
PERANG di satu sisi adalah tragedi bagi rakyat di yang menjadi korbannya, berdampak dan membenani sosial dan ekonomi negara yang terlibat, namun masa panen bagi produsen dan pialang senjata.
Industri Pertahanan dan Teknologi Perancis, dilaporkan akan merekrut 12-ribu karyawan baru untuk merespons permintaan produknya di tengah Perang Rusia vs Ukraina saat ini.
Karyawan baru sebanyak itu, menurut CEO Thales Patrice Caine seperti dikutip mingguan Le Journal de Dimanche (26/2), 5.500 orang diantaranya akan ditempatkan di Perancis, selebihnya Inggeris Raya (1.050 orang). Australia (600), India (550) dan AS (540).
Thales yang mempekerjakan sekitar 80.000 orang memproduksi berbagai hi-tech produk, baik untuk kepentingan sipil mau pun militer dan tercatat memasok 60 persen sistem elektronika persenjataan di Eropa.
Thales a.l. mengirimkan sistem radar pertahanan udara Ground Master GM200 untuk membantu pasukan Ukraina mendeteksi serangan udara dron dan pesawat.
Sementara terkait industri persenjataan (alutsista), perusahaan AS: Lokheed Martin pada 2021 menempati urutan pertama dalam omzet penjualan (60.340 juta dollar AS), disusul Retheon (41.850 juta dollar), Boeing (33.420 juta dollar), Norhrop Grumman (29.880 juta dollar) dan General Dynamics (26.360 jua dollar), lalu BAE Inggeris (26.020 juta dollar) dan Norinco China (21.570 dollar).
Pasukan Ukraina yang jauh lebih kecil dalam jumlah personil dan peralatan masih bisa bertahan bahkan mencuri-curi kemenangan melawan mesin perang militer Rusia, terutama berkat aliran persenjataan besar-besaran dari Barat.
Sebut saja rudal-rudal panggul anti tank Javelin buatan AS yang cukup ampuh melawan tank-tank T-90 Rusia atau rudal panggul Stinger untuk merontokkan pesawat terbang rendah atau helikopter.
AS a.l juga memasok sistem peluncur multi laras HIMARS, drone Kamikaze Switchblade, Ingeris meriam M777 kal. 155mm, Perancis dengan meriam Caessar ka. 155mm.
Lebih 300 unit tank-tank tempur utama (MBT) seperti Abrams M1A2 (AS), Leopard 2A6 (Jerman), Leclerc (Perancis) dan Chalenger 2 (Inggeris) yang akan dikirimkan secara bertahap, tentu juga akan menambah daya gempur pasukan Ukraina menghadapi serbuan tank-tank T-90 atau T-14 Armata Rusia.
Menurut catatan, Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) pada 2021, anggaran militer global tercatat 2,1 triliun dollar AS (Rp30.366 triliun) dimana lima negara yakni AS, Inggeris, China, India, Rusia mengambil porsi 62 persennya.
Tidak berlebihan jika perusahaan industri atau pialang persenjataan dijuluki “merchant of death” atau penjaja kematian karena yang dijual-belikan adalah alat-alat pembunuh massal. (AFP/AP/Reuters/NS)




