Perancis vs Turki, Menang Mana?

Foto: Legion Etrangere (pasukan Legiun Asing) Perancis yang kesohor. Hubungan Perancis dan Turki tegang, sementara Presiden Emmanuel Macron dikecam pemimpin dan komunitas Islam dunia atas sikap permusuhannya terhadap Islam dan penghinaan pada Nabi Muhammad pasca dua aksi pemenggalan yang menewaskan empat warganya baru-baru ini.

KETEGANGAN  antara Perancis dan Turki – dua negara sesama anggota Pakta Atlantik Utara (NATO) – meningkat akhir-akhir ini walau sejauh ini masih sebatas perang kata-kata antara pemimpinnya.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengancam akan mengenakan  embargo terhadap produk Perancis karena presidennya,  Emmanuel Macron dianggap menyulut permusuhan terhadap Islam dan penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW.

Macron juga dikecam oleh sejumlah pemimpin dan komunitas Islam lainnya setelah pernyataannya yang dinilai tendensius terhadap Islam  pasca pemenggalan seorang guru sejarah di SMA Paris, Samuel Paty oleh remaja asal Chechnya, Rusia, Abdoulakh Anzorov (16/10).

Anzorov menghadang Paty setelah ia menerima laporan dari ortu murid, di depan kelas ia mengangkat lagi isu kartun Nabi Muhammad SAW terbitan majalah satire Charlie Hebdo yang pernah heboh dan menelan 12 korban jiwa pada 2015.

Trauma publik belum reda pasca pemenggalan Paty, terjadi lagi penusukan dan pemenggalan yang menewaskan tiga orang termasuk seorang wanita oleh remaja asal Tunisia di Basilika Notre-Dame, Nice (29/10).

Turki yang mayoritas penduduknya pemeluk Islam menerapkan paham  sekuler, namun isu sentimen agama yang diangkat Presiden Erdogan mau tidak mau mendorong komunitas Islam sedunia mendukungnya.

Relasi Turki dan Perancis mengalami pasang-surut. Saat konflik wilayah antara Turki dan Armenia pada 1920, Perancis mendukung Armenia dan dalam perang Armenia dan Azerbaijan sejak 27 September, Turki mendukung Azerbaijan, sebaliknya  Perancis di belakang Armenia.

Terkait sengketa wilayah eksplorasi minyak di laut Mediterania Timur antara sesama anggota NATO Turki dan Yunani yang sejauh ini belum terselesaikan, Perancis juga terang-terangan memihak Yunani.

Perancis Ranking ke-7 Dunia

Dari sisi militer, menurut catatan Global Firepower 2020, Perancis dengan anggaran militer 50,1 milyar dollar AS (sekitar Rp739 triliun) menempati ranking ke-7 dunia, sedangkan Turki dengan anggaran 19 milyar dollar (Rp280 triliun) di peringkat ke-11.

Turki unggul dalam jumlah personil tetap (tidak termasuk cadangan) dari Perancis yakni 355-ribu berbanding 268-ribu, walau jumlah personil pada era now bukan lagi  penentu utama hasil peperangan.

AD Turki didukung 2,622 tank tempur utama (Main Battle Tank-MBT) a.l  Leopard 2A4 eks-Jerman, berbagai varian M-60 Patton buatan AS dan Altay buatan lokal, 8.777 kendaraan lapis baja. 1,278 pucuk artileri swa-gerak, 1,260 artileri medan dan 438 buah peluncur roket ganda (Multiple Launch Rocket System – MLRS).

Walau Perancis termasuk salah satu produsen tank terbaik di dunia (a.l. Leclerc dan AMX-30), AD-nya hanya mengoperasikan 528 tank utama (MBT), 6.028 unit kendaraan lapis baja, 109 artileri swagerak, artileri medan dan belasan peluncur roket.

AD Perancis mengandalkan rudal-rudal buatannya seperti rudal darat ke udara (a.l. Crotale, Mistral) berbagai varian Excocet yang   terbukti ampuh saat digunakan Argentina dalam Perang Malvinas  1982, rudal taktis Aster 15 dan Aster 30 serta rudal jelajah Horizon.

AU Turki tidak bisa diremehkan, diperkuat 1.200 aneka pesawat,  a.l. 410  unit pesawat tempur yang lebih separuhnya F-16 Fighting Falcon blok 50 yang diperbarui, F-4 Phantom II serta 589 helikopter serang seperi AH-64 Apache dan U-60 Black Hawk (semua buatan AS).

Jika saja kontrak pembelian dan pengembangan 100-an pesawat generasi kelima F-35 Super Lightning II  berkemampuan siluman buatan AS  tidak dibatalkan, kekuatan matra udara Turki tentunya berlipat ganda.

Kontrak bernilai sekitar 7,8 milyar dollar AS (sekitar Rp115 triliun) untuk pengadaan 100 unit F-35 dibatalkan AS karena Turki memilih untuk membeli sistem rudal pertahanan udara S-400 Triumph.

AS khawatir, jika Turki – sesama anggota NATO – mengoperasikan rudal S-400 yang mampu menghancurkan berbagai obyek sasaran udara seperi rudal atau pesawat secara simultan sampai jarak 400 Km dan ketinggian 30 Km akan menganggu kompatibilitas sistem internal  pakta pertahanan tersebut.

Sementara matra udara Perancis diperkuat sekitar 1.100 pesawat,  termasuk 270 pesawat tempur Mirage 2000 dan pesawat generasi  kelima siluman Rafale  serta 500-an helikopter termasuk 100 heli serang Eurochopter Tiger buatan patungan dengan Jerman.

Di laut, kekuatan kedua negara relatif seimbang, sedangkan keunggulan  AL Perancis adalah empat kapal induk a.l. Charles de Gaulle (42-ribu ton) dibandingkan Turki yang tidak memilikinya.

Selebihnya, matra laut Perancis didukung 180 ragam kapal a.l. sembilan kapal selam termasuk kapal peluncur rudal balistik Triomphant, 11 kapal perusak (destroyer), 11 frigates dan masing-masing 17 unit penyapu ranjau dan kapal patroli.

Sebaliknya, armada laut Turki mengoperasikan total 149 kapal a.l. 12 kapal selam, 16 frigates, 10 korvet, 35 kapal penjaga pantai dan 11 penyapu ranjau dan kapal-kapal pendukung lainnya.

Keunggulan Perancis adalah kekuatan senjata pemusnah massal nuklir seperti  AS, Rusia, Inggeris, China, India, Pakistan  dan Korea Utara yang tidak dimiliki Turki.

Selain keunggulan teknologi, banyak faktor lainnya yang menentukan hasil pertempuran seperti adu taktik dan strategi dan juga keandalan manusianya.

Ketegangan antara Perancis dan Turki diperkirakan tidak akan menuju  perang terbuka, mengingat keduanya di bawah bendera NATO yang dinaungi AS sebagai “Godfather”-nya.(Berbagai Sumber/ns)

 

 

 

 

 

 

Advertisement