
NEW DELHI – Radhika (14) dan Yoshada (16), kakak beradik dari desa di pegunungan Himalaya harus menempuh perjalanan selama enam jam untuk bolak-balik menuju sekolahnya melalui daerah pegunungan yang berbahaya.
Jarak yang jauh dan memakan waktu yang banyak tidak dihiraukan keduanya yang ingin mengenyam pendidikan dengan sungguh-sungguh.
Setiap hari mereka melakukan perjalanan melalui pegunungan, hutan lebat serta kereta gantung di atas sungai yang deras.
Mereka adalah dua dari enam anak yang melakukan perjalanan berisiko ke sekolah dari rumah mereka yang berada di tempat terpencil.
Trek yang mereka lalui dapat ditempuh antara dua sampai tiga jam, satu kali jalan, tergantung dari cuaca. Namun inilah satu-satunya cara untuk mencapai kota Maneri dan Malla, tempat anak-anak perempuan ini sekolah.
Tidak ada jalan masuk ke Syaba. Mereka melalui jalan-jalan sulit ini sambil membawa bekal makan siang berupaya kari sayur dan juga buku-buku sekolah. Jalur yang mereka lalui termasuk jalan setapak sempit dan juga berbatuan.
Salah satu yang yang paling sulit adalah melintasi Sungai Bhagirathi dengan kereta gantung. Mereka harus menarik tali kereta gantung itu sendiri untuk menyeberang.
Tentunya perlu tenaga yang kuat, apalagi bila hujan dan tali lebih berat untuk ditarik. Luka-luka akibat tarikan tali ini lumrah terjadi. Penduduk desa bahkah ada yang kehilangan jari karena kabel kereta gantung.
“Kami harus berpegangan erat di kereta agar kami tak jatuh,” kata Yoshada, dilansir BBC, Kamis (12/10/2017).
Begitu mereka tiba di sisi utara Sungai Bhagirathi, mereka menunggu angkutan yang membawa mereka ke sekolah.
Hutan yang lebat juga merupakan bahaya tersendiri karena Beruang dan macan tutul pernah dilihat sanak saudara dan tetangga mereka.
Di Pegunungan Himalaya Uttrakhand, terdapat sekitar 200 desa seperti Syaba, yang terletak sekitar 400 kilometer dari Delhi. Sejumlah desa dapat dilalui dengan jalan darat, namun sebagian besar hanya dapat dilalui dengan jalan kaki.
Keduanya rela berjalan sejauh itu untuk mewujudkan mimpi dan cita-citanya, dimana Yashoda ingin menjadi polisi, sementara Radhika ingin menjadi guru dan mereka tak ingin nikah muda seperti orangtuanya.




