Perbedaan Longsor Ponorogo dan Nganjuk

Ilustrasi/DD

SURABAYA –  Longsor yang terjadi di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo berbeda  dengan longsor yang terjadi di Desa Kepel, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk jika dikaji dari penyebabnya.

Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengungkapkan  longsor yang terjadi di Ponorogo disebabkan oleh tanahnya subur dan mengandung humus. Akibatnya, tanah itu digunakan masyarakat untuk ditanami berbagi macam tanaman tanpa akar tunjang

“Masalahnya penduduk kita ingin bertani dengan tiga bulan panen. Setiap lahan yang tanaman tegakkannya tidak ada ditanamai jahe, dan kentang seperti kasus di Batu,” ujarnya, Senin (10/4/2017).

Karena itu, dia mengusulkan untuk memberikan tanaman tegakkan atau tanaman yang berakar tunjang di setiap 10 meter untuk menahan air dan tanah.

Sedangkan longsor di Kabupaten Nganjuk, terjadi akibat tanahnya terlalu subur dan mengandung banyak air, sehingga akar pohon tidak kuat menahan beban air yang akhirnya longsor.

“Tanaman di sana itu jenisnya sudah jati, akasia, mangga, mahoni, dan sengon jenis tanaman yang bisa menahan longsor, ” ujarnya.

Karena itu, sebetulnya tanah yang longsor di Nganjuk sudah memiliki penahan yang kuat dari tanaman yang bisa menahan longsor, “Tapi karena airnya terlalu banyak, akar pohon tidak kuat menahan beban air yang akhirnya longsor,” katanya, seperti diberitakan Tribun Jatim.

Kondisi tersebut diperparah dengan adanya sungai dimana tanamannya sekitar aliran sungai di lokasi berupa semak belukar ditambah adanya tanaman padi, cengkeh di lahan dekat sungai sehingga bisa memperbanyak kandungan air yang ada di dalam tanah.

 

Advertisement