
INGAT Margareth Thatcher? Perempuan dengan julukan “Iron Lady” ini adalah politisi terlama yang menjabat perdana menteri Inggeris (1979 – 1990) yang juga pertama kalinya dijabat oleh perempuan.
Terlepas dari setuju atau tidak setuju, Ia berpendirian teguh untuk tidak meleburkan satuan mata uang Inggeris Pound Sterling menjadi Euro seperti dilakukan oleh 11 negara Eropa lainnya pada 1999.
“Menyerahkan kedaulatan (termasuk mata uang-red) Inggeris ke Eropa? Tidak…. ….tidak ….. tidak,” katanya saat berpidato di depan Parlemen (House of Commons) saat itu.
Enam tahun setelah kepergian si “wanita besi” itu pada 2013, rakyat Inggeris sedang di tengah proses Brexit, hengkang dari Uni Eropa sesuai dengan hasil referendum yang digelar sebelumnya yang dimenangkan kubu yang menolak keanggotaan Inggeris di Uni Eropa.
Legasi lain yang ditinggalkan oleh Thatcher yang diulingkan sebagai ketua Partai Konservatif dan PM setelah berkuasa sebelas tahun sampai 1990 adalah ketegasannya mengusir Argentina yang menduduki Pulau Malvinas atau Falkland dengan kekuatan militer pada 1982.
Tokoh perempuan lain walau tidak sefenomena Thatcher adalah Angela Merkel (65) yang sejak 2005 sampai kini masih menjabat kanselir Jerman, pimpinan Partai Demokrat Kristen (CDU) dan pernah menjabat sejumlah pos menteri dan juga Presiden Dewan Eropa.
Eropa juga mengukir sejarah baru dengan terpilihnya kaum perempuan untuk pertama kalinya menteri pertahanan Jerman, Ursula von der Leyen (60) sebagai Presiden Komisi Eropa Rabu pekan lalu (17/9).
Yang menarik, penggantinya, Menhan Jerman yang baru juga perempuan, yakni Annegret Kramp-Karrenbauer (56) atau dijuluki AKK.
Sementara von der Leyen yang lahir di Brussel, Belgia merupakan sohib Merkel yang sebelumnya menjadi menteri pertahanan perempuan pertama di Jerman dan menduduki kabinet di era Merkel selama hampir 14 tahun.
Sebagai orang nomor satu di Komisi Eropa, von der Leyen akan bahu membahu dengan perempuan lainnya, Christine Lagarde (60) yang saat ini menjabat Presiden Bank Sentral Eropa.
Lagarde juga memiliki seabrek jabatan penting, antara lain sebelumnya menjabat Dana Moneter Internasional (IMF) dan pernah menteri perdagangan Perancis yang sukses mengatrol ekspor negara itu.
Ke depannya, AKK dari CDU yang kemungkinan bakal digadang-gadang menjadi Kanselir Jerman, von der Leyen dan juga Lagarde diharapkan tampil sebagai tiga serangkai perempuan tangguh menghadapi berbagai persoalan dan tantangan di Eropa. (NS/berbagai sumber)




