
DITENGAH upaya mediasi oleh para pemimpin Uni Eropa (UE), perang antara Rusia dan tetangganya, Ukraina yang sudah berlangsung sejak 24 Februari lalu diprediksi bisa berlangsung lama, bahkan tahunan.
Pasalnya, mesin perang raksasa Rusia ternyata tidak mampu melumat Ukraina dengan cepat, bahkan berkat gelontoran persenjataan dari Barat dipimpin Amerika Serikat, sampai di hari ke- 117 (20 Juni), Ukraina mampu memberikan perlawanan sengit.
Invasi militer atau Operasi Militer Khusus yang disebut Pesiden Vladimir Putin dengan mengerahkan lebih 100-ribu personil, ratusan tank, pesawat tempur, artileri dan gempuran roket serta rudal dari darat, laut dan udara menjadi perang yang mematikan.
Selain menewaskan ribuan penduduk sipil Ukrania, memporak-porandakan apartemen hunian dan berbagai sarana dan sarana publik, juga menciptakan pengungsi yang mengalir ke negara-negara sekitarnya.
Kanselir Jerman Olaf Scholz, Presiden Perancis Emmanuel Macron, PM Itali Mario Draghi dan Presiden Rumania Klaus Iohanis di tengah serangan udara Rusia, malah sempat menemui Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Kiev (16/6) untuk memberikan dukungan padanya.
PM Inggeris yang juga menyambangi Kiev dua hari setelah itu (18/6) mencemaskan, pasukan Ukraina akan kelelahan menghadapi pertempuran yang bakal berlangsung lama sehingga ia siap memberikan bantuan guna meningkatkan ketahanan strategis mereka .
Selain memuji ketangguhan pasukan Ukraina, Inggeris juga menjanjikan program latihan bagi 10.000 personil Ukraina setiap empat bulan dan akan mengintensifkan sanksi terhadap Rusia.
Sejauh ini, rudal-rudal panggul anti pesawat Stinger buatan AS dan rudal antia tank Javelin (AS) dan rudal generasi depan (Next Generation Anti Tank weapon-NLAW) buatan Inggeris-Swedia serta drone-drone Bayraktar-2 Turki cukup ampuh melawan pesawat-pesawat yang terbang rendah dan tank-tank Rusia.
Alutsista Ofensif
Kedatangan alutsista yang bisa digunakan untuk ofensif seperti howitzer M-777 buatan Inggeris dan peluncur roket ganda HIMARS (High Mobility Artilery Rocket System) buatan AS yang berjangkauan ratusan Km, diharapkan daya pukul dan juga moral pasukan Ukraina yang selama ini dalam posisi bertahan bisa meningkat.
Bagi Rusia sendiri, perang berkepanjangan selain menguras energi, beban biaya dan juga perekonomiannya yang makin memburuk akibat aksi embargo negara-negara Barat sehingga bisa berujung memicu gejolak rakyatnya.
Upaya mediasi dengan menelpon langsung Presiden Putin, juga sudah dilakukan antara lain oleh Kanselir Jerman Scholz dan Presiden Perancis Macron, namun belum terlihat ada perubahan sikapnya.
Buktinya, setelah gagal memasuki ibukota Kiev, pertengahan April lalu, Rusia memusatkan gempuran ke timur Ukraina di wilayah Donbas (Donetsk dan Luhanks) yang dikuasai kelompok separatis etnis Rusia.
Jubir Staf Umum AB Ukraina Aleksandr Shtupun mengungkapkan, artileri Rusia, Minggu (19/6) menggempur sejumlah wilyah di Provinsi Mykolayv dan Donetsk, menyasar Pryshyb dan Mayaki serta kawasan pemukiman di Lysychansk dan Borivske.
Agaknya Perang Rusia an Ukraina masih akan berlangsung lama, mengingat kesepakatan yang dicapai setelah lobi-lobi para pemimpin UE an Presiden Putin baru pada mekanisme pertukaran jenasah kedua pasukan masing-masing yang tewas. (AP/AFP/Retuers)




