Perlombaan Senjata Tidak Terhindari

anggaran militer dunia melonjak akibat konflik dan potensi konflik khususnya konflik Rusia dan Ukraina dan di kawasan lain.

KONFLIK dan potensi konflik kawasan yang bisa menyeret kekuatan global mau tidak mau memicu sejumlah negara untuk menaikkan anggaran militernya.

Institut Riset Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI) (24/4) menyebutkan, Amerika Serikat, China dan Rusia menyumbang lebih separuh (56 persen) kenaikan anggaran militer global 2022 sebesar 3,7 persen dari 2,0 triliun menjadi 2,24 triliun dollar AS.

Lonjakan 13 persen anggaran militer di kawasan Eropa dibukukan oleh Rusia yang melancarkan invasi ke negara tetangganya, Ukraina sejak 24 Feb. 2022 dan Ukraina yang memerlukan lebih banyak alutsista untuk menghadapi Rusia.

Konflik di Ukraina, mau tidak mau juga mendorong peningkatan anggaran militer negara-negara di sekitarnya seperti Finlandia (36 persen), Lithuania (27 persen), Swedia (12 persen) dan Polandia (11 persen).

AS masih menempati negara dengan anggaran militer terbesar dunia yang pada 2022 mengalokasikan 877 miliar dollar AS (sekitar Rp 13.155 triliun dengan kurs USD1 = Rp15.000) atau 39 persen dari total anggaran militer global.

China yang menempati posisi kedua, mengalokasikan 292 miliar dollar AS (Rp4.380 triliun), sedangkan Rusia di ranking ke-3  dengan anggaran 86,4 miliar dollar AS (sekitar Rp1.296 triliun).

Selain perang di Ukraina yang belum ada tanda-tanda mereda, bahkan melibatkan lebih dalam AS bersama kekuatan Pakta Pertahanan atlantik Utara (NATO) dengan 31 anggotanya, potensi konflik di Selat Taiwan antara China dan Taiwan serta aktivitas China di Laut China Selatan (LCS) juga mendorong negara-negara di sekitarnya memperkuat diri.

Bahkan Australia, mengatur ulang belanja pertahanannya untuk mengimbangi China di LCS yang juga proakktf menawarkan kerjasama keamanan dengan sepuluh negara di Pasifik selatan.

Selain membentuk aliansi pertahanan bersama AS dan Inggeris (AUKUS), Australia membeli delapan kapal selam bertenaga nuklir dari AS dan bekerjasama dengan Inggeris untuk pembuatan kapal selam, sistem peluncur rudal jarak jauh (HIMARS) dengan AS.

RI sendiri dengan anggaran belanja militer RP 134,2 triliun pada 2022 belum mampu untuk memenuhi seluruhnya kekuatan minimal esensial (MEF)  yang diperlukan.

Sesuai dengan adagium lawas: “Si Vis Pacem para Bellum” atau siapa yang cinta damai, harus siap berperang, tentunya TNI harus terus meningkatkan kemampuannya terutama menghadapi potensi konflik di LCS.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement