Perang Iran vs Koalisi AS dan Israel Memasuki Hari ke-9

Pesawat pengebom AS Lancer B-1B milik AS didukung Siluman F-22 Raptor dan F-35 Lightning yang diandalkan menyerang posisi-posisi Iran. Perang antara Iran dan AS/Israel masih berlangsung seru sampai hari ke-9 Minggu 7/3)

ESKALASI pertempuran masih tinggi pada hari ke-9 Perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel, ditandai saling serang memanfaatkan keunggulan masing-masing.

AS dan Israel memanfaatkan teknolgi persenjataan dan kekuatan AL serta AU dan jaringan intelijen-nya, sebaliknya Iran mengandalkan stok rudal balistiknya yang mampu menjangkau Israel dan pangkalan militer AS yang tersebar di Timur Tengah.

Kubu AS dan Israel dengan keunggulan teknologinya melancarkan serangan udara dan rudal taktis Tomahawk,  diluncurkan dari kapal-kapal perang AS yang sudah berada di perairan sekitar Iran termasuk kapal induk USS Abraham Licoln dan USS Gerald Ford.

Dilaporkan sejumlah kantor berita transnasional, ribuan target disasar oleh kekuatan gabungan AS dan Israel berupa radar, pusat komando dan jaringan komukasi, logistik, serta ratusan situs peluncur rudal Iran yang tersebar di berbagai wilayah.

Kematian Pemimpin Tettinggi Iran Ali Khamenei beserta 40-an pejabat tinggi militer juga menunjukkan operasi presisi menggunakan persenjataan canggih didukung keakurasian dan ketajaman laporan intelijen.

Hampir seluruh armada AL Iran (30-an kapal perang) termasuk satu kapal perusak yang baru pulang latihan gabungan di India dilaporkan ditenggelamkan, begitu pula pesawat-pesawat tempur buatan tahun 70-an warisan AS seperti F-4 Phantom, F-5 Tiger F-5 dan A-4 Skyhawk tidak mampu berbuat banyak.

 

Rudal balistik, andalan Iran

Sebaliknya, Iran dengan stok ribuan rudal-rudal balistik termasuk yang berkualiikasi jelajah dan berkecepatan hipersonik, menebar ketakutan penduduk Israel dan juga diluncurkan ke sejumlah pangkalan AS di Timur Tengah serta kilang-kilang minyak Arab Saudi dan Bahrain.

Walau pun awalnya Presiden Trump mengesampingkan invasi pasukan darat karena dianggap membuang-buang waktu dan biaya, agaknya opsi itu diperlukan untuk memastikan, titik-titik ancaman terutama situs-situs peluncur rudal di bawah tanah dilumpuhkan.

Jika terjadi perang darat, AS agaknya akan tetap mengandalkan keunggulan udaranya untuk membombardir situs-situs dan konsentrasi pasukan reguler dan Garda Revolusi Iran (IRGC), sementara Iran mengandalkan penguasaan medan dan terlindung di bunker-bunker.

Korban di pihak Iran yang tewas, dilaporkan sebanya 1.322 orang termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, Menhan Aziz Nasirullah, Komandan IRGC Moh. Pakpour dan sejumlah tokoh militer dan intelijen lainnya.

Harga minyak

Perang Iran vs AS dan Israel dicemaskan bakal berdampak pada perekonomian global seiring dengan lonjakan harga minyak a.l akibat blokade Selat Hormuz yang merupakan lintasan 20 persen tanker pengangkut minyak.

Harga minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), dilaporkan melonjak lebih dari 38 persen, sempat menembus 92 dollar AS per barel pada perdagangan Jumat (6/3).

Sementara itu, harga minyak Brent sebagai acuan harga global naik sekitar 30 persen hingga diperdagangkan di atas 94 dollar AS per barel.

Kenaikan ini menjadi lonjakan mingguan terbesar Brent sejak April 2020. Kedua acuan minyak tersebut kini berada pada level harga yang terakhir terlihat pada April 2024 untuk Brent dan setidaknya sejak Oktober 2023 untuk WTI.

Kenaikan harga minyak ini dipicu salah satu gangguan pasokan terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Para analis menilai harga minyak masih berpotensi naik lebih tinggi apabila konflik terus berlanjut.

Harga minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), dilaporkan melonjak lebih dari 38 persen, sempat menembus 92 dollar AS per barel pada perdagangan Jumat (6/3).

Sementara itu, harga minyak Brent sebagai acuan harga global naik sekitar 30 persen hingga diperdagangkan di atas 94 dollar AS per barel.

Kenaikan ini menjadi lonjakan mingguan terbesar minyak jenis Brent sejak April 2020. Kedua acuan minyak tersebut kini berada pada level harga yang terakhir terlihat pada April 2024 untuk Brent dan setidaknya sejak Oktober 2023 untuk WTI.

Kenaikan harga minyak ini dipicu salah satu gangguan pasokan terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Para analis menilai harga minyak masih berpotensi naik lebih tinggi apabila konflik terus berlanjut. (Sumber: Berbagai kantor berita trans nasional/ns)

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here