SIGI (KBK) – Memperingati Hari Kesehatan Nasional ke 48, Dompet Dhuafa – PERDOSRI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia) memberikan layanan kesehatan untuk penyintas Gempa Sulawesi Tengah.
Demikian disampaikan PJ Peringatan HKN Dompet Dhuafa di Pos Penyintas Gempa Sulawesi Tengah dr. Pradipta Syuaraf kepada KBK, Senin (12/11/2018). Acara dilaksanakan di Klinik Darurat Dompet Dhuafa dan Masjid Darurat Dompet Dhuafa, Desa Lolu, Kecamatan Sigi Biromaru, Kab. Sigi. Sulawesi Tengah, dimulai pukul 09.00 s.d 15.00 WIB.
Dikatakan dr. Pradipta, aksi yang dilasakanan bersama Dompet Dhuafa dan PERDOSI adalah memberikan pelayanan kesehatan umum untuk penyintas, pemeriksaan Tensi dan Gula Darah, Pelayanan Kesehatan Spesialis Rehabilitasi Medik, Pemberian Hygiene Kit dan dukungan Psikososial dan Psychological First Aid.
“Rangkaian kegiatan ini dimulai Senin, 12 Nov 2018 s.d 14 Nov 2018 dengan sasaran masyarakat umum pengungsi, pengungsi korban fisik bencana, pengungsi yang sudah dioperasi pasca bencana, pengungsi dengan masalah keterbatasan gerak tubuh karena Stroke atau penyakit lainnya dan pengungsi yang kehilangan anggota gerak tubuhnya karena bencana,” jelas dr. Pradipta.
Dijelaskannya, kedokteran Fisik adalah penggunaan modalitas fisik seperti cahaya, panas, dingin, air, listrik, pijat, manipulasi, latihan dan alat-alat mekanik untuk tujuan diagnostik dan terapeutik seperti terapi fisis, terapi okupasional, dan rehabilitasi fisis.
Semetara itu, lanjut dr. Pradipta, Rehabilitasi merupakan penerapan ilmu kedokteran fisik dan teknik untuk membantu pasien mencapai fungsi maksimal dan penyesuaian dirinya secara fisis, mental, sosial dan vokasional untuk mencapai kehidupan yang lengkap sesuai dengan kemampuan dan disabilitasnya.
“Gempa Tsunami dan Likuifaksi di Palu, Sigi dan Donggala banyak korban mengalami luka fisik sehingga berdampak pada menurunnya fungsi tubuh. Misalkan tertimpa bangunan rubuh sampai dengan akhirnya kaki-nya harus diamputasi. Maka untuk mengembalikan fungsi tubuh agar korban bisa kembali beraktivitas dengan kondisi tidak memiliki satu kaki diperlukan upaya rehabilitasi medik sehingga bisa beraktivitas seperti sedia kala dengan modifikasi, misal menggunakan tongkat/kaki palsu,” terang dr Pradipta.
Atau ada kasus stroke, lanjutnya, walau tidak secara langsung diakibatkan oleh bencana, ketika itu menimpa pengungsi maka seketika pengungsi tersebut menjadi tidak bisa beraktivitas seperti biasanya. Maka dibutuhkan upaya rehabilitasi medik untuk mengembalikan fungsi tubuh nya yang lemah dengan latihan fisioterapi yang rutin sehingga kualitas hidupnya pelan pelan meningkat.
“Karena itulah PERDOSRI hadir untuk memberikan bantuan pelayanan spesialistik kepada korban bencana yang membutuhkan. Harapannya dengan pelayanan yang lebih komprehensif para pengungsi bisa meningkat Quality of Life nya,” tutup dr. Pradipta.





