
IRAN sejak Jumat malam (13/6) telah meluncurkan 400-an rudal balistik ke sejumlah target di wilayah Israel termasuk kota terbesar dan bekas ibu kota, Tel Aviv dan kota pelabuhan Haifa.
Sengatan rudal rudal Iran dalam konflik kali ini sebagian ternyata lolos dari cegatan sistem anti rudal Israel berlapis-lapis mulai dari Iron Dome, sistem Arrow dan David Sling’s buatannya, serta Terminal High Area Defence (THAAD) buatan Amerika Serikat.
Iron Dome atau Kubah Besi dirancang untuk mencegat roket dan artileri jarak pendek dengan jangkauan 70 kilometer, bekerja dengan cara mendeteksi rudal atau roket yang diluncurkan musuh.
Menurut ABC News, sistem ini akan menganalisis potensi jatuhnya rudal atau roket dan dampaknya. Jika dianggap mengancam, sistem akan meluncurkan rudal pencegat Tamir untuk menghalau atau menghancurkannya.
Satu set Iron Dome terdiri tiga atau empat baterai peluncur rudal pencegat berisi 20 rudal pencegat.
Meski dikenal canggih, Iran Dome ternyata juga bisa kewalahan yakni ketika digempur secara bersamaan dengan intensitas tinggi, atau bisa jadi rudal-rudal yang diluncurkan Iran sejak Jumat lalu, mampu mengecoh pendeteksi keempat sistem tersebut.
Analis senior di Australian Strategic Policy Institute, Malcolm Davis, mengira, jumlah rudal pencegat Iron Dome terbatas sehingga diserang rudal lawan secara salvo, bersamaan dan dalam jumlah lebih banyak bakal keteteran atau jebol juga.
“Jadi salah satu cara untuk mengalahkannya adalah dengan membuatnya kewalahan. Ini adalah kelemahan sistem pertahanan udara mana pun,” ujar Davis pada Oktober 2023, dikutip ABC.
Sistem pertahanan lainnya yang diaplikasikan Israel adalah rudal pencegat rudal jarak pendek dan menengah yang disebut David’s Sling. Cara kerjanya dengan pencegat hit to kill untuk menghalau target sejauh 299 km.
Sedangkan Arrow 2 menggunakan hulu ledak terfragmentasi untuk menghantam rudal balistik yang masuk ke fase terminal, menghunjam ke target, sedangkan Arrow 3 menggunakan teknologi hit to kill untuk mencegat rudal balistik yang datang di luar angkasa, sebelum memasuki atmosfer menuju sasaran.
Yang termahal sistem pertahanan udara THAAD pasokan AS yang dirancang untuk melumpuhkan rudal lawan saat mencapai terminalnya di uar atau di dalam atmosfir menggunakan tumbukan kinetik.
First Post, Army Technology, Teheran melaporkan (18/6), Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengonfirmasi telah meluncurkan rudal hipersonik Fattah-1 pada Rabu (18/6/2025) dini hari, yang diklaim sebagai senjata tercanggih dalam gudang misil Teheran saat ini.
Rudal ini disebut-sebut memiliki kecepatan luar biasa, kemampuan manuver tinggi, dan mampu menembus sistem pertahanan rudal paling canggih sekalipun. “Fattah adalah pemukul Israel,” tulis IRGC dalam pernyataan saat rudal ini pertama kali diluncurkan secara publik pada 2023.
Saat itu, sebuah spanduk besar di Teheran bahkan menampilkan pesan dalam bahasa Ibrani, “400 detik menuju Tel Aviv,” mengisyaratkan kecepatan dan jangkauan rudal tersebut.
Spesifikasi Rudal Fattah-1 Fattah, yang berarti “sang penakluk” dalam bahasa Arab, merupakan rudal balistik hipersonik pertama buatan Iran.
Disebut hipersonik karena mampu mencapai kecepatan Mach 5 atau lima kali kecepatan suara—sekitar 6.100 kilometer per jam.
Dikembangkan oleh Divisi Dirgantara IRGC, rudal ini diklaim mampu menembus perisai rudal canggih seperti Iron Dome dan Arrow milik Israel.
Menurut laporan Iran Watch, rudal ini menggunakan bahan bakar padat dan sistem pendorong satu tahap, dengan jangkauan hingga 1.400 kilometer. Fattah juga dilengkapi dengan nozel bergerak pada tahap kedua mesin roketnya, yang memungkinkannya bermanuver secara lateral (kiri-kanan), vertikal (atas-bawah), bahkan berputar di luar angkasa. Teknologi ini memungkinkan rudal untuk menghindari intersepsi saat mendekati target.
Selain Fateh1, Fateh 2 dan Fateh 3, Iran juga masih memiliki lebih 3.000 buah rudal rudal balistik lainnya seperti Emad, Ghadr, Kheibar yang diklaim mampu menjangkau Israel.
Balas membalas serangan berlangsung sejak Jumat lalu sampai hari ini. Kedua belah pihak memanfaatkan keungulannya masing-masing.
Israel yang memiliki supremasi di udara mengandalkan pesawat siluman F-35 Lightning, F-15 Eagle dan F-15 EX Strike Eagle serta berbagai varian F-16 Fighting Falcon dan didukung jaringan mata-mata yang handal berhasil menewaskan sejumlah petinggi AB dan Satuan Garda Revolusi (IRGC) Iran dan situs situs nuklir serta kilang minyak.
Sebaliknya, sistem pertahanan udara berlapis Israel berhasil ditembus rudal-rudal Iran sehingga menimbulkan sejumlah kerusakan di Tel Aviv, kota peabuhan Haifa dan sejumlah wilayah lainnya.
Israel masih memiliki 80 sampai 200 kepala nuklir yang sewaktu-waktu digunakan jika kepepet, sebaliknya, masih ada ribuan buah stok rudal balistik Iran yang dapat digunakan untuk mengguyur Israel.
Semoga konflik Iran vs Israel tidak menyeret negara adi daya seperti AS, Rusia dan China, karena jika itu terjadi, akan membawa umat manusia menuju kehancuran,
(First Post/Iran Watch/ns)




