Perang Saudara di Yaman Makin Ruwet

Perang saudara di Yaman tidak henti-hentinya a.l. akibat perebutan pengaruh antara Iran dan Arab Saudi dan sektarianisme lokal

ALIH-ALIH mereda,  perang saudara di Yaman yang berkecamuk sejak 1994 semakin menjadi-jadi, dan yang terakhir ditandai “pecah kongsi” antara kubu loyalis mantan Presiden Ali Abdullah Saleh dan milisi suku Houthi.

Kontak tembak pecah di kawasan elite ibukota Sana’a Minggu (3/12) antara kedua kekuatan yang semula berada di satu aliansi bersama Iran melawan kubu  Presiden petahana Abdurabbuh Mansour Hadi dukungan koalisi Arab.

Paling tidak 36 orang tewas dan 200-an terluka dalam perang kota jarak dekat di sekitar Istana, kediaman serta markas partai Kongres Rakyat pimpinan Abdullah Saleh di kota Sana’a sejak Rabu lalu (29/11).

Baik milisi Houthi mau pun kubu Abdullah Saleh sama-sama mengklaim kemenangan di palagan tersebut, namun menurut laporan media, Houthi dalam posisi menyerang dan berhasil mengepung istana serta menguasai stasiun TV.

Namun yang jelas, insiden berdarah tersebut menandai ambruknya persekutuan  antara Houthi dan Abdullah Saleh yang sudah bahu-membahu selama hampir tiga tahun melawan pasukan Presiden Mansour Hadi yang didukung koalisi Arab.

Arab Saudi sendiri masih menimbang-nimbang ajakan Abdullah Saleh termasuk persyaratan untuk membuka blokade atas Yaman dan Bandara Sana’a , mengingat sebagian kawasan kota masih di bawah kendali  pihak Houthi.

Beranggotakan sekitar 100.000 laskar, kekuatan Houthi dukungan Iran itu sangat diperhitungkan Arab Saudi, karena sudah terbukti mampu melakukan serangan rudal balistik ke wilayahnya.

Koalisi kubu Abdullah Saleh dan Houthi (sebelum pecah) menguasai Sana’a dan sebagian wilayah utara, sedangkan lawannya, kubu Mansour Hadi yang dukungan koalisi Arab mengendalikan kota Aden, sebagian wilayah timur dan selatan.

Republik Rakyat Demokrasi Yaman (selatan) dengan ibukota Aden yang beraliran Marxisme dan Republik Arab Yaman (utara) dengan ibukota Aden diproklamirkan sepeninggal penjajahan Inggeris pada 1967.

Bersatu pada 1990

Kedua pemerintah sempat bersatu pada 1990 di bawah Republik Yaman.  Abdullah Saleh yang semula presiden Yaman Utara diangkat menjadi  presiden, dan Ali Salim al-Beidh, semula presiden Yaman Selatan menjadi wapres.

Saleh dan al-Beidh “pecah kongsi” pada 1994 dan terlibat konflik yang dimenangkan Saleh, sehingga ia menjadi penguasa tunggal sampai dilengserkan pada Revolusi Arab 2011.

Saleh menyerahkan kepemimpinan Yaman pada Wapres Mansour Hadi, namun didukung Houthi (dan Iran) ia mengambil alih ibukota, Sana’a dari kekuasaan Mansour Hadi yang didukung koalisi Arab pimpinan Arab Saudi dan Al-Qaeda.

Belum ada yang kalah atau menang dalam perang saudara tersebut, selain menciptakan kesengsaraan bagi sekitar 17 juta dari total 27 juta penduduk Yaman akibat blokade darat, laut dan udara oleh koalisi Arab pimpinan Arab Saudi.

Lebih dari itu, tujuh juta penduduk Yaman terancam kelaparan, bahkan hampir satu juta diantaranya terancam wabah kolera akibat buruknya kondisi sanitasi yang sebagian besar sarananya  porak-poranda akibat perang.

Badan PBB untuk Dana Darurat Anak-anak Anak-Anak (UNICEF) mencatat, 11 juta anak-anak Yaman memerlukan bantuan darurat. Setiap 10 menit, satu anak meninggal akibat penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan vaksinasi atau hidup sehat.

Sejumlah negara termasuk PM Inggeris Theresa May menemui Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz dan Pangeran Muhammad bin Salman guna mendesak agar negara Arab itu mengakhiri blokade dan mengizinkan masuknya relawan kesana.

Perang saudara di Yaman yang terus berlarut-larut namun luput dari perhatian dunia tidak terlepas akibat perebutan pengaruh antara Iran dan Arab Saudi di kawasan itu.

Liga Arab, Dewan Teluk dan negara-negara Islam yang tergabung dalam OKI selayaknya aktif memprakasai upaya mengakhiri perang saudara di Yaman, termasuk RI, negara dengan jumlah umat muslim terbanyak di dunia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement