Perang Suku di Wamena Dipicu Sengketa Denda Adat, Belasan Tewas dan Ribuan Warga Mengungsi

JAKARTA, KBKNEWS.id – Konflik perang suku kembali pecah di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, melibatkan kelompok Suku Hubla (Kurima) dan Suku Lanny pada Jumat (15/5/2026).

Bentrokan yang berlangsung di sekitar Jalan Diponegoro dan Pasar Wouma itu menyebabkan korban jiwa, ratusan bangunan terbakar, hingga ribuan warga harus mengungsi.

Kapolres Jayawijaya AKBP Anak Agung Made Satriya Bimantara menjelaskan, konflik bermula dari persoalan pembayaran denda adat terkait meninggalnya seorang anggota DPRD Lanny Jaya akibat kecelakaan lalu lintas di Megapura, Distrik Asolokobal pada 17 Mei 2024.

Pasca kecelakaan tersebut sempat terjadi perang suku yang menewaskan tiga orang. Konflik lalu diselesaikan melalui musyawarah adat dengan kesepakatan pembayaran denda sebesar Rp2 miliar dan 30 ekor babi.

Namun saat proses pembayaran pada 6 Mei 2026, pihak Suku Lanny menilai jumlah denda yang diberikan tidak sesuai kesepakatan awal. Ketegangan pun memicu aksi saling serang.

Dalam situasi itu, puluhan warga dari Suku Lanny Jaya melintas di jembatan gantung Kali Uwe. Jembatan tersebut putus diduga akibat kelebihan beban sehingga banyak warga jatuh ke sungai dan terseret arus.

“Pada saat kejadian 6 Mei itu, warga dari Suku Lanny Jaya melintas melalui jembatan gantung Kali Uwe, namun jembatan putus dikarenakan kelebihan beban dan mengakibatkan korban jiwa,” kata Kapolres.

Insiden putusnya jembatan memicu kemarahan warga hingga bentrokan meluas. Sejumlah rumah dan honai di sekitar Kali Uwe Wouma dibakar massa.

Kepala Kantor SAR Jayapura Anton Sucipto mengatakan, dari puluhan warga yang hanyut, sebagian berhasil menyelamatkan diri. Namun 37 orang dilaporkan hilang terseret arus. Hingga kini, 19 korban ditemukan meninggal dunia, sementara 18 lainnya masih dalam pencarian.

Sementara itu, data Polres Jayawijaya mencatat perang suku menyebabkan 13 orang meninggal dunia dan 20 lainnya mengalami luka-luka akibat bentrokan yang terjadi pada 15–16 Mei 2026.

Kerusakan materiil juga cukup besar. Sebanyak 117 rumah, 63 honai, delapan ruko, satu sekolah, serta satu kantor desa dilaporkan hangus terbakar. Selain itu, 48 kendaraan roda empat dan 43 sepeda motor ikut musnah.

Akibat konflik tersebut, sekitar seribuan warga mengungsi ke sejumlah lokasi seperti gereja, Makodim 1702/Jayawijaya, dan Mako Polres Jayawijaya. Dari jumlah itu, sekitar 808 jiwa berada di lingkungan Polres Jayawijaya.

Kapolda Papua Irjen Pol Patrige Renwarin mengatakan situasi di Wamena mulai terkendali setelah Polda Papua menambah personel pengamanan. Meski demikian, aparat masih disiagakan untuk mencegah serangan susulan.

Saat ini, fokus utama aparat dan tim SAR adalah pencarian korban yang masih hilang akibat insiden jembatan putus di Kali Uwe.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here