Perang Tanpa Tentara

Perang di masa mendatang tidak memerlukan banyak tentara, memanfaatkan artificial intelligence, robotik, senjata laser atau senjata otonom lainnya yang dikendalikan dari kejauhan.

PERANG, habis-habisan sampai merenggut 50 juta nyawa di era Perang Dunia II lalu, bakal ditinggalkan, nantinya saling memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence – AI) untuk menaklukkan lawan.

Hal itu mulai tergambar paling tidak dalam konflik antara Armenia dan Azerbaijan  September lalu dimana drone-drone Bayraktar buatan Turki dan Kamikaze buatan Israel yang digunakan pasukan Azeri dengan cepat mengubah perimbangan militer di medan tempur.

Dalam perebutan wilayah kantong di Nagorno Karabakh itu, drone-drone Azeri meluluhlantakkan situs-situs rudal, bunker, kumpulan tank dan konsentrasi pasukan Armenia tanpa ampun, padahal kedua negara sempalan Uni Soviet itu memiliki arsenal alusista yang kurang lebih sama.

Contoh lain pemanfaatan robotik atau AI terjadi pada pembunuhan ahli nuklir Iran Mochsen Fakhrizadeh saat berkendara di Teheran (27/11) lalu. Begitu presisinya serangan itu, isteri korban yang berada di sisinya  selamat, hanya pengawalnya yang berusaha melindunginya terluka.

Pihak Iran menduga, serangan dilakukan dengan senapan mesin yang dipandu satelit, menggunakan peralatan khusus elektronika, kemungkinan hanya Israel yang mampu melakukannya.

Begitu dahsyatnya risko yang ditimbulkan, mendiang Stephen Hawking bersama 1.000 ilmuwan lainnya mengeluarkan petisi pada 2015 agar pengembangan AI untuk tujuan militer dilarang.

Namun nyatanya, pengembangan alat pembunuh mellaui AI terus dikembangkan, seperti dilakukan China untuk menciptakan pesawat tempur generasi keenam tanpa awak, senjata laser, alutsista berbasis elektro magnetik seperti rail gun, robot tempur otonom dan teknologi biologi seperi prostetik.

Inggeris sedang berusaha menciptakan 30.000 unit robot yang akan mendampingi tentara dan menargetkan pada 2030 nanti, milternya akan lebih banyak menggunakan peralatan otonom atau yang dikendalikan darai jauh.

Jadi, dalam pertempuran di masa mndatang, bisa jadi bangunan masih kokoh, tetapi tentara yang mempertahankannya lumpuh, buta atau tewas, tergantung yang dikehendaki lawan.

Jadi tidak ada lagi  ratusan ribu pasukan didukung ratusan kapal dan pesawat udara seperti dalam operasi pendaratan pasukan sekutu di Normandia, Perancis  atau di Okinawa, Jepang seperti terjadipada PD II lalu.

Semua cukup dilakukan robot-robot pasukan, drone, pesawat tempur tanpa awak dan rudal-rudal jelajah yang dikendalikan dari satelit atau dari kejauhan.

Itu sebabnya, Human Right Watch (HRW) mendesak perlunya pembentukan pakta internasional guna menghentikan perlombaan alutsista otonom atau  robot pembunuh.

Untuk apa menciptakan alat pembunuh terhadap satu dan lainnya, lebih baik umat manusia dunia bersatu, mengulurkan tangan dan empati pada sesamanya dan membangun dunia yang penuh damai dan saling pengertian. (Berbagai sumber/ns)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement