendesak Paris untuk menangguhkan pemindahan senjata ke Arab Saudi dan UEA “di mana ada risiko besar dari senjata-senjata ini digunakan di Yaman untuk melakukan atau memfasilitasi pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional atau hukum hak asasi manusia internasional”.

Kelompok-kelompok itu juga mendesak Prancis untuk “mengutuk serangan yang tidak pandang bulu dan tidak proporsional” pada warga sipil oleh pihak-pihak yang terlibat dalam perang terhadap Hudaydah.

Sejak 13 Juni, koalisi militer Saudi, dengan bantuan milisi yang setia kepada mantan Presiden Yaman Abd Rabbuh Mansur Hadi, telah menghantam Hudaydah, ibukota provinsi, kota berpenduduk padat dan pelabuhan paling penting di Yaman.

Arab Saudi dan sekutunya melancarkan perang di Yaman pada Maret 2015 untuk menginstal ulang rezim Hadi dan menghancurkan gerakan Ansarullah.

Kementerian Hak Asasi Manusia Yaman mengumumkan dalam sebuah pernyataan pada 25 Maret bahwa perang telah menyebabkan 600.000 warga sipil tewas dan terluka hingga saat itu.

Agresi Saudi juga telah mengambil banyak korban di fasilitas dan infrastruktur negara itu, menghancurkan banyak rumah sakit, sekolah, dan pabrik.

Sejak 2016, negara miskin juga telah berjuang dengan wabah kolera yang mematikan, yang telah membunuh ribuan orang.

Beberapa negara Barat, termasuk Amerika Serikat, Inggris dan Perancis, dituduh terlibat dalam agresi karena mereka memasok rezim Riyadh dengan senjata canggih dan peralatan militer serta bantuan logistik dan intelijen.

Advertisement