Rindu tak terkira dirasakan Harini (24). Jutaan kilometer ia terpisah dari keluarga dan sanak famili untuk menunaikan tugas. Sejak tahun 2014 hingga 2015 ia mendapat panggilan mulia mengajar di daerah perbatasan Sebatik. Tidak adanya listrik dan sinyal membuat handphone yang Ia bawa tak dapat menjadi obat penyembuh rindu. Lokasi tempatnya tinggal dan mengajar sangat jauh dari pusat kota. Belum lagi tidak adanya kendaraan umum memaksanya harus menahan keinginan bercengkrama dengan keluarga, meski via duania maya.
“Di sana tidak ada kendaraan umum. Yang ada hanya sewa kendaraan seperti taksi, jarak terdekat saja harus siapin uang Rp 50 ribu,” ujarnya.
Ketika malam datang, hanya ada suara jangkrik yang menjadi hiburan baginya. Cahaya yang berasal dari lilin pun andalan satu-satunya untuk menerangi saat memeriksa soal yang diberikan kepada 127 siswanya. “Pas pertama kali saya datang awalnya kaget, karena kan belum ada teman, dan saya tinggal di rumah sendirian saat itu,” jelas Rini.
Sulitnya air bersih juga menjadi tantangan selama satu tahun mengabdi di perbatasan Indonesia-Malaysia tersebut. Jika hujan dating, Rini tak mau kehilangan kesempatan untuk segera menampung air yang turun dari langit. Pasalnya untuk mendapatkan air, dirinya harus mengambil dari sungai yang cukup jauh. Air dari sungai pun tidak jernih.
“Airnya keruh seperti warna susu coklat. Itu tantangan untuk saya. Sulit cuci baju dan mandi. Untuk bersih saja saya sudah senang,” katanya.
Dikatakannya, perjudian sabung ayam dan balap liar disana sangat digemari masyarakat. Lebih mengkhawatirkan lagi, hampir semua siswanya pelaku perjudian. Bahkan tak jarang di antaranya adalah joki balap liar. Kapasitas Rini memang hanya sebagai guru Bahasa Inggris. Namun melihat hal tersebut, batinnya tergerak untuk menyadarkan anak didiknya agar tidak lagi terlibat dalam perjudian.
Cukup sulit, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menghilangkan kebiasaan buruk tersebut. Sebagai pendatang, ucapan Rini tidak serta merta langsung diterima hati anak didiknya. Akhirnya dengan program Istana Anak, dirinya mencoba mengalihkan perhatian anak-anak dari kegemaran mereka berjudi sabung ayam dan balap liar.
Setidaknya empat kali dalam seminggu kegiatan parenting tersebut dilaksanakan. Tepatnya pada sore hari ketika sabung ayam dan balap liar dilaksanakan. Mereka diajari pelajaran tambahan serta kegiatan positif lainnya. “Sedikit demi sedikit akhirnya anak-anak tidak lagi sabung ayam dan balap liar,” pungkasnya.
Setidaknya 70 persen anak didiknya merupakan anak dari Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Malaysia. Butuh waktu dua jam berjalan kaki untuk menuju sekolah dari tempat mereka tinggal di Malaysia. Hal tersebut tampaknya mempengaruhi rasa nasionalisme anak-anak tersebut. Rini cukup sedih mendapatkan anak-anak tidak tahu mata uang Rupiah. Bahkan yang lebih memilukan, mereka tidak ada yang bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Selama satu tahun di sana Rini mencoba mengajarkan mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya yang benar. “Pas saya mau pulang baru mereka bisa menyanyi Indonesia Raya,” ucapnya.
Dirinya menambahkan, pola mendidik guru-guru lokal di Sebatik sangat keras. Tak jarang perlakuan kasar terhadap murid harus ia lihat setiap hari. Bahkan sering pula Ia dapati muridnya yang terluka akibat sabetan rotan atau sapu lidi. Ucapan yang dilontarkan oleh guru kepada murid yang salah pun tidak sedap didengar. “Sangking seringnya, obat antiseptik persedian saya habis untuk anak-anak,” jelas Rini.
Hal tersebut menjadi kendala baginya. Pasalnya anak-anak yang terbiasa diperlakukan dengan cara keras sulit menerima arahan darinya yang cenderung lembut. Seperti air yang menetesi batu setiap hari, Rini mencoba tetap memberikan materi pembelajaran denga cara lembut. Dirinya paham jika anak-anak diperlakukan dengan cara keras, tidak memberikan hal positif bagi anak. Anak-anak, tambahnya, akan menjadi pribadi yang buruk jika diperlakukan dengan kasar.
“Masuknya saya dengan cara mencuri hati mereka,” ujar alumni Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa tersebut.
Dikatakannya, peran pemerintah sudah cukup baik di sana. Ada banyak fasilitas yang tersedia di sekolah. Akan tetapi alat-alat tersebut belum dimaksimalkan oleh guru lokal. “Anak-anak itu seperti mutiara, digosok sedikit sebenarnya bisa pintar, tapi kita harus tau gimana cara menggosoknya,” pungkasnya. (mir)





